Dirgahayu Indonesia yang ke-76🇮🇩
"Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh"
Semoga Indonesia semakin jaya dan semoga pandemi ini cepat berakhir.
MERDEKA..!!!!!
Selamat membaca🐝
DUARRR!!!
Suara petir yang bergemuruh tak membuat gadis itu bangkit dari tanah tempatnya bersimpuh. Didepannya, ada sebuah makam yang masih basah. Mata gadis itu sembab, dadanya terasa sesak seakan berada di tempat minim oksigen. Dunianya hancur setelah sang ibu yang selama ini merawatnya pergi untuk selama-selamanya.
Gadis itu sudah tidak terisak. Namun air mata masih saja mengalir dari matanya tanpa bisa ia cegah. Ia menatap kosong gundukan tanah di hadapannya. Satu-satunya orang yang ia miliki kini sudah pergi. Lantas dengan siapa ia akan menjalani hidup setelah ini?
"Sayang," panggil wanita paruh baya yang sedari tadi menemani gadis itu.
"Kita pulang ya," ajaknya. Namun gadis itu masih diam.
"Mulai sekarang kamu tinggal sama kita," ujar pria paruh baya yang berdiri di samping wanita paruh baya tadi.
"Kenapa Areta harus tinggal sama kalian?," tanya gadis bernama Areta itu. Ia berbicara tanpa menatap lawan bicaranya. Gadis itu masih fokus menatap objek di depannya, tempat peristirahatan terakhir sang ibu.
"Kamu anak kami. Sudah seharusnya kamu tinggal bersama kami," jawab pria paruh baya tadi.
Areta tertawa sinis. "Areta nggak bisa tinggal serumah sama seorang pembunuh," ujarnya menatap seorang pemuda yang sedari tadi menunduk.
"Dia kakak kamu. Bukan pembunuh," ucap pria itu.
"Dia yang udah bikin Ibu saya meninggal. Lalu apa namanya jika bukan pembunuh?," tanya Areta. Suaranya bergetar menahan tangis. Ia menatap nyalang tiga manusia dihadapannya.
"Sudah papa katakan. Bukan kakak kamu yang menabrak Ratih,"jelas pria itu.
"Dan Anda pikir saya akan percaya?," tanya Areta remeh.
"Papa sedang mencari buktinya. Papa juga sedang mencari orang yang sudah menabrak Ibu kamu,"
"Untuk apa sibuk mencari jika pelakunya ada di sini?," tanya Areta menatap tajam pemuda dihadapannya. Pemuda itu hanya bisa menunduk. Matanya memanas. Adik yang selama ini ia rindukan sudah ada didepannya. Namun bukan pelukan rindu yang ia dapatkan. Melainkan tatapan kebencian juga kalimat menyakitkan yang adiknya berikan.
Pemuda itu mendongak, menatap langit yang kini berwarna gelap untuk menahan agar air matanya tak luruh. Tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya. Tidak ada hal menyakitkan selain melihat adiknya menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.
"Maaf," lirih pemuda itu.
"Maaf? Apa maaf bisa ngembaliin ibu gue? Apa dengan kata maaf ibu gue bisa hidup lagi?!," bentak Areta.
"Nggak bisa kan?!," bentak Areta lagi. Napasnya memburu. Matanya berkilat marah. Tiga orang dihadapannya hanya bisa diam melihat kemarahan Areta. Mereka paham Areta masih dalam masa berkabung. Emosinya masih belum stabil.
Tak lama rintik hujan mulai turun. Namun hal itu tak membuat Areta beranjak dari pemakaman. Ia masih setia menatap nisan bertuliskan nama ibunya.
"Sayang, kita pulang ya," ajak wanita paruh baya itu lagi. Ia menatap khawatir Areta yang sudah menggigil. Hingga beberapa saat kemudian tubuh Areta luruh. Kedua matanya terpejam, Areta tak sadarkan diri.
***
Halo guyss..
Ini cerita pertamaku. Semoga kalian suka ya:)
Jangan lupa vote and coment🐝
17 Agustus 2021🇮🇩
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Teen FictionAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
