Bentuknya panjang, tinggi menjangkau apapun yang tengah berusaha untuk diraih. Undakannya ada beberapa—tidak sampai sepuluh. Mungkin tingginya sekitar 3 meter atau malah lebih. Di pucuknya, bertengger Huang Renjun. Kedua tangannya terangkat. Menggulir lampu bohlam yang mulai kehabisan energinya. Diputar, dilepaskan dari tahtanya sebelum berakhir menjadi setumpuk rongsokan.
Sebetulnya, Lee Jeno atau Na Jaemin, kelihatannya nampak lebih gagah ketimbang Renjun. Postur mungilnya kurang cocok dikorbankan. Jeno bersama kekarnya tangan itu, pasti akan lebih tangkas. Setidaknya memperpendek waktu sekaligus memancarkan pesonanya sebagai bonus kecil-kecilan. Na Jaemin tak bisa dimintai bantuan. Sosoknya lenyap entah kemana tanpa sepatah kata pun. Sementara si roommate, yang diduga mampu menggantikan peran Renjun saat ini, tengah mencoba mencari-cari sahabat sehidup sematinya.
"Bisa nggak, Ren?"
Dari bawah, Mark mewanti-wanti. Kepalanya mendongak. Mengawasi manusia mungil di atas sana yang sialnya malah nampak menggemaskan berkali-kali lipat ketimbang biasanya.
"Bisa. Gampang, sebentar lagi selesai." Tangan kanannya berhasil menggenggam lampu rongsokannya. Tubuh itu sedikit membungkuk, menyerahkan barangnya sebelum ditukar dengan yang baru.
"Hati-hati." Mark mengingatkan, tak bosan-bosan. Di titiknya, Renjun mengangguk mengiyakan. Tangannya kembali bekerja. Memasang lampu bohlam serahan Mark Lee. Dapur ini lumayan kacau seandainya lampu sekecil ini tak diganti. Walau ada lampu-lampu lain yang watt-nya lebih tinggi, lebih terang, ruangnya tak cukup dengan beberapa buah lampu. "Semuanya lebih baik sekarang. Iya kan Ren?" Dari bawah sana, Mark mengulas satu pembicaraan baru.
"Iya." Singkat, Renjun menyahuti seadanya. Air mukanya lebih serius ketimbang seorang ibu yang tengah mengasuh anaknya sepenuh hati. Menyingkirkan tangis bayinya yang mengganggu rungu.
"Aku kelewat lega sekarang Jisung udah bisa kayak dulu lagi." Menunduk kecil, Mark mengulas senyum. "Kalau kompetisi ini harus dilanjutin, aku nggak peduli mau menang nggak. Asal kita bertujuh sebaik dulu. Mimpi itu nggak akan pernah aku ubah, tapi suatu hari pasti kesampaian tanpa harus banyak korbanin pertemanan sampai separah ini."
Mark tak pernah tahu, rupanya di atas sana Renjun nyaris tak punya atensi yang tersisa walah seujung kuku pun. Sekedar untuk membuka mulutnya yang sempat bungkam, si Jilin itu seakan tak tergiur. Obsidian itu agaknya lebih tertarik mengamati lampu bohlam yang tengah ia gulir. Mengeratkannya sebelum kerjanya benar-benar berakhir.
"Kalau gitu, seandainya kamu menyerah kali ini, semuanya harus ambil keputusan yang sama? Katanya satu debut, semuanya juga. Begitupun sebaliknya." Tahu-tahu, Renjun yang masih nyaman mematut diri di atas sana menyerukan kalimatnya walau tak terlalu keras.
"Aku nggak akan nuntut kayak gitu." Mark menekuk lututnya—berjongkok. Tangan kanannya tergerak. Bersama dengan kuku-kuku itu, kakinya digaruk kuat. Sebelumnya, sesuatu bagai petir yang tak diduga-duga mampir ke sana. Membawa satu cubitan kecil sebelum disusul akan rasa gatal. Seekor semut berhasil menggigit si Kanada tanpa alasan yang jelas. "Kalaupun itu kamu yang bakal menang atau siapapun, aku tetap bakal bahagia selama semuanya tetep pada takar yang seharusnya. Kemarin-kemarin aku sampai di puncak kekhawatiranku. Gimana kalau pertemanan ini sampai nggak tertolong? Aku gagal jadi pemimpin sekaligus gagal jadi temen yang baik."
Kuku-kuku itu berhenti menciptakan garukan seiring rasa gatal yang kian memudar. Mark terpaku untuk 5 detik lamanya. Lantas, tubuhnya bangkit. Niatnya mengudarakan sebuah interupsi supaya si Huang cepat turun dari sana. Tapi tahu-tahu, sikunya menyentak sesuatu. Sempat tersangkut di undakan tangga yang ketiga. Kemudian tempat pijakan Renjun membawa guncangan kecil. Lama-lama kian membesar, kehilangan keseimbangan lalu—bruk!—debumnya keras menggema. Tangganya jatuh menghantam lantai dibarengi retak kecil yang turut serta. Renjun menjadi korban satu-satunya. Mulut itu mendesis pelan.

KAMU SEDANG MEMBACA
Lose Me If You Can ✔️
FanfictionSatu-satunya yang paling ampuh mengacaukan jiwa Park Jisung hanyalah masa depan. Tentang mereka, tentang dirinya bersama 6 pemuda itu. Mereka telah memulai garis awal bersama-sama. Maka seharusnya mereka pun berakhir dalam akhir yang sama pula. Tapi...