20 | Miss Him I

4K 535 36
                                        

Bruno Mars - It Will Rain

Ainka duduk di ruang tamu dengan televisi yang menyala, menampilkan acara berita yang suaranya terus berganti

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ainka duduk di ruang tamu dengan televisi yang menyala, menampilkan acara berita yang suaranya terus berganti. Namun sejak tadi, atensinya sama sekali tak tertuju ke sana. Pandangannya kosong, jemarinya menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala—menampilkan room chat dengan satu nama yang belakangan ini terlalu sering ia tatap tanpa berani membuka percakapan.

Zein.

Sejak kejadian di dermaga waktu itu, Zein kembali seperti sedia kala. Ia tetap menjadi Zein yang antusias, yang bisa bercerita panjang lebar tentang hal-hal remeh dengan mata berbinar. Zein yang selalu menciptakan momen-momen kecil tapi berkesan untuk Ainka. Bahkan, cowok itu tak pernah sekalipun menyinggung kata-kata sore itu—seolah tak ingin Ainka terbebani, seolah semuanya baik-baik saja.

Dan justru di situlah kebingungan Ainka bermula.

Karena meski Zein terdengar sama, kehadirannya tak lagi utuh.

Belakangan ini, Zein jarang menampakkan diri. Ia tak lagi menunggu Ainka di bawah pohon rimbun di depan fakultas. Tak ada lagi motor yang terparkir miring dengan Zein duduk santai di atasnya, tersenyum lebar begitu Ainka melangkah keluar dari gedung. Tak ada lagi sapaan ringan yang selalu membuat hari Ainka terasa lebih singkat.

Terakhir kali... mungkin seminggu yang lalu.

Ainka mengingatnya jelas.

Hari itu, ia baru saja keluar dari kelas dengan langkah ringan. Senyum manis sempat terukir di bibirnya, refleks—karena ia berharap, seperti biasa, Zein ada di sana. Menunggunya.

Namun senyum itu perlahan memudar.

Karena yang berdiri di bawah pohon itu bukan Zein.

Cowok itu tetap menunggunya. Tetap menatap ke arahnya dengan maksud yang sama—menjemput Ainka. Tapi entah kenapa, rasanya berbeda. Tidak ada degup yang sama. Tidak ada rasa hangat yang biasanya muncul tanpa diminta.

Dan sejak hari itu, Ainka mulai sadar.

Bukan hanya kehadiran Zein yang berkurang.
Tapi juga kekosongan yang ia tinggalkan—
justru semakin terasa.

Cewek itu menunduk, memejamkan matanya, berusaha mengenyahkan segala pikiran buruk yang berisik di kepalanya. Namun justru di saat itulah bayangan Zein datang tanpa permisi.

Zein duduk santai di atas motornya.
Zein melambai ke arahnya dengan senyum khas itu.
Zein menatapnya seolah dunia hanya berisi mereka berdua.
Zein mengelus kepalanya—gerakan kecil yang selalu membuat Ainka merasa aman.

Sial.

Dada Ainka terasa seperti ditikam oleh bongkahan batu besar. Berat. Menyakitkan. Membuat napasnya tercekat.

Kost-MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang