EMBUN
Sejak Rey pindah kerja ke kota ini, aku jadi punya teman ngobrol. Ya meskipun lebih banyak lewat chat karena jarang banget bisa menyamakan jadwal, kalau bukan aku yang sibuk, ya pasti Rey gantian sibuk, atau kalau enggak, dia pergi tugas ke daerah lain.
Sebenarnya di kota ini ada Arsha juga, adiknya Rey. Tapi karena dia masih sibuk dengan pendidikannya, lebih susah lagi untuk bertemu. Baik Rey maupun Arsha mereka sama-sama menyenangkan, sudah seperti adik sendiri. Mungkin karena aku anak tunggal, jadi ketika punya teman rasa saudara seperti mereka rasanya seneng banget.
Seperti hari ini, setelah hampir sekian kali gagal mencari waktu pas, akhirnya aku dan Rey bisa janjian. Hanya sekedar makan dan saling sharing saja.
Ngomong-ngomong tentang Rey, aku beneran hanya sekedar saling sharing, jarang sekali membahas perihal sepupunya. Sejujurnya ada rasa sedih juga, hubunganku dan Mas Ilyas kembali dingin seperti sebelumnya.
Kami benar-benar tidak pernah saling tukar kabar. Pernah sekali aku mencoba mengirim pesan basa-basi dan dibalasnya setelah sepuluh jam kemudian, itupun hanya singkat membuat aku enggan untuk membalas kembali. Dan setelah itupun tak pernah ada pesan lagi. Rasanya seperti ada yang hilang, aku kehilangan sosoknya lagi.
Atau emang dia udah beneran nggak bisa kenal aku ya? Karena udah punya calon lagi mungkin.
Oh iya! Kata Rey, Mas Ilyas tidak jadi menikah dengan Jihan yang waktu itu karena sesuatu hal, dan yang aku kira seragam yang dijahit mama itu untuk pernikahan Mas Ilyas, ternyata bukan, ada sepupu lain yang ingin menikah.
Dari kejauhan aku melihat Rey melambaikan tangannya. Jantungku agak bekerja keras di saat melihat siapa yang berjalan bersama Rey. Ada Mas Ilyas dan Arsha.
"Maaf, Mbak! Udah lama?" sapa Rey begitu sampai di meja yang aku pesan.
"Belum kok." jawabku dan kemudian melempar senyum ke Mas Ilyas dan Arsha untuk menyapa.
Kemudian Rey menjelaskan bahwa Mas Ilyas sejak kemarin ada di sini karena ada keperluan. Sementara aku mencoba menyapa Mas Ilyas, Rey memesan makan untuk mereka.
Mendadak suasana menjadi canggung, aku mencoba bersikap sebiasa mungkin agar keadaan ini semakin membaik. "Gus Ilyas apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik."
Aku tampilkan senyum terbaik, walaupun dalam hati kesel. Aku lho udah berusaha nanya dengan ramah, tanya balik kek! Basa-basi dikit lah, Gus! Astaghfirullah.... Gemes juga lama-lama. Udah lama nggak ketemu, lama nggak komunikasi, tetep aja irit ngomong.
Eh Astaghfirullah, kenapa aku jadi sewot sendiri sih?
"Mbak Bening sehat? Arsha juga sehat kok!" Arsha berbicara membuat aku tertawa sekaligus malu, gara-gara sewot dalam hati sampai lupa menyapa dia tadi.
"Alhamdulillah ya, Sha! Kapan wisuda jadinya?" tanyaku.
Bukannya menjawab, Arsha malah berakting nangis. "Harus ikut gelombang kedua, Mbak! Karena aku barusan aja skripsinya!"
"Nggak apa-apa, yang penting lulus kan. Wisuda hanya ceremonial aja, yang penting kan nanti cepet dapat kerja yang sesuai." ucapku bermaksud menghibur Arsha.
"Menurut kamu tujuan kuliah hanya untuk mencari kerja?" Tiba-tiba Mas Ilyas bertanya dengan ekspresi datarnya. Membuat semua mata menuju padanya.
Aku melirik Rey dan Arsha yang sama diamnya menanti kelanjutan obrolan ini.
Aku berdehem lalu meminum lemon tea ku. Sekali bertanya kok bikin deg-degan. Jadi kalau begini lebih baik dia diam atau banyak tanya ya?
"Ya realistis kan, Gus? Orang kuliah pasti targetnya dapat kerjaan yang bagus sesuai bidangnya." jawabku pada akhirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
10. Saktah
Romance"Belajar apa hari ini Gus, dengan anak-anak?" "Tajwid. Anak-anak belajar Bacaan istimewa dalam al quran, bacaan gharib." "Kenapa membaca al quran harus dengan tajwid, Gus?" "Perintah Allah. Agar kita menjaga kemurnian Al quran, melafadzkan sesuai h...
