28. Insiden Tak Terelakkan

323 38 0
                                    

Mau tahu siapa orang paling bahagia malam ini? Mau tahu siapa orang paling semangat malam ini atau siapa orang paling antusias malam ini? Maka, hanya satu nama yang bisa keluar sebagai jawaban semua bombardir pertanyaan itu. Huang Renjun. Si pemuda Jilin yang tengah meletup-letup bersama rasa bahagianya.

Bagai kembang api, Renjun tak bisa menghindari gejolak di dalam dirinya. Mamanya benar-benar tiba di bumi Korea. Letupan kebahagiaan itu berawal di jam 4 pagi. Ketika ponselnya membawa getar singkat.. Tangannya menggapai-gapai nakas bersama kelopak matanya yang sulit dibuka lebar-lebar. Sinar itu pada akhirnya menyapa netranya. Pedih dicampur silau yang menusuk, Renjun mengusap matanya. Sedetik kemudian—diawali akan pandangannya yang mengabur—Renjun berhasil menemukan sesuatu di dalam ponselnya. Sebuah pesan dengan untaian kalimat singkat; Mama sampai di Korea Selatan 15 menit yang lalu.

Seakan sehat bugar, Renjun asing dengan kata kantuk yang sempat melandanya kelewat berat. Mata itu membeliak lebar. Mulutnya nyaris memekik tapi buru-buru dibungkam. Si maknae tengah lucu meringkuk di atas ranjangnya.

Renjun tak pernah tahu bahwa efek atas tibanya sang Mama di negeri ini amat besar. Hampir menyaingi keceriaan dan hiperaktif yang dikaruniai teruntuk Lee Haechan. Senyum lebar itu tak pernah luput untuk dibentangkan setiap detiknya. Tepukannya sempat mendarat di pundak pemuda lain. Jalannya lunglai, seakan baru bisa meloloskan diri dari jeratan penjajah yang bengis. Malam itu, Renjun menghadiahi Jeno sebuah ucapan kecil.

"Semangat dong! Ini bener-bener penentuan! Kita semua harus semangat! Kamu lemes banget kelihatannya? Belum makan? Baik-baik aja kan?"

Yang ditanya mengerut samar. Huang Renjun benar-benar menyaingi semua kecerewetan Lee Haechan. Senyumnya lebih cerah ketimbang sinar matahari yang menyembul di ufuk timur. Lumayan mengejutkan. Poinnya bukan tepat karena semua keceriaannya yang membludak. Sampai saat ini, baru si Jilin yang berani menegur si mata sabit. 5 kawannya yang lain seakan tengah abai. Antara ada dan tiada.

Tapi Jeno tak pernah mau untuk melayangkan protesnya. Membabi-buta bersama emosinya yang meluap-luap atau membombardir banyak pertanyaan atas dasar ketidakterimaan pada mereka. Kenapa mereka semua mengacuhkannya? Kenapa mereka menganggapnya tak ada? Kenapa mereka melakukan itu? Apa ini pertanda bahwa mereka tak lagi menganggapnya sebagai teman? Sayangnya, tidak. Jeno tak akan pernah tergerak untuk melayangkan semua pertanyaan itu. Jawabannya cukup simpel—sebab Jeno sendiri cukup tahu diri letaknya membuat kesalahan.

"Kelihatannya kamu antusias banget?" Jeno balas melontar pertanyaan lain alih-alih menjawab banyaknya tanda tanya yang menghujani untuk dirinya.

Kelewat semangat, kepala itu mengangguk. "Pasti. Mamaku datang ke sini. Kamu mungkin nggak tahu gimana rasa bahagia ini buatku. Ini bener-bener berarti. Orang tuaku yang selama ini nggak pernah memihakku, sekarang mau dukung aku. Dia bahkan sampai jauh-jauh dari China. Aku tersentuh." Kedua tangannya ditangkup di depan dada. Binarnya memancarkan banyaknya rasa haru yang terus-menerus menyergap dirinya.

"Renjun. Apa itu artinya kamu udah siap kalau salah satu dari kita dieliminasi?" Pelan, pertanyaan itu mengudara. Ini memuakkan namun juga mencekik di satu saat yang bersamaan. Bayang-bayang tentang bisikan iblis yang berhasil mendorongnya masuk ke dalam jurang kecurangan itu kembali menguasai di dalam benaknya. Hanya dalam satu jentikkan jari, Jeno dihantui akan rasa bersalahnya—lagi.

Seakan diperingatkan tentang rambu-rambu yang membahayakan di depan sana, Renjun tercenung. Keceriaan itu redup bersama dengan senyum yang semakin pias. Jeno benar. Terlambat menyadari, Renjun melupakan efek samping malam ini.

Dia ingin iba. Dia ingin tersedu-sedu ketika satu per satu dari mereka mulai meninggalkan jejak yang sama. Dia ingin mengutarakan kekhawatirannya. Tapi tak ayal, sesuatu yang lebih mengerikan justru menyambar dirinya. Pertanyaan paling horor untuknya hanyalah; bagaimana jika dirinyalah yang dieliminasi malam ini?

Lose Me If You Can ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang