ILYAS
"Mas Ilyas apa kabar?"
Aku membalas ramah sapaan Fathin yang hari ini tidak sengaja bertemu di sebuah acara kampus, dia menjadi salah satu perwakilan dari universitasnya.
"Alhamdulillah, kamu sendiri gimana?"
Wanita ini tersenyum lagi. "Alhamdulillah sehat Mas. Oh iya, ada waktu sebentar Mas? Pengin ngobrol dikit."
Pertanyaan nya tidak langsung aku jawab melainkan melirik layar ponsel terlebih dahulu memastikan jam dan kabar dari Embun, hari ini aku tidak bawa mobil sendiri.
Akhirnya aku mengiyakan ajakan Fathin untuk duduk sebentar di kantin sambil menunggu Embun yang katanya baru berangkat dari rumah, itu berarti aku masih punya waktu sekitar empat puluh menit. Oh itu kalau aku yang nyetir, kalau Embun berarti jadi 30 menit.
"Cuma mau kasih kado ini aja sih, Mas! Beberapa hari yang lalu dapat kabar kalau mau ada kegiatan kesini aku nyiapin kado buat Mas Ilyas dan Mbak Embun, minta maaf waktu kemarin nggak bisa datang di acara nikahannya, lagi padat banget jam kuliahnya."
Aku menerima sebuah tas kertas bermotif batik yang Fathin berikan. "Terimakasih banyak, nggak perlu repot-repot sebenarnya."
Wanita yang sepantaran Shanum ini menggeleng sembari menerima minuman dari penjaga kantin. "Mendatangi undangan kan wajib, Mas! Tapi nyesel banget kemarin nggak bisa datang, semoga ini bisa jadi gantinya." ucapnya tulus.
"Mas Ilyas nggak pesan minuman?"
Aku menggeleng karena hari ini jadwalku dan Embun puasa.
Selanjutnya sambil menunggu Embun sampai, aku masih ngobrol ringan dengan Fathin, dia banyak menceritakan kuliahnya, juga bapaknya yang kini berangsur sembuh dan mulai sedikit-sedikit bisa jalan. Aku suka semangat gadis ini, sebelum bapaknya sakit dia sudah sangat bersemagat belajar, apalagi ketika ada musibah bapaknya sakit, dia ingin sekali selesai kuliah lebih cepat agar bisa segera pulang untuk merawat Sang Bapak.
"Masih aktif di panti?" tanyaku.
"Masih dong! Aku kan tinggalnya di panti selama di Mojokerto. Awalnya sih kos, yang waktu itu Mas Ilyas antar aku, lama kelamaan pemiliki yayasan minta aku tinggal di panti sekalian biar bisa lebih fleksibel antara kuliah dan panti, biar nggak capek bolak-balik juga sih. Alhamdulillah banget waktu itu Mas Ilyas kasih aku semangat untuk bisa keluar dari lingkungan panti yang dulu toxic sampai akhirnya bisa ketemu dengan orang-orang baik yang ada di panti tempat berjuangku sekarang. Pokoknya aku terimakasih banget sama Mas Ilyas, beruntung bisa kenal orang sebaik Mas Ilyas."
Fathin menjawab dengan panjang lebar dan pembawaannya yang ceria.
"Tapi sayang sih, udah keduluan Mbak Embun," ucapnya lagi dan kembali dengan tawa. "Masih punya adik cowok nggak, Mas? Boleh buat aku," candanya.
"Masih. Tapi agak sableng!" jawabku sambil tiba-tiba terlintas wajah tengil Arsha adiknya Rey. "Berondong juga sih kalau dibanding kamu."
Tawa Fathin semakin keras membuat aku ikut tertawa. "Berondong juga boleh sih!" ucapnya penuh keyakinan.
Entah kenapa mendadak aku jadi ingat dua sepupu tengilku, masing-masing punya slogan aneh. Dulu Si Rey punya slogan bojomu semangatku, dan akhir-akhir ini aku sering dengar Arsha juga punya slogan yang tak kalah aneh 'harta, tahta, wanita lebih tua'. Aku semakin heran Mama Ralin ngidam apa dulu punya anak macam duo shaka itu, Reyshaka dan Arshaka.
Obrolanku dengan Fathin berlanjut, banyak hal yang kami bahas. Dia termasuk orang yang cukup menarik untuk dijadikan teman diskusi. Aku jadi ingat nasehat Embun, menjadi lawan bicara yang menyenangkan itu bisa menjadi kesan tersendiri, makanya dia menyuruhku agar lebih ramah dan banyak bicara ke orang, ternyata memang rasanya beda. Mulai sekarang aku akan belajar lebih baik lagi dalam berinteraksi, terutama pada teman-teman pengurus panti.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
