24|Kerinduan

85 14 10
                                        

Hari-hari kembali terlewati tanpa Rifqi. Sudah hampir satu tahun dari awal Rifqi koma. Sampai saat ini juga Rifqi masih enggan membuka matanya. Padahal besok adalah hari ulang tahun Syifa yang kedua. Jangan lupakan anak ketiga Raffan dan Thalita juga sudah lahir tiga bulan lalu. Mereka menamakan putri mereka, Almahyra Shezan Al Hafidz. Dipanggil Alma.

"Mas, sudah satu tahun loh. Kalo mas memang mau menyerah, ayolah kasih tanda atau sampaikan lewat mimpi! Adek juga ngga tega ngeliat tubuh mas terus dipenuhi alat medis seperti ini. Mas, besok Syifa ulang tahun, semoga mas bisa hadir sebagai kado terbaik buat dia dan kita semua." ucap Zea disamping Rifqi.

Zea sebenarnya ingin melepas alat bantu kehidupan Rifqi. Ia tak tega melihat tubuh kecil suaminya tertutupi berbagai alat medis. Tapi disisi lain ia juga belum bisa ikhlas jika harus melepas Rifqi. Tapi pastinya tubuh Rifqi sudah sangat tersiksa. Terlebih hampir setiap minggunya detak jantungnya hilang dan harus dipacu.

"Mas, besok semua akan berkumpul untuk mendo'akan Syifa dan mas Qiqi tentunya." Zea tersenyum kecil melihat Rifqi yang masih merespon dengan air matanya.

"Assalamualaikum Zi." salam Shafa.

"Wa'alaikumussalam kak." jawab Zea.

"Buat besok jadi kan? Orang tua sama kakak kamu jadi datang? Abi Fariz sama umi Farah sudah datang." tanya Shafa.

"Jadi kak. Mulai dari awal dzuhur. Nanti kita sholat dzuhur berjama'ah dulu dilanjut do'a bersama. Untuk masalah abi umi ku, barusan A' Azka chat kalo udah mau berangkat. Kemungkinan kalo ngga malam ini ya besok pagi sampai." jelas Zea.

"Ok, jadi persiapan bisa dimulai besok pagi atau nanti malam ya?" ujar Shafa.

"Iya kak. Tapi maaf untuk hari ini aku ngga bisa bantu banyak karena ada tugas di rumah sakit." ucap Zea.

"Ngga papa Zi. Kamu gini juga karena harus membiayai tiga anak sekaligus. Belum lagi obat-obatan Qiqi." jawab Shafa.

"Makasih ya kak. Mungkin kalo ngga ada kalian sekarang aku udah nyerah." ucap Zea.

"Sama-sama Zi. Sudah kewajiban kita sebagai sahabat, sebagai kakak membantu kamu." jawab Shafa.

"Nak?" Umi Farah masuk mendekati Zea.

"Umi," jawab Zea.

"Bagaimana kondisi Qiqi?" tanya umi Farah.

"Masih sama umi. Tapi untuk pagi ini sedikit ada perkembangan. Tadi jarinya gerak sedikit tapi belum sampai sadar." jelas Zea.

"Alhamdulillah, semoga jadi awal yang baik ya nak." ucap umi Farah.

"Aamiin Ya Allah." sahut Shafa dan Zea.

"Kamu ngga ke rumah sakit nak?" tanya umi Farah.

"Ini sebentar lagi berangkat mi," jawab Zea.

"Ya sudah, biar Qiqi umi jaga ya. Kamu fokus kerja aja." ucap umi Farah.

"Nggih umi. Zi permisi ke kamar dulu mau siap-siap." pamit Zea dan dijawab anggukan.

"Anak-anak sehat semuakan nak?" tanya umi Farah.

"Alhamdulillah umi sehat semua." jawab Shafa.

"Tadi umi ngga liat ada mas Rafka, kemana?" tanya umi Farah.

"Tadi pagi si pamitnya ada tugas di pesantren. Mungkin belum pulang," jawab Shafa.

"Umi, Shafa tinggal dulu ya, mau bantu yang lain." lanjut Shafa.

"Iya nak, silakan!" jawab umi Farah.

Shafa berlalu keluar kamar yang Rifqi tempati. Setelah Shafa keluar, umi Farah mendekati Rifqi.

Jannah BersamaMu[END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang