Vote dulu yuk biar nggak lupa:))
***
Tari memasuki rumah dengan senyum lebar. Puas sekali bisa mengalahkan Areta walau harus menggunakan cara curang. Gadis itu tidak peduli. Yang penting ia bisa menang.
Gadis yang masih mengenakan seragam sekolah itu menaiki anak tangga satu persatu. Tangan kanannya memainkan kunci mobil miliknya sedangkan tangan kirinya memegang tas sekolah yang ia sampirkan di bahu sebelah kiri.
“Masih inget pulang?” suara wanita paruh baya menghentikan langkah Tari. Gadis itu berbalik, menatap seseorang yang berdiri di anak tangga paling bawah dengan tangan bersedekap dada.
“Kenapa? Biasanya Mami juga nggak peduli aku mau pulang apa enggak."
"Kamu jangan buat masalah terus bisa nggak sih? Mami capek tiap hari dapet laporan masalah yang kamu buat." wanita paruh baya itu terdengar frustasi.
Tari hanya memutar bola matanya malas.
"Mami udah capek kerja seharian. Kamu jangan nam–,"
"Aku nggak pernah nyuruh Mami kerja!"
"Mami kerja buat kamu. Mau makan apa kita kalau Mami nggak kerja?!"
"Kamu nggak akan tinggal di rumah sebesar ini kalau Mami nggak kerja. Nggak akan bisa pake mobil mewah tiap kali pergi. Nggak akan bisa beli apapun yang kamu mau!"
"Aku nggak butuh itu semua Mi! AKU CUMA BUTUH MAMI!!" teriak Tari emosi. Matanya berkaca-kaca dengan tangan mengepal kuat.
"Kamu bukan anak kecil lagi. Nggak perlu lagi Mami–,"
"Emang waktu aku kecil pernah Mami ada pas aku butuh?! Pernah Mami nemenin aku yang ketakutan di rumah sendiri? NGGAK PERNAH!!" lagi. Tari memotong ucapan wanita yang dipanggil Mami itu.
"Mami kerja. Mami nggak punya waktu buat terus nemenin kamu."
"Kalau gitu kenapa Mami nggak biarin aku ikut papi aja? Kenapa Mami selalu larang aku buat ketemu sama Papi?!"
"PAPI KAMU UDAH NGGAK ADA!!" bentak wanita itu membuat Tari mengerjap lemah.
Gadis itu menggeleng pelan. "Mami bohong. Aku benci sama Mami!" ujar Tari lalu berlari menuju kamarnya.
"Tari! Mami belum selesai ngomong!"
"ANTARINA MELODY!!"
***
Suara alarm jam membangunkan Areta. Gadis itu bangkit dari ranjang dengan hati-hati. Sekujur tubuhnya terasa sakit saat ia bergerak. Pukulan yang diberikan Tari memang tidak main-main.
Areta mengulurkan tangannya untuk mematikan jam weker yang ada di atas nakas samping ranjangnya. Jam delapan kurang lima belas menit.
Gadis itu berniat melanjutkan tidurnya namun terurungkan saat matanya tak sengaja melihat kalender. Ini hari Minggu. Seketika Areta melebarkan matanya. Ia lupa jika hari ini ada janji untuk mengerjakan tugas akhir dari Pak Daniel.
Areta buru-buru mencari ponselnya yang sejak kemarin sore tidak ia sentuh. Tapi ponselnya tidak ada dimanapun.
“Apa jatuh di gudang ya?” gumamnya.
Gadis itu memutuskan pergi ke kamar Raka setelah mencuci muka dan menggosok gigi.
Pintu kamar Raka tidak dikunci. Jadi Areta masuk begitu saja. Dilihatnya Raka masih tertidur.
“Abang bangun.” Areta mengguncang bahu Raka pelan membuat lelaki itu menggeliat sebelum membuka matanya.
“Kenapa?” tanya Raka dengan suara khas orang bangun tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Fiksi RemajaAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
