Hari ini Devano dipanggil kepolisian untuk dimintai keterangannya terkait video CCTV yang memperlihatkan adiknya bersama Nina di depan salon milik Ika.
Sementara Gita hanya bisa menunggu di mobil karena ia belum dimintai keterangan lagi oleh kepolisian.
Walaupun masih merasa cemas dan kesal, Gita berusaha keras untuk tetap tenang agar ia bisa berpikir dengan jernih.
Dalam keheningan, ponsel Gita bergetar tanda notifikasi pesan masuk.
From: Dennis
Saya punya sesuatu untuk kamu soal Nina. Dateng ke alamat yang saya kirim, sekarang. Nyawa saya terancam jadi tolong dateng sendiri dan jangan kasih tau siapapun. Dia ngawasin kamu.
Gita menggigit bibirnya. Ia melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 19:30 PM. Akhirnya Gita pindah ke kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan kantor kepolisian.
From: Dennis
Cepet Gita! Kita ga punya banyak waktu. Saya tahu apa yang terjadi sama Nina.
Gita berusaha menelepon Dennis, namun sialnya Dennis tak juga mengangkat teleponnya.
Saat itu juga, Gita mempercepat laju mobilnya menuju alamat tersebut dengan perasaan khawatir.
Bagaimanapun, walaupun Gita yakin Nina bukan bunuh diri, namun ia masih berharap bukan Daffa pelaku pembunuhan Nina.
Kemudian Gita menghentikan mobilnya ketika lampu merah. Pandangannya beralih pada tas milik Devano yang tertinggal di mobilnya.
Ia segera meraih tas tersebut dan membukanya. Ia meraih ponsel milik Devano dan segera mengubah notifikasinya menjadi hening. Jika terjadi sesuatu padanya, setidaknya ia memiliki cadangan ponsel.
20 menit kemudian, akhirnya Gita sampai di tempat sesuai dengan lokasi google maps yang dikirimkan Dennis.
Perkampungan ini masih cukup ramai, jadi Gita pikir tak apa-apa jika ia masuk.
Anehnya, pintu kayu rumah ini tak dikunci sehingga Gita bisa langsung masuk.
Ketika langkahnya semakin ke dalam, ia baru menyadari kalau ini bukanlah rumah, ini hanya bangunan besar yang tak memiliki furnitur apapun.
Di ruang tengah, ia menemukan sebuah kotak kayu. Gita mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Dennis!" Panggil Gita mencoba mencari sosok yang mengirimnya pesan tadi.
Karena kesal, akhirnya Gita berusaha menelepon Dennis lagi. Dering ponsel itu berbunyi dari dalam kotak tersebut.
Gita terdiam bingung. Tanpa mematikan panggilan teleponnya, ia membuka kotak kayu tersebut.
Saat itu juga kakinya terasa begitu lemas dan wajahnya memucat. Ia melihat dengan jelas ponsel yang sedang berdering mendapatkan panggilan masuk darinya itu bersama si pemiliknya, Dennis.
Melihat Dennis yang sudah meringkuk kaku di dalam, Gita buru-buru berbalik dan berjalan meraih knop pintu untuk pergi.
Sayangnya, karena langkah paniknya, Gita tak bisa berjalan dengan benar dan akhirnya seseorang sudah lebih dulu memukul bagian belakang kepalanya dengan balok hingga ia terjatuh dengan kepala yang berdarah.
Namun saat itu Gita masih berusaha untuk sadar dan meraih pisau lipat yang selalu tersedia di saku celananya.
Saat itu, ia benar-benar harus melawan dirinya sendiri untuk berani melihat Daffa yang menatapnya tanpa ekspresi.
Ketika Daffa akan menyeretnya, Gita melukai bagian lengan Daffa yang saat itu memakai sarung tangan.
Saat Daffa merasa kesakitan, Gita menendang laki-laki itu menyingkir darinya sekuat tenaga. Kemudian ia segera meraih knop pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE ME, HEAL ME
RomanceAnggita Wirahma adalah seorang penulis novel horor yang memiliki gangguan emosional dan kesulitan percaya kepada semua orang. Tapi bagi Devano, Anggita adalah perempuan berkepribadian ganda yang selalu jadi trouble maker dimana pun ia berada. Namu...
