"Karena saya suka sama kamu."
Devano segera beranjak dari duduknya sambil meraih kunci motornya lagi untuk pergi, namun Gita lebih cepat meraih kunci tersebut.
"Saya suka sama kamu karena saya pikir kita satu frekuensi. Bukan sebagai pasangan, jadi kamu tenang aja." Ucap Gita dengan santai.
"Saya ga ngerti gimana bisa kamu pikir kita satu frekuensi."Sahut Devano kembali duduk dan berusaha untuk tetap sabar.
Gita hanya tersenyum tipis sambil mengembalikan kunci motor Devano.
"Ya udah kita mulai sekarang. Saya tahu kamu ga betah." Ucap Gita sambil membuka buku catatannya.
Devano menghela napas panjang, menyiapkan dirinya untuk menceritakan lagi kisah lama yang sudah ia kubur dalam-dalam.
"Jadi, Nissabila itu siapa? Dan gimana cara kalian ketemu?" Tanya Gita membantu Devano untuk memulai ceritanya.
Ia sudah siap dengan buku catatannya.
"Nissabila itu, guru les balet di salah TK swasta. Dia perempuan yang polos, baik, dan suka sama anak-anak." Ucap Devano melipat kedua tangannya di depan dada.
Walaupun berusaha terlihat tenang dengan menyender ke kursi, Gita yang sedang menulis pun merasakan pergerakan kaki Devano yang gelisah.
"Waktu itu, di panti asuhan ayah saya, Nissa ngajar balet secara sukarelawan. Kebetulan saya beberapa kali ketemu dia di sana. Dan kita ternyata satu kampus dulu. Jadi karena itu saya dan dia mulai dekat."
"Terus kapan kalian pacaran?" Tanya Gita.
"Kita ga pacaran." Jawab Devano menghentikan aktifitas Gita untuk menulis.
Ia melirik ke arah Devano dengan pandangan heran. Laki-laki ini terlihat sedang memikirkan sesuatu atau sedang mengingat sesuatu.
"Maaf, mas... Ini pesanannya. 2 cangkir hot espresso dan dua tiramisu cake." Ucap salah satu pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih, mbak..." Ucap Devano.
Sementara Gita hanya mengangguk sambil menggeser cangkir miliknya lebih dekat dengannya.
"Kalau kalian ga pacaran, terus gimana bisa kalian hampir mau nikah?" Tanya Gita akhirnya bertanya.
"Saya udah bilang kan kalau ini bukan kisah cinta romantis kaya yang kamu pikir." Jawab Devano menatap Gita dengan tatapan sayu.
Gita terdiam, baru kali ini ada seorang laki-laki yang tatapannya begitu putus asa dan penuh dengan kesedihan seperti ini.
"Gita, saya tahu kamu lagi butuh bahan cerita untuk novel baru kamu. Tapi saya udah bilang, kalau cerita saya ini ga cocok sama tema yang kamu ambil. Jadi ga perlu buang waktu untuk minta saya ceritain ini."
"Kalau kamu tahu itu kenapa kamu ga bilang dari awal? Kamu sengaja mempermainkan saya untuk ngebebasin adik kamu?" Tanya Gita yang terlihat kesal.
"Engga. Tapi emang sejak awal kamu yang bersikeras mau saya untuk kerja sama. Karena kamu adalah orang yang cuma mau didengarkan tapi ga mau mendengarkan orang lain." Sahut Devano.
Gita segera merapikan buku-bukunya dan juga pulpennya ke dalam tas.
"Mau kemana? Ga jadi?" Tanya Devano.
"Buat apa saya dengerin cerita yang ga saya butuhin lagi."
"Terus kamu mau balik tuntut Daffa lagi?"
Gita menatap Devano dengan berani, kemudian tersenyum miring.
"Saya ga akan ingkarin janji saya kaya pengecut." Jawab Gita kemudian beranjak dari tempat duduknya sambil membawa tas tangannya. Dan ketika berjalan melewati Devano, senyumnya menghilang menjadi raut wajah penuh kekesalan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, HEAL ME
Roman d'amourAnggita Wirahma adalah seorang penulis novel horor yang memiliki gangguan emosional dan kesulitan percaya kepada semua orang. Tapi bagi Devano, Anggita adalah perempuan berkepribadian ganda yang selalu jadi trouble maker dimana pun ia berada. Namu...
