Suho menjauhkan ponsel dari telinga sembari membuang napas frustasi. Kencannya di Pulau Nami yang semestinya meninggalkan kesan manis nan romantis malah berakhir kelam dengan setumpuk rasa gusar. Pasangannya tiba-tiba menghilang secara tidak jelas.
Seberapa keras pun berpikir, Suho tetap tidak merasa telah melakukan kesalahan fatal sampai Irene harus membatalkan pertunangan mereka. Dan untuk menuntut sebuah penjelasan, dia sudah berdiri tegak depan kediaman Irene. Tanpa ragu ia memencet bel.
"Mau apa kamu ke sini?" sambut Ibu Irene dengan nada ketus.
"Maaf, Tante, saya ingin ketemu Irene sebentar."
"Pertunangan kalian sudah dibatalkan, untuk apa menemuinya lagi?"
Secepat itukah Irene menyampaikannya pada orang-orang? Atau ada suatu hal yang belum diketahui Suho? Yang jelas keningnya berkerut banyak sekarang.
"Apa maksudnya pertunangan kami dibatalkan, Tante? Saya merasa hubungan kami baik-baik saja," tuturnya.
"Baik-baik saja kau bilang?" Wanita bersanggul modern di hadapan Suho menyeringai. "Berhenti membodohi kami! Semua orang sudah tahu kebusukanmu. Kau bahkan bermain di belakang Irene dengan karyawannya sendiri. Kau benar-benar tidak tahu malu!"
Entah apa yang sudah diketahui Ibu Irene dan bagaimana ia bisa tahu. Suho yakin seorang yang dia maksud adalah Jisoo.
"Saya bisa jelaskan semuanya, Tante." Suho tidak menyerah.
"Tidak perlu! Saya tidak mau dengar apa pun lagi. Semuanya sudah jelas. Pertunangan kalian sudah dibatalkan. Jadi jangan coba-coba menemui anak saya lagi, paham?!"
Seperti tak tahan melihat Suho, Ibu Irene langsung menutup pintu hingga menimbulkan suara debam yang cukup keras, bahkan terdengar dikunci kemudian.
"Tante, mohon beri saya kesempatan. Saya sangat menyesali perbuatan saya dulu. Saya tidak mau kehilangan Irene." Suho menggedor-gedor pintu, tapi ia sadar itu tidak akan berhasil.
Suho tidak menyerah. Dia mencoba menghubungi Sehun, berharap usahanya bisa membuahkan hasil.
"Ada apa?" sahut Sehun dengan intonasi kurang bersahabat.
"Apa kau di rumah?"
"Apa aku perlu memberitahumu di mana keberadaanku sekarang?"
Suho berusaha menahan dengusannya.
"Bisakah kau menolongku? Aku hanya ingin tahu apa Irene sudah tiba di rumah atau belum. "
"Aku tidak di rumah."
"Baiklah kalau begitu," kata Suho lemas.
Sekarang dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Sebelum bertandang ke sana, dia sempat singgah ke apartemen Irene dan tidak berhasil menemukan wanita itu. Seandainya Irene juga tidak ada di rumah, lantas ke mana dia pergi?
Suho pun dibanjiri rasa khawatir. Mustahil ia bisa memejamkan mata menutup harinya ketika ia tidak mampu menemukan jejak Irene.
****
Ketika sambungan teleponnya dengan Suho berakhir, Sehun seketika dirasuki rasa cemas. Buru-buru ia menghampiri kamar Irene. Ketukan pintu berkali-kali dilayangkan dari pelan hingga semakin keras, tapi tak kunjung mendapat sahutan. Sehun yang sudah kebakaran jenggot langsung menarik gagang pintu yang untungnya tidak terkunci.
Kegelapan menyelimuti suasana kamar. Pandangan Sehun berusaha menerawang ke dalam. Dia mengurungkan niat menyalakan lampu saat samar-samar mendapati tubuh yang meringkuk tertidur pulas di ranjang. Rasa lega pun mengguyur.
KAMU SEDANG MEMBACA
REACH YOU
FanfictionMenggapaimu... Mungkin suatu hal yang mustahil. Namun, bisakah aku tetap berharap? - Irene Irene bukan wanita jahat. Dia hanya seorang wanita yang mencintai tunangannya, Suho, dengan segenap hati. Perjodohan ini mungkin hanyalah kesepakatan antara d...
