ILYAS
Hari-hari ini lebih banyak aku jalani sendiri, patner begadang dan mbolangku sedang tak tentu arahnya. Dia sedang benar-benar menikmati hari-hari patah hati. Yang biasanya tampil sebagai sosok gigih dan heboh, saat ini dia lebih banyak diam. Maka tak akan aku tambah bebannya dengan urusan panti, biarlah aku kerjakan tugasnya saja.
Aku dan Rey memang tidak selalu berada di panti, kami lebih fokus berada di belakang layar, mengusahakan agar kehidupan panti berjalan sejahtera. Aku bertugas mengatur pengelolaan jalannya panti bersama para pengurus yang bertanggungjawab di sana, sedangkan Rey biasanya bertindak sebagai humas. Entah perijinan, seminar atau yang berhubungan dengan donatur. Dan karena dia sedang tidak bisa fokus, akhirnya sore ini aku harus menggantikannya mengikuti workshop pengembangan layanan kesejahteraan sosial dan bimtek panti asuhan.
Acara ini rencananya akan diadakan selama dua hari di Yogyakarta dengan peserta pengurus Panti Asuhan seluruh Indonesia yang akan bekerja sama dengan dinas Sosial dan jejaring yang terkait.
Maka siang ini aku menyelesaikan urusan dengan para mahasiswa yang ingin membuat jadwal konsul. Aku sanggupi setelah acara workshop selesai, atau kalau memang urgent aku persilahkan mereka yang menjadi mahasiswa bimbinganku untuk konsul melalui telepon atau pesan.
"Pak Iyas! Nanti saya kalau masih bingung boleh telepon ya?" tanya salah satu mahasiswa bimbinganku yang bernama Ari.
"Chat dulu saja, takutnya saya lagi nggak bisa angkat!"
Pemuda itu menunduk sambil berpose hormat di depan mejaku. "Siap laksanakan, Pak Iyas!"
"Jangan panggil saya seperti itu!" tegurku.
Ari meringis sambil menangkupkan kedua tangannya. "Panggilan khusus sih, Pak! Memang kenapa?"
Aku berdiri sambil membereskan buku-buku yang ada di meja. "Berbicaralah yang baik dan benar, sesuai PUEBI. Di Dukcapil nama saya Ilyas bukan Iyas."
Dia meringis lagi. "Baik, Pak! Kirain inget panggilan mantan!"
Mahasiswa yang humoris itu langsung lari sambil tertawa saat aku sudah mulai menatapnya tajam. Bisa-bisanya dia meledek dosen sendiri. Tapi lumayan lah, untuk hiburan.
Aku melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul tiga sore, aku segera meluncur ke rumah untuk bersiap berangkat ke Jogja.
Dan tanpa membuang waktu lagi, sehabis ashar di rumah, aku langsung pamit berangkat ke Jogja.
Menyusuri jalan sendirian memang terkadang ada baiknya. Di sepanjang jalan menuju Jogja ini, aku mulai merenungkan lagi hidupku. Memang segala sesuatu tidak selalu harus sesuai dengan rencana atau keinginan kita.
Suatu waktu takdir akan berpihak pada keingan kita yang akhirnya membuat kita bahagia. Tapi di suatu waktu yang lain, takdir juga bisa tak menjadi teman kita karena takdir yang tertulis tak sejalan dengan keinginan kita.
Ada yang ingin selalu sehat tapi takdir bilang harus sakit. Ada yang ingin lulus cepat tapi takdir bilang nanti dulu. Ada yang ingin segera menikah tapi takdir berkata dia bukan yang terbaik untukmu. Atau bahkan beberapa ada yang merasakan semuanya dalam satu waktu, namun hebatnya masih mencoba menerima dan percaya bahwa pada akhirnya ada hikmah dan pelajaran di setiap takdir yang tak berpihak.
Semua pasti merasakan dan punya cara masing-masing untuk menghadapinya. Maka dari itu bersedihlah secukupnya dan berbahagialah seperlunya. Mari menerima setiap hal dengan lapang dada karena pasti akan ada hikmahnya.
Bagaimana? Aku udah terlihat sebagai manusia bijak belum?
Kalau sudah berarti salah, karena nyatanya memang sulit. Aku tidak setenang kelihatannya. Berulang kali aku menata rencana dengan sedemikan rapinya tapi harus di hentikan oleh takdir. Aku ingin menikahi Embun, tapi takdir bilang dia tidak bisa memilihku dan mungkin saja dia sudah menemukan lelaki sesuai keinginannya, yang mendukung penuh karirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
