Bagaimana perasaanmu jika tinggal bersama lima orang cowok dalam satu rumah, dan kamu adalah cewek satu-satunya? Takut? Sedih? Atau malah bahagia karena tinggal bersama dengan cowok ganteng?
Ainka Atlana terpaksa harus tinggal bersama kelima cowok...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ini orang-orang rumah pada kemana, sih? Nggak tau apa permaisuri udah comeback!" gumam Ainka sambil melangkah masuk rumah.
Setelah turun dari taksi, Ainka langsung masuk tanpa menunggu Zevon yang masih ribut dengan supir. Ternyata uang cash Zevon kurang—di dompetnya tinggal sepuluh ribu. Wajah tegang Zevon tadi? Bukannya Ainka menolong, ia malah mengolok habis-habisan. Kasihan? Ah, tidak sama sekali. Apalagi Zevon keberatan karena harus membawa kantong beras.
Ainka menaruh kantong belanjaannya di lantai, lalu berkacak pinggang sambil menatap sekeliling rumah. Tumben sepi. Kemana semua cowoknya?
Ia hendak berteriak memanggil para penghuni rumah, tapi langkah kaki dari tangga membuatnya menoleh.
"Udah pulang lo, Ai?" suara Abi terdengar saat pertama kali melihatnya. Sekilas menatap, lalu Abi kembali fokus pada ponselnya, bersandar santai di tembok.
"Long time no see, Ainka," sapa Raja dari balik tubuh Abi, tapi begitu mengucapkannya, ia langsung berjalan ke arah dapur. Sama seperti Abi, Raja sibuk dengan ponselnya, seolah wajah kucel Ainka tidak ada di mata mereka.
Ainka menatap mereka, bibirnya mencebik. "Kok gue kayak pulang ke rumah hantu, ya?" gumamnya pelan. Tapi dalam hati, ia tak bisa menahan senyum—meski sepi, suasana rumah tetap terasa hidup dengan tingkah cowok-cowok itu.
Ainka masih diam, menyipitkan mata menatap Abi yang sibuk menggerakkan tangannya, siap mengetuk pintu kamar Sindu dan Gusti.
Tok... tok...
"Gusti, Ainka pulang, nih!" seru Abi sedikit berteriak.
Tak lama kemudian, pintu bercat hitam itu terbuka, menampilkan Gusti dengan kaos pink dan celana hitam selutut. Senyuman lebarnya langsung menghiasi wajahnya.
Mata Gusti berbinar begitu melihat Ainka—eh, lebih tepatnya, kantong belanjaan di samping kaki Ainka yang membuatnya girang. Tanpa pikir panjang, Gusti langsung berlari, seakan tahu ada makanan enak di kantong itu.
Ainka mendengus kesal. "Ini gue pulang nggak ada sambutannya gitu? Gelar red karpet kek, syukuran gitu?"
"Boro-boro mau syukuran, Ai. Abi aja makan pake garam doang, saking Sindu ngambek nggak mau masak," celetuk Raja dari arah dapur sambil membawa segelas jus di tangan.
"Belum aja nanti kena penyakit gondok!" lanjut Raja, lalu mendaratkan bokongnya di sofa dengan santai.
Ainka melotot, tak menyangka keadaan rumah bisa sesusah itu selama ia nggak ada. "Sesusah itu gue nggak ada di rumah?"
"Semeyedihkan itu," jawab Raja sambil mengangkat bahu, menatap Ainka dengan ekspresi setengah geli, setengah kasihan.
Ainka menghela napas, menatap sekeliling rumah. Sepertinya ia bakal butuh kesabaran ekstra menghadapi semua cowok ngeselin ini—dan terutama, Gusti yang sudah siap menyerbu kantong belanjaannya.