Typo itu manusiawi kawan.
"Hana?"
"G-gege?"
***
Hana, Chenle, dan Mama, duduk bersebelahan dengan Mama berada diantara Hana dan Chenle. Mama menggenggam tangan Hana untuk membuatnya tenang.
Mama memilih untuk membantu Hana menceritakan apa yang terjadi. Chenle menyimak ceritanya, sembari sesekali melirik Hana yang menunduk.
"Sepertinya kalian butuh waktu," ucap Mama setelah selesai menceritakan semuanya, lalu meninggalkan Hana dan Chenle yang sudah duduk di ruang keluarga.
Chenle terus menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan, sedangkan Hana menunduk tak berani menatap Chenle.
"Hana," panggil Chenle.
"Aku tau aku salah, maafkan aku, aku hanya tak ingin membuatmu khawatir," ucap Hana dengan posisinya yang masih menunduk.
"Tapi dengan kau tak mengabariku, itu membuatku khawatir juga, setidaknya beri aku kabar," ucap Chenle dengan nada lembut.
"Dimana cincin lumba-lumba, dan gelangnya?" tanya Chenle, karena cincin dan gelang itu lah yang terdapat alat pelacaknya dan jika salah satunya hilang pelacaknya akan mati.
"Ada di- hilang?" ucap Hana saat menyadari bahwa cincin itu hilang dari jarinya, walah gelangnya masih ada.
"A-aku ingat seharusnya aku gunakan, aku tak pernah melepaskannya, aku bersumpah. Aku tak tau kenapa itu bisa hilang, ak-"
"Stt, it's okey," ucap Chenle lembut.
Punggung Hana bergetar, dia menangis.
"Maafkan aku," ucap Hana dengan susah payah menahan isaknya.
"Aku tau semua yang kau lewati baru saja itu berat, kau boleh menangis untuk melampiaskan semuanya, namun setelah itu berjanjilah untuk menangis hanya dengan air mata kebahagiaan," ucap Chenle merangkul Hana, mengelus pundaknya guna menenangkan Hana.
"Maaf," ucap Hana sembari memeluk Chenle dari samping.
"Tak apa," ucap Chenle membalas pelukan Hana.
Cukup lama untuk Hana kembali tenang.
"Sekarang kembali lah ke dormmu, eonniemu pasti mengkhawatirkanmu juga melihatmu di televisi dengan kasus itu, ceritakan semua," ucap Chenle.
Hana mengangguk.
"Biar aku antar, tak ada penolakan. Mama, aku mengantat Hana pulang ya," pamit Chenle ada Mamanya.
"Ya, hati-hati, jangan sampai putriku lecet," ucap Mama membuat Hana tersenyum.
"Ayo," ucap Chenle.
"Kau sudah memesan taxi?" tanya Hana.
"Untuk apa? Kan ada mobil," ucap Chenle.
"Kau punya mobil?" Hana kaget tentunya.
"Punya, aku bahkan punya sim, hanya saja, aku jarang memakainya," ucap Chenle.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEOUL
Fiksi Penggemar"Apakah kalian berminat untuk menjadi idol di agensi saya?" [×NCT] . . . Cerita ini hanyalah FIKSI belaka!!! •Penulis amatiran •Kata tidak baku dan kata kasar bertebaran •Mohon maaf bila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan Start - 7 Januari 20...
