19 | Senja Di Dermaga

4.1K 537 96
                                        

Afgan & Rossa - Kamu Yang Kutunggu

"Lo waras nggak, sih?" komentar Nada begitu Ainka selesai menceritakan semua tentang Zein

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Lo waras nggak, sih?" komentar Nada begitu Ainka selesai menceritakan semua tentang Zein. Alisnya langsung terangkat tinggi. "Masa iya lo udah cinta sama Zein? Paling juga suka-sukaan doang. Mana ada orang baru ketemu langsung jatuh cinta? Yang waras dikit napa, sih, In?!"

"Bisa!" sanggah Ainka cepat. "Buktinya Hema sama Starla cuma butuh enam jam doang buat jatuh cinta!"

"Ngikut-ngikut mulu!" Alisha mendecak kesal. "Sampai adegannya aja lo ikutin."
Ia lalu menyender santai, melipat tangan. "Ya udah, terserah lo. Tapi semisal besok ditinggal, nangis-nangis, manggil-manggil nama gue—jangan salahin gue kalo nama gue udah gue ganti!"

"Rain sama Dimas juga bisa," gumam Ainka pelan sebelum menyeruput milkshake-nya.

Keempatnya kini duduk melingkar di Kafe Amerta, tak jauh dari kampus. Gelas-gelas minuman dingin berembun di atas meja, bercampur dengan suara musik pelan dan obrolan mahasiswa lain. Setelah mata kuliah terakhir selesai, mereka memang sepakat nongkrong sebentar—tanpa sadar obrolannya malah berujung interogasi cinta Ainka.

"Emang udah gila," Nada kembali menggerutu. "Bisa-bisanya lo bolos cuma demi berduaan sama Zein."

Ainka langsung meletakkan gelasnya agak keras. "Lo semua kenapa pada nggak dukung gue, sih?!"
Nada suaranya naik. "Ini tuh pencapaian, tau nggak. Setelah gue stuck terus sama masa lalu."

Ainka menghela napas, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan tapi tegas.
"Emang lo pikir gue nggak iri liat lo semua bangga-banggain doi lo? Sementara gue cuma diem kayak orang dongo."

Suasana mendadak hening sesaat.

Di antara mereka berempat, memang hanya Ainka yang jarang—bahkan hampir nggak pernah—cerita soal urusan cintanya. Kalau pun ada, yang ia ceritakan paling mentok cuma crush yang berakhir jadi angan.

Lagian...
siapa juga yang mau ia ceritakan?

Mantannya?

Memang benar seperti yang Bunga katakan tadi—tentang usahanya mencoba lagi, tentang Alan. Mantannya.
Awalnya Ainka ragu setengah mati saat Alan datang lagi ke hidupnya. Bahkan jauh di dalam hati, ia sebenarnya tak pernah benar-benar yakin. Saat itu, yang Ainka pikirkan cuma satu: mungkin dengan menerima Alan, ia bisa melupakan masa lalunya.

Nyatanya, hubungan yang mereka jalani justru berubah menjadi sesuatu yang melelahkan. Terlalu banyak emosi, terlalu banyak tuntutan, dan terlalu sering berakhir dengan pertengkaran. Toxic, tanpa perlu diberi label apa pun.

Mungkin karena terlalu lama sendiri, Ainka jadi kaku saat harus berbagi hidup dengan orang lain. Ia jadi sensitif, gampang capek, dan cepat ingin menyerah. Itulah alasan kenapa sampai sekarang ia enggan memulai hubungan baru. Ia tak mau ribut soal hal sepele. Tak mau nangis tanpa alasan jelas. Tak mau merasa terikat.

Kost-MateTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang