Bagaimana perasaanmu jika tinggal bersama lima orang cowok dalam satu rumah, dan kamu adalah cewek satu-satunya? Takut? Sedih? Atau malah bahagia karena tinggal bersama dengan cowok ganteng?
Ainka Atlana terpaksa harus tinggal bersama kelima cowok...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat ini Ainka sedang ngadem di masjid kampus setelah sholat Dzuhur tadi. Ia tak buru-buru kembali ke kelas karena mata kuliah siang ini masih akan dimulai setengah jam lagi. Lebih baik duduk santai saja di lantai masjid yang adem ini—kan hatinya ikut adem juga kalau melihat cowok-cowok sholat dengan khusyuk.
Sejuknya semilir angin masuk melalui jendela besar, mengibaskan kain mukena yang dipakai beberapa jamaah, membuat Ainka yang bersandar pada pilar pelataran menutup matanya sejenak. Terpaan angin itu membuat rambutnya menari-nari di wajah, dan sensasi wudhu yang masih menempel di kulitnya terasa sangat menenangkan. Ia menarik napas panjang, menikmati ketenangan yang jarang ia rasakan di tengah hiruk-pikuk kampus.
Ketika Ainka membuka mata, pandangannya secara tak sengaja tertumbuk pada seorang cowok yang sepertinya ia kenal. Ia menyipitkan mata, menatap dengan seksama dari ujung masjid, mengikuti gerakan cowok itu hingga ia selesai berwudhu. Ketika cowok itu membalikkan tubuhnya dan menyisir rambut basahnya dengan tangan, Ainka benar-benar merasa ingin memanggil penghulu agar langsung menghalalkannya. Benar kata para cewek—cowok yang baru selesai wudhu itu benar-benar bikin deg-degan.
Matanya terus mengikuti setiap langkah cowok itu. Sebuah senyum tipis muncul di wajah Ainka saat punggung tegap laki-laki itu bergerak mendekat. Tanpa ia sadari, detak jantungnya mulai sedikit lebih cepat, dan pikirannya melayang-layang ke hal-hal konyol—tapi menyenangkan.
"Hei," suara cowok itu tiba-tiba terdengar. Ainka mengerjap kaget, hampir tersedak napasnya sendiri. Zein, begitu ia tahu itu, tersenyum ramah sambil mencondongkan kepala.
"Lo kuliah di sini juga?" tanya Zein sambil menata ransel di bahunya.
Ainka menatap sekelilingnya, melihat cahaya matahari yang menembus celah-celah jendela masjid, membuat lantai marmer berkilau lembut. Ia kemudian berdiri dari duduknya, sambil menatap Zein dengan senyum tipis.
"Iya... Lo juga kuliah di sini? Jurusan apa?" tanyanya, nada suaranya campur penasaran dan sedikit gugup.
Zein mengacak-acak rambutnya yang masih basah, matanya sejenak menatap ke atas, ke pohon-pohon rindang yang mengelilingi masjid. Suara dedaunan berdesir mengikuti hembusan angin membuat suasana terasa damai, seperti masjid dan lingkungan sekitarnya ikut menyambut kedatangan mereka.
"Sambil jalan ke sana aja, yuk! Nggak enak kalau ngobrol di masjid," ajak Zein, tersenyum ringan. Ia mulai melangkah perlahan menuju pintu keluar, ranselnya bergoyang mengikuti ayunan tubuhnya.
Ainka mengangguk, mengiyakan, dan segera mengikuti langkah Zein. Setiap langkah mereka menyatu dengan suara alam sekitar—daun bergesekan, kicauan burung, dan aroma tanah basah yang tersisa setelah hujan semalam.
Tak pernah Ainka menyangka ia akan bertemu Zein lagi setelah sekian lama. Cowok itu lenyap begitu saja, tanpa kabar, meninggalkan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa di hati Ainka. Ia sempat yakin dirinya akan berakhir di–ghosting, tapi kini, entah bagaimana, takdir mempertemukan mereka di kampus yang sama.