Manusia bukan makhluk sempurna. Manusia hidup bukan sekedar untuk menciptakan banyak kebaikan. Fakta gelapnya, seberapa baiknya hati seseorang, mereka mustahil tak menyimpan sedikit keburukan di dalamnya. Sebab itu memang sudah ditetapkan sebagai kodrat. Kemanapun kamu mencari untuk mendapatkan manusia paling baik, itu sia-sia. Karena manusia memang tak pernah akan ada yang sempurna.
Seharusnya, Lee Jeno sudah bisa menjatuhkan pilihannya. Seharusnya, pemuda dengan netra memikat bak bulan sabit itu bisa memilah mana hal yang baik mana yang buruk. Mana yang bisa ia kerjakan mana yang tak bisa ia kerjakan.
Lee Jeno orang yang baik. Itu benar dan memang benar. Dilontarkan dari banyak mulut. Perihal sosoknya yang tak akan banyak ambil pusing ketika matanya menyaksikan betapa sulitnya seorang wanita senja yang tengah kerepotan menyeberang sementara dirinya diburu waktu. Jeno juga tak pernah ragu untuk berkorban. Itu sebabnya Mark Lee pernah mencoba melimpahkan tugas berat seorang pemimpin padanya.
Sayangnya, Lee Jeno pun tetap manusia. Makhluk yang mustahil tak akan pernah melakukan suatu kekhilafan. Ini hanya tentang dirinya. Jeno hanya ingin punya perkembangan.
Sejak kakinya menapak, yang namanya Lee Jeno amat sangat buruk dalam membangkitkan sisi kekecewaan orang lain. Ketika orang tuanya berharap banyak akan prestasinya, Jeno mewujudkan itu. Ketika sang Mama menyatakan takdirnya bahwa ia memang terlahir untuk selalu memeriahkan dunia di balik layar kaca itu, Jeno tak bisa mengecewakannya.
2 hal yang tak bisa Jeno kuasai dengan mudah; berbohong dan mengecewakan.
Tapi sayangnya, salah satu dari kedua hal itu malah tengah ia jalani. Sebelum-sebelumnya, Lee Jeno tak pernah berhasil menjalankan misi kebohongannya. Haechan pernah bilang, nggak usah mau bohong segala, bahkan orang buta pun tahu kalau kamu lagi bohong, Jeno.
Kepalanya menunduk. Menggemakan pinta maafnya. Lirih dan nyaris tenggelam akan gesekan angin yang menerpa kulitnya sendiri. Bergerak, tangan kanannya meraih sebotol air mineral. Menenggaknya, tandas dalam 7 detik berikutnya.
Suara bariton lainnya masih belum bosan mengudara. Jeno menoleh, mendapati ponselnya masih menyala terang. Menampilkan grafik naik-turun yang drastis bergerak. Belum mau berhenti dan tak akan berhenti kecuali dihentikan. Itu suara Mark Lee. Lantunan liriknya yang diucap kelewat cepat tengah membara. Menampik keras bahwa Mark bukan seseorang yang gampang diremehkan. Mencabik-cabik jiwa Lee Jeno tentang seberapa piciknya ia saat ini.
"Sendirian aja? Kemana kawan-kawanmu yang solidaritas itu?"
Derap langkah lain tahu-tahu menginterupsi. Menyulap atensi Jeno untuk melabuhkan netranya ke arah objek lain. Kepalanya mendongak. Bukan sebuah berita yang baik dan harus diceritakan ketika kenyataan yang ia dapati saat ini adalah presensi Kang Junhee. Bersama sekaleng soda di tangan kirinya, pemuda itu beringsut duduk. Bersisian dengan si sipit Jeno.
Menyembunyikan brankas rahasianya, Jeno meraih ponselnya. Berniat segera melindungi ponselnya dari jeratan monster mengerikan di sampingnya. Sayangnya, Junhee lebih dulu cepat menyadari. Gerakan tangannya lebih gesit ketimbang Jeno yang tengah dikurung akan kegugupannya.
"Balikin!" Perintah itu mengudara lantang-lantang. Si mata sabit berusaha merebut barangnya kembali. Tak ingin seseorang mengetahui fakta gelapnya yang tengah ia tutup rapat-rapat.
"Eit! Sebentar, aku mau lihat dulu. Kenapa sih? Emang ini apaan?" Menyembunyikan tangan kanannya, Junhee menjauhkan ponsel di genggamannya dari sang empu. Kepalanya menoleh ke belakang. Menatap layar ponselnya yang masih menyala terang-terang.
"Sialan! Aku bilang balikin!" Jeno menggertak. Pemuda itu mulai dihujani akan rasa sesalnya sendiri. Tak seharusnya ia mengumbar sesuatu yang segera menjadi rahasianya di tempat terbuka dengan volume sekeras ini.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lose Me If You Can ✔️
FanfikceSatu-satunya yang paling ampuh mengacaukan jiwa Park Jisung hanyalah masa depan. Tentang mereka, tentang dirinya bersama 6 pemuda itu. Mereka telah memulai garis awal bersama-sama. Maka seharusnya mereka pun berakhir dalam akhir yang sama pula. Tapi...