Silent Hurt

4.9K 441 7
                                        

Suara saksofon yang mengalun harmonis tak mampu menenangkan Irene. Untuk kesekian kalinya, ia meneguk air di gelasnya, menggeser posisi duduk, lalu kembali melirik layar ponselnya yang tetap sunyi.

"Permisi, sudah mau memesan, Nona?" Seorang pelayan laki-laki menghampiri dengan senyum ramah.

"Tunggu beberapa menit lagi," sahut Irene, tersenyum masam.

Dia merasa tidak enak. Ini sudah kali kedua pelayan itu mendatanginya, sementara ia belum juga memesan apa pun. Padahal, ia sudah duduk di sana hampir setengah jam.

Dibekap kesal, Irene meraih ponselnya hendak menghubungi tunangannya yang tak kunjung datang. Namun, sebelum panggilannya tersambung, seseorang muncul di hadapannya.

Seorang pemuda dengan penampilan lusuh. Lengan kemejanya tergulung tak beraturan, dasi yang seharusnya rapi kini longgar, bahkan ujung kemejanya tampak kusut dan keluar dari celana. Sungguh kontras dengan Irene yang tampil elegan dalam off-shoulder dress hitam-putih selutut.

"Kamu ke mana saja? Aku sudah menunggu dari tadi," ujar Irene, menahan kesal.

"Aku kan sudah bilang masih ada meeting, tapi kau tetap memaksa mau makan malam bersama. Mana tempatnya jauh dari hotel, jelas aku telat," gerutu Suho.

Irene mendengus. Percuma berdebat dengan Suho, ia takkan menang. Dia pun memilih memanggil pelayan yang sedari tadi sudah menunggu.

"Silakan, ingin memesan apa, Tuan dan Nona? Khusus malam Valentine ini, kami menyediakan beberapa menu spesial," tutur pelayan, menyerahkan buku menu.

Suho menoleh sekilas ke arah Irene yang sibuk memilih menu, seolah tak peduli dengan perkataan si pelayan.

"Boleh aku bertanya?" Suho akhirnya bersuara setelah pelayan itu pergi.

Irene memberi anggukan.

"Apa karena ini hari Valentine, kau mengajakku makan malam?"

Benar. Itulah alasannya. Irene ingin merayakan hari kasih sayang bersama Suho, bahkan rela menunggu lama hanya demi makan malam ini. Tapi haruskah Suho memperjelas hal itu? Lagi pula, bukankah wajar jika ia ingin menghabiskan malam Valentine bersama tunangannya? 

"Jadi benar?" Suho mengulang pertanyaannya, tapi Irene tetap diam. "Oh, come on, Irene. Kita bukan sepasang kekasih pada umumnya. Lucu sekali kau tiba-tiba ingin merayakan Valentine bersamaku."

Tenggorokan Irene tercekat. Kata-kata Suho menamparnya telak, meninggalkan perih yang tak bersuara.

Ya, Suho benar. Hubungan mereka memang tidak seperti pasangan lain. Mereka bertemu, berkenalan, dan bertunangan atas kehendak keluarga. Irene juga paham Suho tak memiliki perasaan padanya.

"Tidak usah berlebihan. Aku hanya tidak mau makan sendirian," elaknya.

Suho mengangkat sebelah alis. "Baguslah kalau begitu," tukasnya dengan nada meremehkan.

Irene menelan pahit. Dua tahun bertunangan, Suho tak pernah memperlakukannya seperti kekasih.

Pesanan mereka tiba. Fokus Suho langsung tersedot pada makanan yang dihidangkan. Sementara itu, Irene buru-buru mendorong kursi di sebelahnya agar lebih dekat dengan meja, menyembunyikan bingkisan kecil di atasnya. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia sampai menyiapkan hadiah Valentine untuk seseorang yang bahkan tak melihatnya sebagai wanita.

Mereka makan dalam diam. Tak ada percakapan, hanya dentingan garpu dan pisau yang sesekali terdengar. Hingga akhirnya, Irene menutup makan malamnya dengan segelas red wine.

"Aku sudah selesai," katanya, menyeka bibir dengan serbet.

Suho yang lebih dulu selesai dan sibuk dengan ponselnya memanggil pelayan untuk meminta tagihan. Semuanya berakhir sehambar itu. Bahkan ketika Suho berjalan menuju parkiran, Irene tetap berdiri di tempatnya.

"Kenapa diam saja di situ?" Suho mengernyit.

"Aku menunggu sopirku," jawab Irene ketus.

Suho menggaruk pelipisnya, langkahnya kembali mendekati Irene. "Kau ini aneh. Untuk apa menunggu sopir, sementara aku bisa mengantarmu pulang?"

"Aku tidak sepercaya diri itu berpikir kau mau mengantarku pulang."

Suho terdiam sejenak. "Kau... marah padaku?" tanyanya, terdengar ragu.

"Marah?" Irene tertawa kecil. "Aku tidak berhak untuk itu."

Saat itu juga, sebuah sedan putih berhenti di depan mereka. Sopir Irene datang tepat waktu—saat ia hampir menyerah berdiri tegap di hadapan lelaki yang tak pernah lelah melukainya.

Sang sopir segera turun, berjalan dengan sigap ke arah Irene lalu membukakan pintu dengan hormat.

"Terima kasih sudah datang ke sini," ucapnya datar kepada Suho.

Tanpa senyum, tanpa tatapan hangat, tanpa kecupan perpisahan—yang tentunya mustahil—Irene melangkah masuk ke dalam mobil, pergi bersama luka yang terbungkam.


____________________________________________________________

Holaaaaaa...
Anyeong, anyeong...
Mungkin ada yang kaget, mungkin juga gak ada. Setelah sekian purnama berhibernasi, akhirnya aku memutuskan untuk mulai revisi sedikit semi sedikit cerita yang kurindukan (baca: semrawut) ini...
Dan, tentunya aku masih setia di atas kapal Surene (kuharap kalian juga begitu), yang tiap tahun ada-ada saja gebrakannya... hahaha!
Selamat membaca, enjoy!
😊✨

REACH YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang