Saktah #4 : Terapi Emosional

6K 868 88
                                        

Kalau mau jadi pengacara, modal pertamanya niat dan minat. Tidak boleh cengeng apalagi baperan. Ikuti semua alurnya sampai dapat izin beracara, Ambil pelajaran yang baik saat sedang magang, yang tidak baik tidak usah dipikirkan. Dan yang terpenting jangan lupa dengan masyarakat kurang mampu yang membutuhkan keadilan. Dan ingat lagi, jangan mikir uang, uang, dan uang. Kamu mau jadi penegak keadilan bukan penegak kekayaan."

Kalimat penyemangat dari dosen pembimbing yang masih selalu aku pegang dan menurutku tidak hanya untuk profesi ini, semua profesi harusnya seperti itu.

Di mata masyarakat umum, seorang pengacara pastilah seorang yang bergengsi, berdasi, dan berduit. Yah karena yang mereka tau, pengacara itu ya kayak Hotman paris. Tidak menyangkal juga, karena aku menyaksikan sendiri gimana sebagian besar rekan sejawatku mem-branding dirinya seperti itu.

Mobil di atas rata-rata, makan jarang yang di restoran biasa, travelling, dan lain sebagainya. Nggak men- judge mereka juga sih, karena mungkin itu adalah cara mereka mengobati rasa penat setelah kerja keras, karena biasanya jika sedang menangani satu kasus, bisa sampai tujuh hari 24 jam bekerja.

Semua punya cara masing-masing untuk healing dirinya. Kalau aku? Healing nya dengan cara maraton nonton drakor, guling-guling di kamar. Cara seribu umat banget ya! Jalan-jalan sekali, dua kali, tiga kali aja, nggak usah sering-sering.

Setelah banyak lika-liku dan drama ujian, alhamdulillah bulan lalu aku ikut di sumpah, dan saat ini aku bekerja di salah satu firma hukum milik seniorku di kampus.

Dia menjadi idola banyak anak hukum karena prestasinya yang cukup gemilang. Di umur yang terbilang muda—33 tahun, dia sudah bisa mendirikan kantor hukum sendiri, meskipun kantornya masih numpang di kantor milik saudaranya. Saat ini sudah ada  6 lawyer muda yang bergabung dengannya termasuk aku yang paling baru, dan seperti pada umumnya, anak baru pasti selalu yang dipaksa paling rajin.

Kantor ini kebanyakan melayani jasa hukum untuk perusahaan tapi ada juga perorangan. Kalau perorangan, biasanya perceraian dan masalah keluarga. Atau bisa juga kasus dari pejabat-pejabat yang tersangkut perkara korupsi dan sebagainya.

"Mau pulang jam berapa nih kita?" tanya Mira, salah satu rekan kerjaku.

Aku mengangkat bahu, sudah ikut was-was juga. Hari ini adalah hari jumat, dan biasanya aku pulang ke Semarang sore hari. Tapi jarum jam sudah semakin geser ke angka enam, belum ada tanda-tanda kita akan pulang.

"Pada mau pesan makan malam apa? Gue traktir!" Tiba-tiba Sang Bos bernama Rama yang tak lain seniorku, keluar dari ruangannya kemudian menawarkan kami makan.

Mira langsung menggeleng cepat. "Nggak usah Mas Bos, biasanya kalau Mas Bos nawarin makan malam itu artinya sekalian sarapan juga!"

Mas Rama tertawa mendengar jawaban Mira. Lelaki asli Jakarta itu memang tidak pernah menganggap dirinya bos, dia tetap berbaur dengan karyawannya. Jadi suasana 7 orang di sini berasa kayak lagi belajar kelompok dengan teman satu kelas aja. Nggak ada canggung-canggungnya.

"Mira udah mulai pintar nangkap kode gue!" ucap Mas Rama lagi yang langsung mendapat desahan protes dari yang lain, itu artinya Mas Rama beneran sedang kasih kode kalau malam ini lembur.

"Sorry guys, kali ini aja ya! Masih banyak yang harus dikerjakan. Minggu depan gue kasih tambahan libur satu hari tapi gantian."

"Aku senin!!" teriakku dengan cepat dan sudah pasti mendapat sorakan. "Nggak mau tau, pokoknya aku senin!"

Mas Rama menertawakan orang-orang di ruangan ini yang tiba-tiba berebut hari libur.
"Oke! Embun libur senin, tapi harus riset izin penyelenggaraan pendidikan non formal dan harus selesai malam ini,"

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang