Saktah #14 : Defense Rests

4.5K 751 129
                                        

ILYAS

Aku menatap kepergian Embun kemudian beralih melirik Rey yang tanpa rasa bersalah masih menikmati kopinya. Aku yakin sekali bocah itu sengaja mengajak Embun duduk di sini.

Tapi bukan masalah juga, Embun sudah mengambil keputusan. Dan aku juga dalam rangka melanjutkan hidupku.

Adanya Embun tadi membuat obrolanku dengan Jihan terpotong.

"Maaf ya Gus Ilyas, saya tiba-tiba mengajak bertemu. Sebenarnya sudah dari kemarin saya ingin meminta waktu Gus Ilyas, tapi baru sekarang kesampaian." ujar Jihan.

"Nggak apa-apa, ada yang penting?"

Jihan tersenyum tipis, dia terlihat canggung.

"Ungkapin aja, Mbak! Bang Ilyas walaupun irit bicara tapi ramah lingkungan kok!" sahut Rey.

Jihan kembali hanya tersenyum, dia terlihat tak nyaman dengan adanya Rey di sini. Aku paham, tak semua orang bisa diajak banyolan, maka aku melirik Rey lagi untuk memperingatkan dia.

Dan untungnya walaupun sableng, dia paham dengan kodeku dan langsung diam.

"Saya bingung mulai darimana, saya takut salah ngomong, Gus!"

"Saya lebih suka kejelasan daripada menebak sesuatu yang dipendam." jawabku yang membuat Jihan semakin tak nyaman.

Berulang kali dia membenarkan jilbab yang tidak rusak, baru dia berani berbicara, "Apakah keluarga Gus Ilyas sudah menyinggung tentang perjodohan kita?"

Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Aku memang sudah bilang iya ke abi, tapi entah kenapa dua minggu berlalu belum ada obrolan lagi dari abi maupun simbah.

"Gus Ilyas setuju?"

"Bagaimana dengan kamu?" tanyaku balik.

Jihan mencoba menarik napas untuk meredakan rasa gugup nya, terlihat sekali dia sedang gugup. "Saya bingung,"

"Apa yang dibingungkan?"

Gadis ini terlihat menarik napas lagi, sebegitu gugupkah dia?

"Sebenarnya saya minta waktu untuk bertemu karena ingin bicara banyak ke Gus Ilyas. Saya punya calon sendiri."

Aku tersenyum dan hampir tertawa. Bukan menertawakan Jihan, tapi menertawakan diri sendiri, entah kenapa mendengar Jihan jujur kalau dia punya calon suami, sama sekali aku tidak merasakan apapun. Malah aku cenderung ikut bahagia kalau memang dia punya lelaki pilihan sendiri. Setidaknya dia akan menikah dengan pria yang memang dia inginkan, bukan denganku yang berawal dari perjodohan, yang pasti butuh waktu untuk saling menerima.

"Lalu kenapa orangtua kamu tetap berniat menjodohkan kamu dengan saya?"

"Saya takut abah tidak setuju karena orang yang akan melamar saya berasal dari luar pulau, Lampung tepatnya. Abah tidak ingin saya pergi jauh. Rencananya saya baru cari waktu yang tepat untuk bilang ke abah, tapi ternyata keduluan dengan rencana abah mau menjodohkan kita."

Serius aku mau tanya, kenapa kebanyakan wanita itu overthinking? Selalu sudah punya gambaran apa yang akan terjadi, padahal dijalani saja belum. Dan sayangnya gambarannya itu biasanya jelek duluan.

"Apa yang kamu mau dari saya?"

Jihan kembali membenarkan jilbabnya baru berkata, "Saya hanya ingin minta maaf, kemungkinan saya akan matur ke abah, dan saya ingin minta tolong agar Gus Ilyas matur juga ke keluarga untuk membatalkan perjodohan ini."

Kini aku kurang setuju dengan permintaan Jihan. "Dengarkan saya, perjodohan kita baru sebatas rencana yang belum terealisasikan, saya berterimakasih atas kejujuran kamu. Silahkan kamu yang bilang ke abahmu tentang keinginan kamu yang sebenarnya, saya yakin beliau akan sangat mengerti."

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang