Saktah #27 : Prenuptial Agreement

5.8K 784 136
                                        

EMBUN

"Bulan Muharram, Bi!"

Kepalaku langsung terangkat begitu saja ketika mendengar jawaban Mas Ilyas, jawaban atas pertanyaan abinya tentang waktu pernikahanku dengan Mas Ilyas.

Malam ini, beberapa hari menuju ramadhan, keluargaku dan keluarga Mas Ilyas berkumpul di rumahku. Satu jam yang lalu, baru saja selesai acara ceremonial lamaran, dan beberapa orang masih bertahan di sini untuk membahas tanggal pernikahan.

"Sudah yakin, le?" tanya Simbah Hanif.

"Insyaallah, Mbah. Tapi kalau kelamaan bisa dimajukan bulan syawal." jawab Mas Ilyas dengan entengnya.

Om Nazril yang duduk di sampingnya langsung menjepit kepala keponakannya itu dengan lengan. "Diam-diam, ngebet juga ternyata!" ujar Om Nazril yang memicu tawa.

Mas Ilyas ngomongnya kok enteng banget ya, bulan muharram aja terlalu cepat bagiku, ini malah mau dimajukan jadi syawal.

"Bareng sama acara khataman santri aja gimana? Khataman santri kan diadakan di akhir bulan dhulhijjah." usul Abi Arkan dan semua mengangguk setuju kecuali aku dan papa.

Aku melirik Om Nazril yang sepertinya menyadari sikap papa yang beda dari biasanya, sejak tadi aku lihat papa memang lebih banyak diam.

Tanpa menunggu lama, Om Nazril mendekat ke papa dan langsung menyenggol lengannya. "Kenapa? Lapar?" tanya Om Nazril yang membuat semua fokus teralihakan ke papa.

Aku yang duduk agak jauh dari papa hanya bisa menanti jawabannya dengan gugup.

"Saya kok masih nggak percaya mau besanan sama keluarga Abi Hanif, saya ini hanyalah seseorang yang beruntung karena kenal Nazril, sampai akhirnya kenal dengan keluarganya." jawab papa.

Sejenak semua terdiam, tak menyangka papa yang biasa sikapnya sebelas duabelas dengan Om Nazril, sekarang mendadak jadi rendah diri seperti itu. Tapi aku tetap bisa memahami perasaan papa, karena sebenarnya aku pun begitu. Hingga detik ini pun aku masih belum percaya Mas Ilyas tetap memilihku.

Bagi Mbah Hanif, papa sudah seperti anaknya sendiri, maka beliau tak ragu untuk memukul lengan papa sambil tertawa, untuk mencairkan suasana juga.

"Ndak usah kebanyakan drama seperti Nazril to! Ndak usah merasa rendah diri, kita ini semua sama kok, Abi sudah tau luar dalamnya, kanan kirinya, atas bawahnya kamu. Insyaallah semuanya baik." jawab Simbah Hanif.

Ruangan ini mendadak berubah atmosfer menjadi penuh haru. Ternyata sejak tadi papa kepikiran itu sampai membuatnya lebih banyak diam.

"Selain itu, lo itu hokinya tinggi, Do! Dapat istri sebaik dan secantik Ervina yang khilaf puluhan tahun mau sama lo, terus tambah dapat anak cantik dan baik juga lagi, sampai buat ponakan gue rela jadi perjaka tua, nungguin anak lo mau!" sahut Om nazril yang anehnya langsung bisa mengembalikan papa seperti semula.

Kedua pria itu seakan lupa umur dan suasana malam ini, mereka dengan senangnya bergulat sambil saling meledek. Aku selalu suka cara Om Nazril dan papa berteman, dari luar kelihatannya hanya saling meledek tapi sebenarnya saling menyayangi.

Simbah Hanif berdecak sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan papa dan Om Nazril, kemudian mencoba mengembalikan fokus kami. "Sudah ya! Edo nggak boleh lagi punya pikiran seperti itu, insyaallah, Abi yakin ini takdir terbaik dari Allah."

Papa mengangguk dan minta maaf kemudian mulai membahas pernikahanku lagi.

"Jadi beneran ini Ilyas udah mantap bulan Muharram?" tanya Abi Arkan.

"Insyaallah, Bi."

Maka sekarang semua bergantian menatap aku membuat kadar gemetaranku semakin tinggi.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang