Bagaimana perasaanmu jika tinggal bersama lima orang cowok dalam satu rumah, dan kamu adalah cewek satu-satunya? Takut? Sedih? Atau malah bahagia karena tinggal bersama dengan cowok ganteng?
Ainka Atlana terpaksa harus tinggal bersama kelima cowok...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jantung Ainka berdegup liar, seolah baru saja dipaksa ikut lari maraton tanpa aba-aba. Ucapan Zein barusan sukses melumpuhkan seluruh saraf di tubuhnya. Ainka membeku di tempat, bahunya kaku, bahkan ia sadar dirinya sedang menahan napas. Dadanya berdesir aneh—hangat sekaligus nyeri—sementara kepalanya kosong melompong. Tak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari bibirnya.
Gila. Ini benar-benar gila. Ainka mengumpat dalam hati.
Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya, sekadar memastikan apakah semua ini nyata. Apakah Zein benar-benar berdiri di depannya sekarang? Atau ini hanya mimpi, ilusi murahan hasil dari pikirannya yang terlalu sering melayang belakangan ini?
Dan kalau ini nyata—kalau semua ini benar-benar terjadi—berarti hal yang ia lakukan selama ini tidak sia-sia. Sejak pertemuan itu, Ainka seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia sering linglung, sering melamun, dan tanpa sadar tersenyum sendirian. Seolah isi kepalanya hanya dipenuhi satu hal: wajah Zein, suaranya, senyumnya, juga tawa itu.
Namun jika ini hanya mimpi, kenapa rasa di dadanya begitu nyata? Kenapa desiran itu terasa begitu hebat, sampai-sampai menyakitkan?
Seakan belum puas membuat jantung Ainka berdetak tidak karuan, Zein mengangkat tangannya. Dengan gerakan pelan namun spontan, ia menepuk kepala Ainka sekali. Sentuhan singkat itu justru terasa jauh lebih mengejutkan. Hangat. Akrab. Terlalu dekat.
Mata Ainka refleks terpejam. Napasnya tertahan, seolah paru-parunya lupa cara bekerja. Dadanya terasa sesak, kepalanya ringan, dan tubuhnya nyaris goyah di tempat.
Ya Tuhan... Rasanya Ainka benar-benar ingin pingsan sekarang juga.
Ada jeda beberapa detik sebelum otak Ainka akhirnya sanggup mencerna semua yang baru saja terjadi. Kepalanya terasa panas. Ia yakin wajahnya sekarang pasti pucat seperti orang sakit tipes—atau malah sudah merah padam seperti tomat matang karena malu. Entahlah. Yang jelas, rasanya campur aduk dan tidak karuan.
Ya Tuhan... Ainka ingin pulang saja sekarang.
Zein akhirnya menjauhkan diri, memberi sedikit jarak di antara mereka. Sementara itu, Ainka masih bertahan dengan mata terpejam, seolah dengan begitu ia bisa menghilang dari situasi memalukan ini. Jantungnya masih berdetak cepat, telinganya terasa panas.
"Gila," gumam Zein pelan, nadanya nyaris seperti bicara pada dirinya sendiri. "Muka lo pas lagi salah tingkah gini aja cantik banget. Gimana gue nggak tambah gemes."
Ucapan itu sukses membuat Ainka membuka matanya perlahan.
Ia menatap Zein—dan mendapati cowok itu ternyata tak jauh berbeda. Wajah Zein memerah, senyumnya lebar, cengar-cengir khas orang yang jelas sedang salah tingkah tapi berusaha sok santai. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu Ainka langsung merasa dadanya kembali berdesir tidak wajar.