KEMBALI KE AWAL

288 51 5
                                        

Lorong-lorong rumah sakit Pelita Kasih terasa begitu panjang tak berujung bagi Devano.

Setelah berlarian dengan pikiran kacau, akhirnya dia sampai di ruang jenazah rumah sakit tersebut.

Beberapa anggota keluarga Nissa terlihat masih berada di sekitar sana. Sementara Aldo sibuk menenangkan kedua orang tuanya di lobby rumah sakit.

Devano hanya berdiri di depan ruang jenazah, rasanya sangat sulit untuk melangkahkan kakinya masuk.

"Devan, polisi udah simpulin penyebab kematiannya... karena bunuh diri. Lo harus ikhlas, Dev..." Ucap Aldo dengan kedua mata yang sembap sambil menepuk-nepuk bahu Devano.

"Engga, Al. Ga mungkin bunuh diri. Lo ngaco. Orang bentar lagi kita nikah... Ga bisa, Al... Nissa harus di autopsi-"

"Dev! Udahlah... Lo jangan konyol begini. Udah cukup kita sekeluarga ngerasa sakit banget. Lo jangan bikin masalah ini makin berat dong, Dev... Lo liat orang tua gue sehancur itu begitu tahu Nissa bunuh diri. Apalagi kalau dia denger lo keukeuh bilang ada yang bunuh Nissa? Makin hancur orang tua gue, Dev... Iya kalau bener, kalau engga? Cukup, Dev... Udah." Ucap Aldo dengan tegas dan terlihat sangat emosional.

Kedua matanya memerah, terlihat jelas raut kesedihan begitu mendalam kehilangan adik perempuannya itu.

"Gue yang salah, Dev. Gue ga sadar selama ini gue terlalu memaksakan adik gue, mengabaikan trauma yang mungkin masih dia punya. Jadi cukup." Jawab Aldo berjalan meninggalkan Devano setelah menegaskan kalimat itu lagi.

Suara pintu ruang rawat terbuka, Gita mendapatkan luka jahitan sepanjang 2cm. Ia melangkahkan kakinya dan duduk di sebelah Devano yang hanya diam melamun.

Gita menghela napas panjang sambil menyenderkan punggungnya ke senderan kursi dambil memangku tangannya yang masih diperban.

"Udah dapet informasi dari Hani?" Tanya Gita membuka pembicaraan.

"Rania masih di rumah sakit. Kedua orang tuanya dan juga Hani masih dimintai keterangan sama polisi." Jawab Devano kemudian menoleh ke arah tangan Gita yang diperban.

"Masih sakit?" Tanya Devano.

"Engga sama sekali." Jawab Gita dengan yakin.

"Ya udah coba sini-" Ucap Devano hendak meraih tangan Gita yang diperban, namun tentu saja Gita menjauhkan tangannya dari Devano.

"Bosen hidup?" Ancam Gita menatap Devano kesal.

Sementara Devano terdiam sejenak, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil tertawa pelan.

"Hani bilang, kamu bisikin sesuatu ke Rania. Apa yang kamu bisikin sampe Rania kasih reaksi yang beda?" Tanya Devano.

Gita lagi-lagi menahan napasnya sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.

"Saya tahu apa yang dia lakuin sama kamu." Ucap Gita pelan. Kemudian ia melanjutkan, "Saya juga akan bunuh dia kalau saya jadi kamu."

Selama sepersekian detik Devano terdiam. Ia menatap Gita tak percaya sementara ia merasa tiba-tiba saja keadaan lorong rumah sakit ini sangat hening.

"Dan dari reaksi Rania, saya yakin kalau perkiraan saya bener tentang apa yang dilakuin dukun abal-abal itu." Lanjut Gita menatap lurus ke depan.

"Kadang saya ngerasa takut sama kamu." Sahut Devano.

"Baguslah. Saya juga ga berekspektasi-"

"Tapi kadang saya kagum sama kamu." Potong Devano. "Untuk hal-hal tertentu aja." Lanjut Devano memperjelas maksudnya.

LOVE ME, HEAL MECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang