BICARA DUA ARAH

249 42 4
                                        

Entah atas dasar apa Devano membuat keputusan untuk mendatangi apartemen Gita setelah selesai pulang bekerja.

Ia sendiri bingung kenapa ia sangat mengkhawatirkan Gita. Padahal seharusnya ia tetap membatasi dirinya untuk Gita.

Gadis itu begitu berbahaya baginya.
Baru saja ia akan pergi, tiba-tiba saja pintu apartemen Gita terbuka. Perempuan itu keluar dari dalam apartemennya dan menatap Devano.

"Kenapa kamu ke sini?" Tanya Gita.

"Saya-" Jawab Devano menggantung.

"Mau ketemu Nina?" Tanya Gita lagi. Namun Devano tak menjawab apa-apa lagi.

Gita menghela napas panjang, kemudian menatap Devano dengan kesal.

"Dia ga ada." Jawab Gita bergerak untuk masuk lagi ke dalam apartemennya.

"Ini udah hampir tengah malem? Kamu ga tahu dia dimana?"

"Kalau kamu penasaran, kenapa ga telepon dia aja langsung?" Tukas Gita kesal. "Lain kali urusin aja urusan kalian berdua, jangan di depan saya."

Devano tak menyahut karena terlalu terkejut dengan kemarahan Gita padanya.

Kemudian ia meraih ponselnya untuk berpura-pura menelepon Nina.
Baru saja ia akan mendekatkan ponselnya ke telinga, Gita menahannya dan menurunkan kembali tangan Devano.

"Nina kayanya pulang kampung."

"Pulang kampung? Kenapa?"

"Ada masalah sama saya. Dia marah dan ga mau jadi manager saya lagi."

"Selama ini Nina tahan sama kamu, kenapa tiba-tiba dia mundur begini?" Tanya Devano tiba-tiba membuat Gita terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Ya.. semua orang pada akhirnya capek sama saya. Jadi terserah dia mau kemana." Jawab Gita tersenyum miring.

"Apa emang hobi kamu kaya begini?" Tanya Devano sedikit menyentak Gita saat itu hingga Gita menoleh lagi ke arahnya.

"Menyingkirkan orang-orang yang peduli sama kamu. Itu hobi kamu?" Tanya Devano sekali lagi mempertegas.

"Orang-orang yang peduli? Siapa?"

Devano menghela napas kesal. Ia menyesali dirinya sendiri yang membicarakan soal ini pada Gita.

"Saya ke sini bukan untuk Nina. Saya juga ga tahu kenapa saya ke sini untuk mastiin keadaan kamu." Jawab Devano kemudian membalikkan badannya untuk pergi dari hadapan Gita menuju lift.

Gita menghela napas panjang kemudian berjalan mengikuti langkah Devano yang sedang menunggu lift terbuka.

"Jadi kamu orang yang peduli sama saya?" Tanya Gita.

Devano hanya menoleh sebentar, kemudian ia kembali menaruh perhatiannya pada lift yang akhirnya terbuka.

Akhirnya, Gita masih mengikuti langkah Devano masuk ke dalam lift dengan perasaan tak karuan. Tapi apapun itu, ia pikir memang hanya Devano yang mungkin bisa ia percaya saat ini.

"Ngapain?"

"Keluar."

"Perempuan macam apa yang keluar hampir tengah malem gini sendirian?" Sindir Devano.

"Ga sendirian, saya sama kamu sekarang." Jawab Gita melipat kedua tangannya di depan dada.

Sementara Devano menoleh ke arah Gita yang masih terlihat acuh tak acuh. Entah apa yang sedang terjadi pada gadis ini hingga berubah sangat drastis.

***

Jam tangan Devano menunjukkan pukul 23:45 WIB. Dan ia tak menyangka akan menemani seorang perempuan yang paling tak ingin ia temui sebelumnya untuk berjalan-jalan di sekitar trotoar jalanan kota Jakarta yang tak pernah sepi.

LOVE ME, HEAL MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang