Ainka benar-benar kehilangan kata-kata saat menatap cowok di depannya—cowok yang, mau tak mau, sudah tiga hari ini diam-diam ia tunggu. Ada banyak sumpah serapah yang ingin ia lontarkan, tapi anehnya, bahkan untuk sekadar menyebut namanya saja lidah Ainka terasa kelu.
"Bisa ngomong bentar?" tanya cowok itu.
Baru saat itulah Ainka tersadar. Tangannya masih berada dalam genggamannya. Hangat. Terlalu nyata.
Dengan refleks, Ainka langsung menarik tangannya cepat-cepat, seolah sentuhan itu bisa membakar kulitnya.
"Nggak bisa. Gue mau belanja," jawabnya singkat, nadanya ketus. Ia langsung menarik lengan Amatheia, berniat menyeret sahabatnya keluar sebelum situasi makin canggung.
Namun kalimat Amatheia justru membuat Ainka membelalak tak percaya.
"Hah? Sama lo?" Amatheia menoleh heran. "Orang gue belanja sama Gemine kok. Iya nggak, Mine?"
Belum sempat Ainka bereaksi, Amatheia sudah menarik Gemine yang kebetulan berjalan mendekat ke arah mereka.
Gemine yang cepat tanggap langsung mengangguk mantap. "Iya. Theia belanja sama gue. Jangan ngada-ngada deh lo."
Ainka melotot. Rahangnya mengeras.
Di kepalanya, sudah ada satu skenario jelas: memutilasi Amatheia pelan-pelan setelah ini.
Sementara itu, cowok di depannya hanya diam, menatap Ainka dengan ekspresi yang sulit dibaca—antara lega karena berhasil menghentikannya, atau justru semakin yakin bahwa Ainka sedang menghindar.
Ainka melotot horor ke arah keduanya, tapi Amatheia tak peduli. Dengan sigap ia menarik Gemine keluar dari kafe sambil melambaikan tangan, diiringi cium jauh yang dilepas ke arah Ainka.
"Sekarang bisa?" tanya cowok itu lagi, suaranya tenang tapi menyimpan tekanan halus.
Ainka gugup. "Engh... itu mau kuliah." Lidahnya kelu, kepalanya mumet. Daripada terus bingung, ia segera melangkah keluar kafe.
Tapi Zevon—ya, Zevon—terlalu cepat. Dalam sekejap tangannya sudah mencekal tangan Ainka.
Ainka berhenti dan menatap mata Zevon. Ada sesuatu di sana, seolah dia ingin minta maaf. Ah, padahal akhir-akhir ini Ainka sudah malas mendengar permintaan maaf dari siapapun. Kupingnya panas mendengar kata "maaf" berulang-ulang. Salah sendiri kebanyakan dosa, pikirnya.
"Nggak usah minta maaf, gue nggak butuh!" bentak Ainka sambil menepis tangan Zevon. Matanya menatap tajam, penuh rasa kesal dan sedikit benci.
Zevon, seperti biasa dengan wajah songongnya, memicingkan mata yang sedikit sipit namun tajam ke arah Ainka. Ada senyum tipis di sudut bibirnya—senyum yang bikin darah Ainka makin mendidih.
"Ngapain liat-liat gue kayak gitu? Nyesel? Mau mohon-mohon lagi? Ogah! Gue nggak mau maafin lo, gue nggak butuh!" sungut Ainka, suaranya meninggi, amarahnya jelas terbakar.
Zevon tetap diam, tapi pandangannya tak bergeser dari Ainka, menunggu, menantang, seperti menahan sesuatu yang ingin ia ucapkan tapi tak kunjung keluar.
Zevon hanya melipat kedua tangannya di dada, satu alis terangkat, wajahnya polos seolah tak bersalah.
"Emang gue punya salah, ya, sama lo?" tanyanya santai.
"Hah?" Ainka menyipitkan mata, bibirnya menganga, menatap Zevon dengan campuran bingung dan kesal.
"Emang gue punya salah?" ulang Zevon sekali lagi, nada polosnya tetap sama.
Ainka menunjuk Zevon dengan tangan gemetar. "Lo... arghhh, Zevon! Mau lo tuh apa, sih?! Udah nyolong first kiss gue, gue nggak pulang lo nggak nyariin gue, bahkan chat gue pun lo abaikan! Dan lo nggak ngerasa bersalah soal testpack itu?!" suaranya meninggi, hampir berteriak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kost-Mate
Teen FictionBagaimana perasaanmu jika tinggal bersama lima orang cowok dalam satu rumah, dan kamu adalah cewek satu-satunya? Takut? Sedih? Atau malah bahagia karena tinggal bersama dengan cowok ganteng? Ainka Atlana terpaksa harus tinggal bersama kelima cowok...
