Sepulang dari makam, jiwa ice prince Rifqi terlihat. Sedikit omong tapi sekali mengeluarkan kata-kata langsung membuat yang lain bungkam. Nada dingin dan cuek serta tatapan mata yang tajam membuat yang lain tak berani menyela.
"Mas, makan dulu yuk! Adek sama umi sudah masak kesukaan mas Qiqi." ucap Zea.
"Nanti." Hanya kata itu yang Rifqi keluarkan.
"Mas, tolong maafin adek. Adek ngga bisa kalo mas diemin gini." pinta Zea.
"Jika keramahan ku dimanfaatkan, jangan salahkan jika aku dingin tanpa memandang siapa orang itu."
Jleb!
Rasanya seperti tertusuk beribu anak panah, hati Zea terasa sakit mendengar kata-kata Rifqi. Dari harus menahan sakit hati, Zea memilih keluar kamar meninggakan Rifqi sendiri.
"Maaf dek, bukan maksud mas mau nyakitin adek. Tapi mas pengin kalian tau gimana rasanya diabaikan. Anggap saja mas ini egois. Tapi mas juga ngga bisa terus diam seperti ini. Mas akan buat semua sadar dan kita bisa menggapai kebahagiaan bersama." monolog Rifqi setelah Zea pergi.
Ting!
Suara pesan masuk membuat fokus Rifqi teralih. Ia segera membuka HPnya dan ternyata nomor tak di kenal lagi.
"Siapa sebenarnya orang ini?" gumam Rifqi.
"Ternyata mental lo gampang banget dijatuhkan ya! Hemm gue suka dengan permainan ini! Jangan anggap semua sudah selesai karena ini baru AWAL!!" Rifqi membaca pesan yang masuk. Tangannya mengepal kuat.
"Siapa pun lo yang neror gue, jangan harap lo bisa menang!" ucap Rifqi menggunakan bahasa gaulnya.
"Astaghfirullah sabar Qi sabar.." gumam Rifqi mengusap kasar wajahnya.
'Ya Allah lindungilah hamba dan keluarga hamba.' batin Rifqi.
Rifqi beranjak dari duduknya dan keluar kamar bergabung dengan yang lain.
"Assalamualaikum." sapa Rifqi.
"Wa'alaikumussalam." jawab yang lain.
"Sini dek makan dulu! Adek belum makan siang loh!" ucap umi Farah.
Rifqi hanya merespon dengan senyuman yang sangat tipis.
"Dek, nanti abi boleh bicara berdua sebentar?" tanya abi Fariz.
"Boleh bi," jawab Rifqi.
Rifqi kembali fokus pada makanannya. Setelah selesai Rifqi keluar ke teras bersama abi Fariz.
"Mau bicara apa bi?" tanya Rifqi memulai lebih dulu.
Sebelum bicara, abi Fariz membelai Rifqi terlebih dahulu.
'Bi, tolong jangan terlalu lembut ke adek! Adek ngga mau lemah terus!' Rifqi menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya.
"Nak, abi tau adek kecewa sama kita. Adek boleh kalau adek mau mendiami abi. Abi ikhlas, dek. Tapi abi mohon jangan diami umi, sayang. Bagaimana pun, surga adek ada di umi. Kalau sampai adek melukai hati umi, apalagi sampai membuat umi ngga ridha sama adek, hilang sudah surga adek. Adek ngga mau itu terjadi kan?" tanya abi Fariz.
Rifqi hanya mengangguk kecil.
"Jangan sampai ya dek. Abi ngga mau ada anak-anak abi yang kehilangan ridha umi. Dan satu lagi. Adek pasti tau kan kalau seorang laki-laki atau lebih tepatnya seorang suami membuat istri menangis maka setiap langkahnya akan dilaknat oleh malaikat. Abi ngga mau adek salah jalan apalagi terkena laknat karena kekecewaan adek sama kita. Abi mewakili diri abi sendiri, mewakili umi, nak Zea, kakak-kakak yang lain, mohon maaf sama adek. Maaf sudah membuat adek kecewa, sedih bahkan sampai sakit. Mungkin kata maaf yang abi ucapkan ngga bisa menyembuhkan luka di hati adek. Tapi abi mohon maaf sebesar-besarnya, sayang. Semoga adek bisa ikhlas memaafkan kita." lanjut abi Fariz.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jannah BersamaMu[END]
Fanfiction[Squel KEKUATAN CINTA] Menyembunyikan rahasia dengan alasan takut? Itu salah besar. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah membuat masalah baru. Bagaimana rasanya jika harus memilih satu diantara dua yang kita sayang? Sakit pastinya. Diuji denga...
![Jannah BersamaMu[END]](https://img.wattpad.com/cover/274674185-64-k481519.jpg)