Saktah #39 : Payung Agung

7K 859 83
                                        

Ternyata hidup bukan hanya perkara benar atau salah tapi harus beretika juga. Apa yang tidak aku sukai bukan berarti itu salah dan apa yang aku senangi bukan berarti itu benar.

Aku belajar banyak dari Mas Iyas, dia lebih mementingkan etika daripada egoku yang tak berdasar. Bukan hanya sekali dua kali aku menunjukkan rasa cemburuku pada Fathin, tapi itu tidak pernah merubah hubungan baiknya dengan gadis itu. Dia tetap membalas pesan gadis itu tapi baiknya Mas Iyas, dia selalu terbuka denganku perihal Fathin.

Biasanya jika wanita cemburu, lelaki akan menjauhi sumber cemburu itu tapi tidak bagi Mas Iyas, dia tetap mempertahankan silaturahmi itu karena baginya hubungannya dengan Fathin hanya sekedar teman, dia meyakinkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih antara mereka.

Awalnya kesel sih, tapi lama-lama aku menerima bahwa dunia Mas Iyas bukan hanya tentangku, dia juga butuh bersosial, lagian juga dia tidak pernah menyembunyikan apapun tentang Fathin. Sebenarnya gadis itu gadis yang baik dan pekerja keras, hanya saja waktu itu dia hadir ketika aku dan Mas Iyas sedang menjauh, makanya di pikiranku dia yang akan lebih cocok mendampingi Mas Iyas, jadilah cemburu. Wajar kan?

Sampai akhirnya ada satu hal yang membuat aku bisa membuang jauh rasa cemburuku dengan Fathin. Mas Iyas berkomunikasi dengan Fathin hanya jika dia punya waktu luang, tapi jika dengan ku dia bisa kapanpun, bahkan kadang sengaja meluangkan waktu untukku, jadi apalagi yang harus aku khawatirkan? 

Bedakan ya! Orang yang menyapamu di waktu luang sama orang yang meluangkan waktu untuk menyapamu. 

Seharusnya dari hal itu aku tau bedanya posisiku dan Fathin di hati Mas Iyas.  Berserah diri saja dan selalu berpikir positif, yakin Allah akan selalu menjaga kami.

"Coba lihat, Mbak! Awannya bentuk lafadz Allah nggak sih?" Kia memekik kegirangan ketika di sela-sela acara simaan rutin di pondok putri dia melihat pemandangan langit dari jendela dan mendapati sebuah awan yang memang menyerupai lafadz Allah.

"Mirip," jawabku singkat.

Azkia mendengus melihat aku yang tak se-antusias dia dan beberapa santri yang kini sudah mengintip di jendela, mengagumi sesuatu yang menurut mereka adalah keajaiban dari Allah. Berulang kali mereka bergumam memuji Allah, aku jadi geli sendiri melihat tingkah mereka.

"Padahal kehadiran awan setiap harinya juga merupakan keajaiban dari Allah, kadang malah ada yang bentuknya domba, wayang, tangga dan lainnya, tergantung yang lihat aja! Seharusnya kalau mau muji Allah ya tiap hari." ucapku.

Dan setelah mengucapkannya aku malah jadi bingung sendiri melihat santri-santri tersenyum kaku sambil satu persatu kembali ke tempat duduk mereka. Aku salah bicara ya?

Aku menoleh pada Kia yang kini sudah tertawa. "Menyebalkan kamu, Mbak! Udah persis dengan Mas Ilyas, sekali ngomong langsung nyenggol mental orang!"

"Masa sih, Ki?"

Adik iparku itu mengagguk lagi untuk meyakinkan. "Lama-lama beneran mirip, ketularan kamu, Mbak!"

Aku tanggapi dengan tawa gurauan Kia, kalaupun benar ya nggak heran sih, orang aku udah jadi pengikut setianya sejak kecil.

Kia baru berhenti menggodaku ketika Simbah Arina hadir kembali di majelis simaan yang dilaksanakan di mushola ini. Acara ini memang rutin dilaksanakan setiap sebulan sekali tapi kali ini agak sedikit spesial karena ditambah simaan dalam rangka menyambut acara pernikahan Kia, walaupun aku yakin dia tidak merasa spesial sedikitpun.

Aku selalu merasa antusias mengikuti acara simaan seperti ini walaupun posisiku hanya sebagai penyimak. Sejak masih mondok dulu, aku senang dan betah nyimak teman-teman yang sedang murojaah atau pas acara begini, bermodal kopi dan camilan tentunya.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang