Bagaimana perasaanmu jika tinggal bersama lima orang cowok dalam satu rumah, dan kamu adalah cewek satu-satunya? Takut? Sedih? Atau malah bahagia karena tinggal bersama dengan cowok ganteng?
Ainka Atlana terpaksa harus tinggal bersama kelima cowok...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Beberapa saat setelah bus yang mereka tumpangi berhenti, Zevon bangkit dari duduknya dan menarik tangan Ainka. Wajah Ainka yang sejak tadi kesal, tetap terpatri di wajah cantiknya—mata menyipit, bibir sedikit merengek menahan emosi.
Sementara itu, Zevon justru sumringah sejak di dalam bus tadi. Senyumnya sulit ditebak, antara nakal dan menyenangkan, seolah semua drama kecil yang terjadi di bus membuatnya benar-benar senang.
Ainka menatapnya, pandangan penuh pertanyaan. Bagaimana mungkin cowok itu bisa tetap genit bahkan di dalam bus? Bahkan di tengah keramaian, Zevon berhasil membuat Ainka ingin menampar sekaligus tersipu.
Entah kenapa, akhir-akhir ini, setiap kali Ainka tidak pulang ke rumah, tingkah Zevon selalu berbeda—lebih perhatian, lebih mengkhawatirkan, tapi tetap menyebalkan. Hatinya campur aduk. Apakah selama ini ia melewatkan sesuatu yang penting? Atau mungkin Zevon memang sengaja berubah untuknya? Pikiran itu membuat Ainka semakin tidak habis pikir, tapi entah kenapa, sedikit bagian dari dirinya... merasa terhibur.
Begitu naik ke dalam bus yang sangat sesak, Ainka langsung mencari tempat yang agak longgar untuk berdiri. Kursi kosong? Lupakan saja—tidak ada satu pun yang tersisa. Ia menoleh begitu merasakan seseorang berdiri di sampingnya. Ternyata Zevon. Cowok itu menunduk, menatap Ainka dengan ekspresi santai tapi penuh arti.
"Kenapa?" tanya Ainka, menggeleng, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke jendela.
Ia mencoba menenangkan diri sambil menikmati pemandangan jalanan. Tapi tiba-tiba tubuhnya menegang—tangan berotot itu melingkari perutnya dari belakang. Refleks, Ainka beringsut mendekat ke Zevon sambil mencengkeram kemeja putihnya.
Ainka mendongak, menatap Zevon yang kini menatapnya sambil mengangkat satu alis, seolah bertanya, "Kenapa?"
Ia bergantian menatap wajah Zevon dan tangan yang melingkari perutnya, mencoba meyakinkan diri bahwa itu tangan orang lain... tapi kenyataannya, tangan setan itu tetap menempel di tubuhnya. Ainka menatap Zevon dengan raut kesal, mencoba menjauhkan tangannya dari perutnya.
Namun bukannya melepaskan, tangan Zevon malah semakin erat.
"Von..." desis Ainka geram.
"Kenapa, sih?" tanya Zevon sok polos, tapi mata dan senyumnya sudah tahu efeknya.
"Tangan lo... malu diliat orang!" Ainka hampir memprotes, tapi Zevon tetap santai.
"Ssttt... diem. Biar lo nggak jatoh," ucapnya, nada tenang tapi bikin jantung Ainka mendesir.
"Mata lo burem? Gue bisa pegangan ini, Zevon." Ainka menunjuk pegangan di bus dengan ekspresi menahan emosi.
"Ya jaga-jaga, siapa tau—"
Cup!
Bus berhenti mendadak. Semua penumpang protes ribut, tapi Ainka dan Zevon tetap diam, saling menatap.