Saktah #12 : People Pleaser

4.4K 748 104
                                        


"Pa, lagi sibuk nggak?"

"Enggak sibuk, tapi pegel, kayaknya butuh pijat!"

Walaupun hanya bercanda tapi papa nggak akan nolak kalau aku pijit beneran. Akhirnya aku duduk di samping papa sambil memijit lengannya.

Sepulang dari bertemu Mas Ilyas tadi aku menenangkan diri sebentar baru berani pulang ke rumah. Papa dan mama itu tingkat kepekaanny overload, pasti akan curiga jika aku pulang dengan mata sembab.

"Kenapa tanya Papa sibuk atau enggak?"

"Nggak apa-apa, pengin mepet papa aja! Mumpung mama lagi ke butik."

Papa tertawa mendengar kejujuranku. "Memang mau cerita apa?"

"Nggak ada cerita untuk hari ini, cuma pengen mepet Papa aja!"

Papa langsung merangkul pundakku dan sejenak aku menikmati kenyamanan ini, sebenarnya aku butuh obat, aku baru saja mengambil keputusan berat dengan menolak lamaran Mas Ilyas, maka aku butuh teman ngobrol, tapi tidak mungkin aku cerita dengan papa yang sebenarnya lebih baik memeluk papa begini saja, sudah cukup menenangkan.

"Om Nazril ngajak makan-makan di rumahnya, habis dapat proyek besar katanya."

Haduuuhh.. Baru mau tenang sebentar juga, malah papa menyebutkan clue yang membuatku langsung connect ke Mas Ilyas.

Ya emang dasar ku aja sih yang masih kepikiran, jadi disenggol dikit udah langsung inget.

"Papa sama mama aja deh, Embun di rumah. Besok kan harus balik Jombang pagi-pagi sekali."

Papa menatapku penuh arti kemudian tersenyum sambil geleng-geleng, membuat aku sedikit gugup. "Rencana kamu ke depannya gimana? Masih terus kerja di Jombang?"

"Iya. Setidaknya menghabiskan kontrak pertama Pa, baru setelah itu dipikir lagi mau lanjut atau enggak."

"Kalau rencana hidup?"

Aku hanya bisa pasang senyum lebar dan menggeleng. "Ya itu, rencana hidupnya mau jadi pengacara yang baik,"

Papa kembali menepuk kepalaku. "Papa seneng kamu bertanggung jawab pada pilihan kamu sejak awal, tapi pesan papa, jangan hanya fokus ke sana, hidup juga butuh mikir hal lain."

"Misalnya?"

"mikir nama anak, mikir anaknya habis mandi bagus pakai baju apa, mikir anaknya mau dimasakin lauk apa.. Seru tau!" jawab papa diakhiri tawa.

Pundakku langsung merosot. "Papa mau cucu?"

Papa malah tertawa renyah sekali. "Papa mau anak Papa bahagia, melakukan segala sesuatu berdasarkan hatinya."

"Aaaahh Papa." Aku memeluk cinta pertamaku dan berterimakasih karena papa selalu mendukung semua langkahku.

Aku bergeser ke kamar, merebahkan diri sebentar dan merenungkan kembali apa yang baru aja aku lakukan.

Di samping meja tempatku mengerjakan sesuatu ada sebuah tulisan yang dulu aku tulis untuk memberi semangat agar selalu rajin berusaha mencapai keinginan,

Hari Esok Ditentukan Oleh Keputusan Hari ini.

Setiap manusia pasti dihadapkan pada masalah yang harus diselesaikan, baik itu yang beresiko besar maupun kecil. Namanya juga hidup pasti punya masalah. Kalau nggak pengin punya masalah ya nggak usah hidup.

Setiap orang dalam perjalanan hidupnya pasti selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang tak mudah. Bahkan ketika kita berniat untuk tidak melakukan sesuatu pun itu sebenarnya juga sebuah pilihan. Sekarang memilih tidak melakukan apapun jadi hari esok jangan kecewa juga jika tidak mendapat apapun. Begitu contohnya.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang