Saktah #7 : Puasa Daud

5.5K 851 149
                                        

"Kelas sore ini membahas tentang syarat sujud yang harus dipenuhi agar sholat kita menjadi sah,"

Setelah selesai memaknai kitab matan, aku mencoba mengurai maknanya bersama santri-santri. Walaupun posisiku duduk di depan, bukan berarti aku lebih menguasai, tapi sebenarnya aku juga sedang belajar bersama mereka.

"Syarat pertama, sujud haruslah menempelkan 7 anggota badan pada tempat sujud, apa saja itu? Ada dahi, telapak tangan kanan dan kiri, lutut kaki kanan dan kiri, sama bagian dalam jari kanan dan kiri." Aku meneruskan penjelasan sambil menunjuk bagian-bagian yang aku sebutkan tadi.

Aku menggeser meja yang berada tepat di depanku agar santri-santri bisa melihat dengan jelas sesuatu yang ingin aku praktekan. "Ini yang masih sering terlewatkan, biasanya kita sujud tidak menempelkan bagian dalam jari kaki, alias tidak mancat. Tau arti mancat nggak ya? Banyak ini yang luar Jawa?"

Beberapa santri yang berasal dari luar Jawa mengangkat jarinya.

"Ahmad! mancat apa Mad? Coba terangkan sama temannya yang luar Jawa!"

Seketika suasana kelas menjadi gaduh, santri yang baru saja aku panggil tadi terlihat kaget karena sejak tadi terlihat mengantuk.

"Mancat is jarinya nekuk!" jawab Ahmad dengan benar tapi tetap saja tidak menyelesaikan masalah.

Aku menenangkan santri-santri agar kembali fokus mengaji. "mancat itu seperti ketika sedang berjinjit, posisi jari-jari kaki tertekuk. Nah ketika sujud dalam sholat, jangan lupa jari kakinya ditekuk, karena itu syarat sempurnanya sujud, agar sholat kita sempurna juga." terangku sambil mencontohkan posisi jari kaki yang benar ketika sujud.

"Dulu saya kecil kalau pas sujud kok kakinya nggak mancat, kebetulan abi lihat, pasti disentil telapak kakinya. Karena apa? Ya karena itu memengaruhi sah tidaknya sholat. Bisa dipahami ya?"

"Bisa, ustadz!!!"

"Alhamdulillah. Kemudian lanjut syarat kedua, ketika sujud dahi harus terbuka, tidak sah jika terhalang suatu benda, misal peci atau mukena. Makanya, bagi kita laki-laki, peci agak ditarik mundur sedikit biar tidak menghalangi dahi kita ketika sujud. Dan kalau ada yang punya saudara perempuan, atau ibu kita, atau nanti suatu saat istri kita, dikasih paham dengan lembut, memakainya jangan terlalu maju menutupi dahi, agak mundur sekiranya cukup menutupi rambut, jangan sampai juga mukena berkibar menghalangi dahi ketika sujud, maka untuk lebih hati-hatinya, disarankan wanita memakai mukena yang model terusan. Nah diingat, nanti kalau cari seserahan mukena, yang model terusan aja!"

"Roman-romannya ustadz udah siap-siap beli mukena terusan ini!" Ahmad kembali berulah.

"Insyaallah mukena, sajadah, dan lainnya udah siap. Tinggal cari calonnya!" candaku dan langsung membuat kelas kembali gaduh. Ngaji juga harus diselingi candaan, biar nggak spaneng.

Candaan bagi mereka, derita bagi aku! Halah!!!

Aku segera menghentikan kegaduhan santri-santri putra tingkat tsanawiyah ini, karena aku yakin suara gaduhnya sudah sampai kelas sebelah. "Lanjut ya!"

"Syarat selanjutnya, ketika sujud harus sedikit lebih kuat menekan kepala kita dan tidak boleh ada tujuan lain selain sujud. Artinya harus benar-benar bertujuan untuk sujud kepada Allah. Tidak boleh karena hal lain semisal ketika sudah i'tidal, ada anak kecil lari-lari  yang akhirnya menyenggol dan membuat musholli ambruk ke bawah. Si musholli ini tidak boleh jika berniat sekalian sujud karena sudah ambruk ke bawah, dia harus berdiri lagi lalu melakukan sujud agar sah."

"Yang menjadi syarat sujud lagi adalah, tidak boleh sujud di atas sesuatu yang bergerak. Contohnya ya tadi, seperti mukena, atau jilbab mungkin, sekarang kan udah banyak ukhti-ukhti yang memakai pakaian yang sekaligus bisa untuk sholat tinggal pakai kaos kaki, ya tidak apa-apa, asalkan diperhatikan hal-hal tadi, jangan sampai sujudnya tidak sah karena terhalang jilbab.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang