Epilog

11.5K 944 100
                                        


Masih ingatkah dulu pernah membahas apa saja yang biasa menjadi menu andalan untuk sarapan?

Nasi goreng?

Nasi pecel?

Nasi uduk?

Salah semua, karena waktu itu jawaban tepatnya adalah wejangan pernikahan yang menjadi menu andalan ku setiap sarapan bareng keluarga.

Apa ada yang senasib denganku?

Banyak pastinya, tapi maaf ya bukannya aku mau pamer, dulu yang senasib denganku sekarang dengan berat hati aku harus bilang bahwa nasib kita sudah beda. Alhamdulillah nasibku sudah baik, mujur, untung, karena sekarang bukan pernikahan lagi yang menjadi menu utama sarapanku tapi ....

"Kalau udah ada anak itu yang aktif, diajak bicara jangan cuma diem aja saat gendong, biarpun belum bisa merespon tapi bayi bisa dengar."

"Iya, nanti Ilyas ajak bahas skripsinya mahasiswa!"

Abi dan umi kompak menatap jengah ke arahku sedangkan Embun yang sedang terbaring di bed rumah sakit hanya tertawa geli sambil menggeleng kan kepala, dia sudah terlalu hafal denganku karena sebelum abi memberi nasehat, Embun sudah setiap hari menjadi guru parentingku, selalu mengingatkan agar aku menjadi ayah yang banyak bicara untuk anakku padahal anaknya keluar saja belum, aku ini bukannya malas bicara, hanya saja akan bicara jika ada perlunya. Kalau nanti udah lihat aku banyak bicara pasti terkaget-kaget mereka.

Aku memilih mendekat ke Embun yang infusnya sudah selesai diganti oleh dua orang perawat rumah sakit, tadi sewaktu ke kamar mandi tidak sengaja darahnya naik ke selang infus.

"Udah Yas, nggak ada darah lagi," ucap mama mertua disertai senyum meledeknya.

Tak ada yang bisa aku lakukan selain tersenyum malu karena sebenarnya aku belum cukup kuat untuk berurusan dengan pernak-pernik rumah sakit, rasanya langsung pusing dan mual.

"Mama gantian sarapan, biar Ilyas yang temani Embun." jawabku dan segera saja mama Ervina bergabung dengan yang lain di sisi sebelah sana, tempat keluarga berkumpul untuk sarapan, walaupun sudah jam sepuluh tapi masih disebut sarapan karena sejak pagi baru ini bisa makan.

Begitu mama pindah, aku langsung menggantikan tempatnya, duduk di samping Embun. Aku mengusap pipinya yang membulat sambil berkata, "Kamu kalau sakit bilang, aku malah bingung. Kata orang-orang, wanita yang mau melahirkan itu nyeri luar biasa tapi kamu kok sepertinya biasa aja, malah senyum-senyum?"

"Ya aku mengalihkan rasa sakit dengan senyum, Mas!" jawabnya.

Aku menggenggam tangannya, memang walaupun tidak teriak-teriak tapi wajahnya pucat dan dia sering meremas selimut. Aku semakin bangga dengannya. Sejak kemarin sore aku membawanya kesini karena kata papa Edo, tanda-tanda melahirkan sudah banyak, tapi hingga pagi ini kata bidan yang merawatnya, pembukaan belum sempurna.

Dokter spesialis juga sudah berkunjung ke sini pagi tadi, dokter memberi penjelasan jika siang pembukaan belum juga sempurna dan Embun sudah tidak kuat, terpaksa dokter ambil jalan induksi atau bisa saja operasi.

"Kamu masih kuat?" tanyaku lagi untuk memastikan.

Sekali lagi Embun menahan sakitnya kontraksi sambil meremas tanganku. "Insyaallah," jawabnya lirih.

Aku semakin tidak tega melihat wajahnya yang kian pucat dan letih tapi semangatnya untuk lahiran normal masih besar.

Embun berganti posisi menghadap ke kanan, memeluk bantal untuk menahan sakitnya.

Tanganku terulur untuk mengusap punggungnya sambil membaca ayatul syifa sebisa ku.

"Ikut saran dokter aja ya untuk operasi?" ucapku dengan hati-hati.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang