41. Dia Yang Sempat Diam

222 39 2
                                    

Tempatnya bersih. Seputih kapas yang lembut. Menyerupai ruang namun di sisi yang sama tak pantas disebut begitu. Hamparannya ditumbuhi rerumputan yang dirawat bagai tanaman langka. Seseorang terjebak di tengah-tengahnya. Tak bisa menerka-nerka dimana dirinya saat ini. Barangkali berhasil sampai di surga indah yang dijanjikan Tuhan atau malah bertemu malaikat maut. Bersiap-siap untuk dicabut nyawanya. Menanti-nanti segalanya menggelap lantas ia hanya perlu melambaikan tangannya kepada dunia.

Sosoknya tinggi semampai. Ketika kepalanya menunduk, tubuh itu dibalut setelan rumah sakit yang warnanya biru muda. Motifnya lambang palang merah yang memenuhi segala sudutnya. Kemudian, dia terbengong-bengong. Kepalanya ditolehkan. Menelisik tempat itu.

Aku dimana?

Kalimat itu yang sedari tadi terngiang. Dia tak tahu ini tempat apa atau malah antah-berantah dimana ia resmi diusir dari bumi. Semuanya nyaman dipandang tapi mengerikan dalam satu waktu yang sama. Sepi, hening, senyap tanpa kicau burung sekecil apapun. Maka, segeralah rasa panik itu menyergap.

Park Jisung sendirian di tempat aneh ini.

Ini mengerikan. Rasanya seperti tengah menjalani simulasi penimbangan amal baik dan buruknya. Seorang diri, tak tahu apa yang satu detik berikutnya akan menimpa dirinya. Kemudian, teramat pelan, mulutnya berucap lemah.

"Aku mau pulang." Katanya lirih. Tubuhnya mengkerut. Kakinya mundur perlahan. Menjauh dari semua ini. Tak cukup masuk akal ketika dia harus merasa ketakutan padahal di depan sana hanya sekedar hamparan rumput yang kelewat luas dan mungkin tak berujung. Bukannya kawanan serigala yang berbulan-bulan gagal memangsa untuk memenuhi perutnya.

Tapi tahu-tahu, "Jisung."

Kelewat leganya, si empu nama berbalik. Ini kabar baik, membawa banyak taburan bunga untuk jiwanya yang sempat kelabu. Senyum itu merekah bersama sorot kerinduan yang kuatnya bukan main. "Renjun Hyung."

Berhasil. Jisung menemukan sosok-sosok yang dicari. Mereka berdiri memanjang. Berjejer layaknya roti-roti yang tengah dijajakan untuk pelanggan. Sayangnya, sesuatu agaknya mulai berjalan dengan tak semestinya. Satu-satunya sosok yang menyadari kehadirannya—mungkin—hanya si pemuda Jilin. Lima sisanya tak berbalik. Seolah tak menyadari eksistensinya, mereka melangkah. Memunggungi Jisung dan Renjun. Kian menjauh, menyeret kakinya pergi bagai orang asing yang tak saling kenal-mengenal.

"Hyung! Mark Hyung! Jaemin Hyung! Chenle?!" Jisung keras memanggil-manggil. Nyaris menyerupai raungan. Berjuang menarik atensi mereka. Tapi gagal, kelima-limanya sama sekali tak menoleh. Sekedar menghentikan langkah pun enggan. Rungunya seakan menuli. Maka, Jisung menuntut jawaban pada satu-satunya sosok yang tersisa. "Renjun Hyung, kenapa mereka nggak berhenti? Suaraku nggak kedengaran? Mereka mau kemana?" Pertanyaan itu membombardir. Disertai akan sarat panik yang luar biasa. Jisung takut. Mereka semua nampaknya punya niat besar untuk membiarkannya seorang diri bersama kejamnya dunia dan segala macam tetek-bengeknya.

"Ngapain kamu di sini?" Alih-alih mengudarakan sebuah jawaban, Renjun malah melontarkan pertanyaan.

Jisung memaku. Ia mulai benci situasinya. Kepalanya menggeleng keras-keras. "Nggak tahu! Aku nggak tahu kenapa aku ada di sini." Kakinya dilangkahkan. Berusaha menyamai titik pijakannya. Mereka kian menjauh sementara Jisung masih terpaku pada tempatnya. Sesuatu seolah menahannya. Melarang dirinya untuk ikut bergabung.

"Jisung, tenang. Mereka nggak akan kenapa-kenapa dan kamu pun begitu." Kalimat itu melesat. Tujuannya untuk mengusir sergap kepanikan milik si pemuda kelebihan kalsium. Dari sorot matanya, Renjun menyaksikan bagaimana kerasnya Jisung berusaha menggerakkan kakinya. Kedua tangannya ikut memberi sebuah dukungan. Mencengkram kakinya kuat-kuat, berjuang untuk diangkat dari titiknya tapi nihil. Park Jisung masih tak bergeming.

Lose Me If You Can ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang