Saktah #20 : Cinta Dan Benci

5K 792 176
                                        

EMBUN

"Ada masalah?"

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaan Mas Rama, lelaki itu langsung bertanya begitu aku masuk ke mobil. 

"Yakin? Mata kamu memerah." ujarnya lagi.

Lagi-lagi aku hanya menggeleng, rasanya sudah tidak bisa berbicara. Ada seseuatu yang berat di tenggorokan, mau nangis sekarang juga tapi tidak mungkin, aku tidak sendiri di sini.

Mas Rama tak kunjung menjalankan mobilnya, dia tetap menungguku berbicara. "Embun?"

Aku menarik napas panjang dan kembali keluar mobil kemudian membuka pintu belakang dan langsung membangunkan Mira yang nyenyak tidur di jok belakang. "Mir, kamu depan ya!"

Mira yang kesadarannya belum penuh, nurut saja apa kataku. Dia bangun dan langsung pindah duduk di depan bersama Mas Rama sedangkan aku gantian duduk di belakang, padahal bisa saja di tetap duduk di belakang.

Malam ini aku terpaksa mengajak mereka berdua mampir ke tempat ini, tempat di mana Rey melangsungkan pernikahannya. Karena mendadak dan tak banyak persiapan, akhirnya atas perintah mama papa juga aku menyempatkan datang kesini sebentar saja untuk ikut mendoakan pernikahan Rey. Posisiku yang kebetulan hari ini ada jadwal meeting di luar memaksaku membawa Mas Rama dan Mira juga namun mereka tidak mau ikut masuk, merasa tidak enak karena tidak kenal dengan keluarga Rey. Akhirnya aku tidak bisa lama-lama di dalam.

Perjalanan dari rumah istrinya Rey ke kantor terasa sangat sunyi. Mas Rama fokus menyetir, Mira kembali tidur dan aku fokus meredam emosiku yang lagi-lagi terpancing oleh sikap dingin Mas Ilyas. Efek capek, kerjaan banyak dan juga belum mandi membuat tingkat kesabaranku benar-benar turun level saat menghadapi Mas Ilyas. Lelaki itu kenapa sih susah banget di ajak akrab?

Harus pakai cara gimana? Aku pengin bisa dekat seperti dulu lagi, walaupun hanya sebagai adiknya karena aku tau mungkin dia sudah menemukan seseorang yang lebih baik dari aku.

Begitu sampai kantor, aku langsung menuju mejaku, menyimpan materi meeting hari ini kemudian segera pulang karena yang lain juga sudah meninggalkan kantor.

"Embun!"

Aku berhenti berjalan dan mendekat ke arah Mas Rama yang memanggilku. "Mas maaf ya, tadi agak nggak terkendali. Malah Mas Rama kena imbasnya juga." ucapku dengan penuh sesal karena tadi sempat bersikap kurang baik pada bosku ini.

Mas Rama tersenyum tipis. "Nggak apa-apa. Lupain aja. Tapi boleh nggak aku tanya satu hal?"

Aku mempersilahkan Mas Rama untuk mengungkapkan pertanyaannya namun dia terlihat ragu, antara jadi bertanya atau tidak.

"Jadi, lelaki tadi yang membuat kamu nolak aku?"

Untuk pertama kalinya Mas Rama membuat efek yang mengejutkan dan membuat aku mematung di tempat. Untung saja aku sudah sering mendapat syok terapi seperti ini dari seseorang sehingga aku tau bagaimana caranya mengembalikan kesadaran dengan cepat.

Aku paksa bibirku untuk tersenyum sambil berkata, "Bukankah kita udah bicara banyak ya Mas waktu di rumah bude itu? Tentang kenapa aku nggak bisa menerima Mas Rama. Dan Mas Rama sendiri yang janji akan menerima apapun keputusan aku."

"Oh iya, bener kok! Aku cuma penasaran aja, kayaknya pas sampai di tempat itu kamu masih ceria, tapi ketika pulang dan bertemu lelaki tadi, kamu mendadak jadi badmood."

Aku mencoba tersenyum lagi. "Kalau tentang aku yang sedikit nggak enak tadi benar karena lelaki itu. Tapi untuk pertanyaan Mas Rama jawabannya tidak. Lelaki itu bukan yang menjadi alasanku tidak bisa menerima Mas Rama."

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang