Pengalaman pertama merayakan hari raya dengan status baru pasti banyak hal yang menyenangkan tapi juga menggelikan. Dulu biasanya aku makmum papa saat meminta maaf dengan keluarga pondok, intinya papa yang secara simbolis sungkem sekaligus matur tentang permintaan maaf, dan sekarang aku harus berhadapan sendiri dengan Mas Iyas. Lucu campur malu tapi akhirnya suasana kembali sakral dan aku bersimpuh di depan Mas Iyas, meminta maaf atas segala salah dan khilaf.
Jawaban tak kalah haru juga Mas Iyas sampaikan, dia memaafkan juga meminta maaf dengan tulus, jadilah momen berpelukan dengan dipenuhi rasa haru juga bahagia.
Sejak pagi aku sudah terburu-buru, karena harus segera pulang ke Semarang. Kata Mas Iyas keburu semua keluarga punya agenda masing-masing dan susah bertemunya. Akhirnya tadi pagi setelah sholat ied, kami menyelesaikan sungkem dengan papa mama, simbah dan juga keluarga lain. Untung saja papa cuma punya dua adik itupun tinggalnya cuma satu pekarangan jadi menghemat waktu.
Mas Iyas sudah menyiapkan semuanya agar bisa bisa cepat pulang. Mulai dari THR untuk keponakan dan sepupu, berziarah ke makam simbah putri kemarin sore dan lain sebagainya maka tak heran jika siang ini kami sudah sampai di Semarang, ditambah jalanan yang cukup lengang hingga mempercepat perjalanan kami.
Benar kata suamiku, semua keluarga besar masih berkumpul di rumah Simbah Hanif atau di komplek pusat. Rasanya aku masih cukup segan berkumpul dengan mereka di sini, memakai baju yang sama, semua masih seperti mimpi.
Mas Iyas sepertinya paham dengan apa yang aku rasakan, maka dia menggenggam tanganku menuju simbak Hanif dan Simbah Arina, sungkem pada mereka kemudian lanjut ke Abi Arkan dan Umi Salma, begitu seterusnya pada semua keluarga dari yang tua hingga yang muda. Nasib jelek kita datang belakangan hingga menjadi sasaran empuk pembulyan.
"Bang Il, Mohon nafkah lahir dan batin ya!" teriak Rey yang langsung memicu bullyan dari yang lain. Dan sebagai istri yang taat, aku ikut sikap suami yang tetap duduk anteng walapun mendapat bullyan dari arah kiri kanan, depan belakang.
"Mohon maaf lahir dan batin, sudah menikah tidak lagi tekanan batin!" sambung Om Nazril yang tak mau kalah.
Mas Iyas tetap duduk anteng di sampingku sambil menikmati kacang mete dan ada Acha, putrinya Mas Dito di pangkuannya.
"Diemin aja, nanti juga berhenti sendiri." bisik Mas Iyas kemudian dia memindahkan Acha ke pangkuanku. "Ambilin makan dulu ya!"
Tanpa persetujuanku, Mas Iyas berdiri mengambil sepiring makanan dengan dua sendok dan kembali duduk di sampingku.
"Perdana kumpul masih boleh malu-malu, tapi besok udah nggak boleh, mereka juga keluargamu sekarang." ujar Mas Iyas pelan sembari menyuruhku makan, sepiring berdua dengannya. Ternyata dia beneran tau apa yang aku rasakan.
Sepertinya habis ini aku harus periksa kesehatan jantung, empedu, ginjal dan semuanya yang berhubungan dengan hati, kalau perlu kadar gula juga, aku benar-benar dibuat mati gaya dengan sikap manis Mas Iyas. Semua rasa kesalku yang dulu-dulu hilang tak tersisa. Bahkan sekarang pesona Mas Dito udah biasa aja, ketika dia mengambil Acha dari pangkuanku pun terlihat biasa aja, meskipun senyumnya masih bikin sedikit salah fokus. Astahgfirullah.
Hari semakin siang, setelah jamaah dzuhur, satu persatu keluarga meninggalkan komplek pusat ini karena punya agenda masing-masing menyisakan keluarga Abi Arkan saja.
"Yas! Nanti malam mampir ke rumah, Papa masih punya amalan buat kamu!" teriak Om Nazril sebelum masuk mobil yang sudah pasti terkoneksi ke anaknya.
"Pengantin baru nggak perlu begituan, Pa! Masih joss! Justru Papa itu yang mulai berumur!" sahut Rey.
Bapak-anak itu masih sempat saling ledek sebelum masuk mobil.
"Ogah! Mending di rumah sama istri!" jawab Mas Iyas dengan tetap kalem tapi mampu membuat orang-orang menyorakki.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romantik"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
