YOU'RE NOT ALONE

247 45 14
                                        

Gita menyeret dirinya sendiri untuk bisa berdiri ketika ia mendengar suara langkah kaki ketukan yang sudah tak lagi asing di lorong apartemennya.

Ketika ia sudah meraih gagang pintu, waktunya sangat pas ketika orang itu berdiri di balik pintu dan menampakkan wajahnya di celah pintu apartemen yang sempat dibukanya.

"Gita-"

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Gita segera menutup pintunya dan menguncinya dari dalam. Tak peduli Dennis berusaha keras mencoba membukanya.

Jika memang niat Dennis meneror-nya, sekarang ia berhasil. Gita benci mengatakan ini tapi ia mulai takut dengan pria itu.

"Buka pintunya... Kamu akan nyesel, Gita..."

Gita tak menjawab, ia benar-benar takut apalagi dengan kondisi kakinya yang terkilir membuatnya kesakitan dan sulit bergerak untuk melawan.

"Buka pintunya, Gita. Atau saya dobrak."

Gita terjatuh ke lantai, kakinya terasa semakin berdenyut sakit ketika ia semakin panik.

Tanpa sadar, Gita merasa tangannya gemetar. Ia mengingat jelas kejadian seperti ini pernah ia alami sebelumnya.

Saat ia masih menjadi siswi SMA, ketika ia dilatih sejak kecil untuk tak pernah melawan laki-laki, ia hanya meringkuk di dalam gudang sekolah saat seorang pria terus menggedor pintu dengan keras.

"Gita... Jangan buat ini jadi sulit. Ayo buka pintunya... Saya tuh sudah suka lho sama kamu sejak dulu. Kamu itu cantik, anak yang baik, ayo keluar atau saya dobrak pintunya."

Ingatan itu muncul begitu saja hingga Gita tak bisa mengontrol dirinya sendiri.

Pintu apartemennya masih berusaha didobrak oleh Dennis, dan ia mencari apapun disekitarnya yang bisa menjadi senjata untuknya.

Ia menjatuhkan sebuah vas dan menyeret dirinya lagi untuk mengambil pecahan kaca dari vas bunga milik Nina itu.

Ketika ia sudah bersiap untuk menyerang dengan pecahan vas bunga itu, tiba-tiba gedoran di pintunya berhenti. Suara langkah kaki Dennis terdengar menjauh, tergantikan dengan suara langkah kaki cepat dari arah lain.

Gita berusaha tetap fokus dengan kedua matanya yang sudah berair, dan ia juga menajamkan pendengarannya lagi.

"Gita..." Panggil Devano berusaha membuka pintunya.

Gita menghela napas panjang ketika mendengar suara Devano yang memanggilnya dari luar.

Kali ini giliran Devano yang mencoba mendobrak pintu Gita. Namun sebelum itu terjadi, Gita sudah lebih dulu membuka kunci pintunya.

Ketika pintu terbuka, Devano segera memeluk Gita dengan erat. Detak jantungnya berdegup begitu kencang setelah berlarian ke sana kemari dengan panik. Dan akhirnya ia bisa menemukan Gita walaupun dengan kondisi yang berantakan.

"Kenapa? Tadi kamu kenapa? Ada yang nyerang kamu?" Tanya Devani bertubi-tubi sambil mencengkeram kedua bahu Gita.

"Dennis... Tadi dia berusaha masuk." Jawab Gita masih kaget dengan situasi ini.

"Makanya tadi kenapa sih kamu nyuruh saya ngejar orang yang ga jelas tadi? Udah tahu situasi kaya begini, kaki kamu terkilir kalau nanti kamu diserang gimana? Kenapa keras kepala banget, hah?" Omel Devano tiba-tiba menyentak Gita hingga gadis itu tak bisa berkata apa-apa.

"Kenapa kamu marahin saya?!" Balas Gita akhirnya bisa bicara walaupun air matanya jatuh di pipinya.

Devano berdecak kesal sambil menghapus air mata Gita.

LOVE ME, HEAL MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang