Saktah #25 : Roller Coaster

5K 775 55
                                        

EMBUN

Tak biasanya suasana kantor tegang begini, setiap harinya keceriaan, canda tawa selalu menghiasi ruangan kecil ini, bahkan di saat sedang sibuk-sibuknya pun masih dihiasi candaan yang akhirnya bisa mencairkan suasana.

Tapi hal berbeda terjadi hari ini, sejak pagi, untuk pertama kalinya aku melihat Mas Rama yang wajahnya tak bersahabat, kemudian ditambah Mira yang juga sejak pagi terlihat diam padahal biasanya paling banyak omong.

Aku menggeser kursiku agar bisa lebih dekat dengan Gita yang meja kerjanya tepat di samping kiriku.

"Git, hari ini pada kenapa sih? Kayaknya pada tegang banget,"

Gita berhenti mengetik kemudian mencondongkan tubuhnya sambil berbisik, "Belum gajian."

Aku tak segan untuk menyikut lengan Gita. "Menyebalkan anda!!"

Gita tertawa puas namun seketika langsung diam saat melihat Mas Rama keluar dari ruangannya dengan ekspresi yang tak kunjung enak dilihat.

"Embun, masuk ruanganku sebentar! Aku ingin bicara." ujarnya lalu menuju kamar mandi terlebih dahulu sebelum akhirnya kembali menemuiku di ruangannya.

Mas Rama duduk di kursinya, menghela nafas sejenak baru setelah itu mulai berbicara. "Kasus Puput harus segera di tutup! Kamu temui keluarga Puput untuk mau mencabut gugatan dan bersedia berdamai, kita mundur jadi pengacara mereka, keluarga Gino bersedia ganti rugi untuk mereka juga," ujarnya.

Aku belum menjawab, melainkan masih mencari keseriusan di wajah Mas Rama. Puput adalah klien kami yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan tersangka atas nama Gino. Sudah aku bilang, kasus ini sangat alot karena di belakang Gino ada oknum pejabat yang mendukung sehingga sangat sulit untuk menjerat pemuda itu.

Tapi hingga hari kemarin, tim kami masih sangat berusaha mengupayakan keadilan untuk Puput, dan sekarang aku dibuat bingung oleh sikap Mas Rama yang berubah, dan ini pertama kalinya Mas Rama bertindak di luar kebiasaan. Biasanya dia adalah orang pertama yang paling maju untuk kasus-kasus terkait HAM.

"Ada apa?" tanyaku.

Mas Rama menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijit pangkal hidungnya. "Kamu tau kan, tim lawyer Gino itu banyak, dan sebagian sangat berpengaruh. Efek kita bersikeras memperoleh keadilan untuk Puput, kantor kita terancam." jawabnya.

"Terancam bagaimana? Sedikit lagi kita bisa menjerat Gino, Mas! Kamu nggak ingat gimana perjuangan tim kita sejak awal?"

Mas Rama kembali duduk tegak, kini tatapannya tajam. "Puput akan mendapat sejumlah uang ganti rugi dari Gino, dan aku pikir itu sudah adil. Puput sendiri yang mau menjadi pacar Gino, dan aku rasanya memang benar, kejadian itu juga atas kemauan Puput."

"Mas-"

"Embun!!" sela Mas Rama dengan nada yang cukup tinggi, dan ini untuk pertama kalinya aku melihat Mas Rama tak mampu mengontrol dirinya sendiri. "Tolonglah! Aku punya mimpi besar untuk lawfirm ini, aku bangun kantor ini dari nol, dari yang harus kesana kemari menawarkan kerjasama, dari yang bayarannya hanya dapat ucapan terimakasih sampai sepiring makan siang. Sekarang cita-cita ku mulai berkembang, aku nggak mau satu kasus Puput ini membuat mimpiku hancur. Kantor ini bisa tutup dalam hitungan hari!"

Aku masih tak percaya Mas Rama bisa begini. Sedikit demi sedikit aku mulai paham apa yang terjadi. Mungkin ada yang berhasil menekan Mas Rama setelah tidak berhasil menggoyahkan aku lewat pesan ancaman-ancaman itu.

Semua bidang pekerjaan pasti penuh tekanan, tak terkecuali duniaku ini, dan sangat aku sayangkan, Mas Rama tak kuat menghadapinya. Dia lebih memilih cita-citanya membangun lawfirm yang besar, dia rela menyingkirkan hati nuraninya demi cita-cita.

10. SaktahCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang