"Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?," tanya Bu Friska setelah memergoki Areta dan Tari bertengkar dikamar mandi tadi. Kini mereka sedang berada di ruang BK.
"Dia yang mulai Bu," tunjuk Tari ke arah Areta.
"Tari duluan yang bully murid lain Bu. Dan saya tidak mungkin diam saat melihat ada kasus pembulyan," ujar Areta.
"Bully gimana maksud kamu? Nggak mungkin Tari kayak begitu," celetuk Bu Winda selaku guru BK.
"Kalau Ibu nggak percaya, Ibu bisa tanya murid yang tadi ada di kamar mandi bersama saya," jawab Areta yakin.
"Kamu jangan mengada-ada ya. Kamu juga kan murid baru di sini. Udah bikin masalah aja," ujar Bu Winda.
"Pasti kamu yang cari masalah kan? Sebelum kamu masuk sini Tari belum pernah berkelahi sampai luka-luka begini," lanjutnya sambil menunjuk beberapa lebam di bagian tubuh Tari. Luka yang Tari dapat lebih banyak daripada luka Areta. Tari tidak menduga jika ternyata Areta juga pandai bela diri.
"Sebaiknya kita dengarkan penjelasan yang lain dulu Bu. Jangan asal menuduh," lerai Bu Friska.
Bu Winda langsung diam. Beberapa anak yang tadi ada di kamar mandi langsung dipanggil untuk memberi penjelasan.
"Apa benar kamu dibully sama Tari?," tanya Bu Friska kepada Anggi, gadis yang tadi dibully Tari.
Anggi melirik Areta sekilas kemudian menggeleng kecil membuat Areta melotot tak percaya. "Tidak Bu," jawab gadis itu pelan.
"Areta aja yang nyari masalah Bu," ujar Angel, teman Tari.
"Iya bener itu Bu," timpal Bunga, teman Tari juga membuat Areta tersudutkan. Tidak ada cctv di kamar mandi yang membuat Areta tak bisa membela diri saat satu-satunya saksi malah memberi kesaksian palsu.
Akhirnya setelah sedikit perdebatan, Areta diskors selama tiga hari. Tadinya orang tua Areta ingin dipanggil tetapi menurut Bu Friska belum perlu karena Areta masih terbilang murid baru dan skorsing ini sebagai bentuk peringatan agar ia tidak melanggar aturan lagi.
Areta keluar dari ruang BK dengan lesu. Tari disebelahnya menyunggingkan senyum remeh saat Areta menatapnya.
"Areta," panggil Anggi takut-takut saat Tari dan teman-temannya sudah pergi. Areta mendongakkan kepala, menatap Anggi dengan satu alis terangkat.
"Maaf," lirih Anggi.
"Kenapa?,"
"Ha?," bingung Anggi.
"Kenapa lo nggak ngaku aja kalau Tari ngebully lo. Kalau guru tau, mungkin Tari nggak akan ngebully lo lagi,"
Anggi menggeleng. "Aku takut," ujarnya pelan.
"Tari ngancem aku. Kalau aku ngadu ke guru, dia bakal cabut beasiswaku," terangnya.
"Kamu anak baru. Kamu belum tau Tari itu siapa," ujar Anggi menatap Areta.
"Apa hak Tari cabut beasiswa kamu? Uang beasiswa yang kamu dapet bukan dari dia kan? Selagi nilai kamu tetap bagus, aku yakin beasiswa kamu nggak bakal di cabut," ujar Areta mengganti logat lo-gue menjadi aku-kamu saat mendengar Anggi berbicara menggunakan aku-kamu.
"Orang tua Tari itu salah satu donatur di sekolah ini. Dan semua donatur bisa merekomendasikan siapa yang bakal dapat atau mencabut beasiswa seseorang. Dan kalau Tari minta orang tuanya buat cabut beasiswa aku, dengan mudah itu pasti terjadi," jelas Anggi panjang lebar.
"Aku bisa pastiin kalau beasiswa kamu nggak bakal dicabut. Jadi, kamu nggak perlu takut sama Tari," ujar Areta.
"Gimana kamu bisa mastiin jika kamu juga terancam? Aku denger, kamu juga murid beasiswa kan?," tanya Anggi. Areta diam, tak menjawab pertanyaan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Teen FictionAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
