Sejak dulu sebenarnya aku ingin sekali merubah gaya hidup yang tak sehat ini. Tidur di atas jam dua, bangun untuk shubuh habis itu tidur lagi sampai siang.
Semua itu karena aku bisa mengatur pekerjaan dan kegiatan semauku. Memilih jam mengajar di siang hari juga memilih waktu mengajar santri di sore hari.
Begitu terus rute keseharianku. Siang sampai sore full mengajar di kampus dan madrasah diniyah pesantren, malam nggembel bersama Rey, dini hari baru tidur. Pagi kalau ada keperluan ya dijalankan, kalau enggak ya tidur lagi.
Terlebih lagi saat ini sepupuku itu, Si Rey, sedang dalam fase patah hati paling dalam karena ditinggal nikah seseorang yang sejak kecil teramat dia inginkan. Tambah lagi jam nggembelnya. Sering aku menemani dia begadang, bahkan dia sampai tidak tidur.
Kalau ditanya nikmat enggak pola hidup seperti itu, ya pasti nikmat. Tapi lama kelamaan aku merasa hariku lebih banyak terlewati dengan kesia-siaan daripada manfaatnya.
"Mas Ilyas jadi pergi?" Azkia masuk ke kamarku tanpa permisi.
"Jadi. Kenapa?"
Adikku itu meringis lebar sambil mengusap tanganku. "Nitip beliin hardisk, tapi pakai uang Mas Ilyas."
Aku bergumam untuk menjawabnya. Begitu saja sudah membuatnya girang banget. Entahlah umi dan abi sejak dulu amalannya apa aja sehingga menjadikan aku seorang kakak yang baik hati dan sholeh, sampai nggak pernah bisa menolak permintaan adiknya.
"Ya udah sana cepetan mandi! Udah siang ini!" ujar Azkia lagi.
"Nggak mandi, takut kena penyakit ain!"
Azkia menatapku penuh keheranan. "darimana asalnya mandi bisa bikin penyakit ain?"
"Bisa lah! Kalau mandi kan jadi wangi dan bersih, kalau bersih aku jadi tambah ganteng. Kalau aku ganteng nanti orang-orang yang lihat akan punya perasaan iri terus muncullah itu penyakit ain!"
Tanpa segan Azkia memukulku dengan bantal. "Mas udah mulai nggak bener ini! Harus segera nikah!"
Aku balas perbuatannya dengan menarik ujung jilbabnya hingga rusak. "Hidup nggak hanya tentang nikah!"
Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi karena Azkia sudah teriak-teriak tidak terima jilbabnya rusak. Kalau sudah begitu ujungnya pasti ngadu ke umi.
Singkat cerita, setelah segala persiapanku yang kilat, siang ba'da dzuhur ini aku sudah berada di pusat perbelanjaan. Tujuan utama bertemu dengan teman yang punya usaha furniture, rencana akan memesan semua keperluan isi panti padanya. Rey yang lebih banyak ngobrol, karena dia yang paling banyak stok kosakatanya, aku menyimak saja, jika Rey udah mulai ngawur baru aku ikut bersuara.
Selesai urusan pertama, aku dan Rey bergeser ke toko elektronik. Aku mencari hardisk pesanan Azkia sedangkan Rey sibuk mencari lampu emergency.
"Buat apaan beli lampu beginian?"
Rey tersenyum lebar, jangan dibayangkan senyumnya manis. Enggak sama sekali.
"Buat Kak Alea, besok aku mau berangkat jadi relawan, kalau mati listrik nggak bisa teleponan nemenin dia, jadi aku tinggalin lampu ini."
Aku cukup syok mendengar jawaban Rey. Ini anak kenapa nggak ada takutnya sih gangguin istri orang?
Jadi Alea itu juga sepupuku dari jalur abi, kalau Rey dari jalur umi. Rey dan Alea, dua anak yang sejak kecil tak pernah berpisah, tapi sayang, setelah dewasa Alea dijodohkan dengan orang lain. Tapi watak-watak anak sableng kayak Rey, nggak akan mundur begitu saja walaupun Alea sudah jadi istri orang.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
