Hari ini hari terakhir Areta kena skors. Itu berarti ini hari ketiga Areta tidak masuk sekolah. Selama tiga hari ini Areta tetap keluar rumah menggunakan seragam agar orang rumah tidak curiga. Ia akan duduk di taman sambil membaca novel kemudian bekerja pada jam tiga sore, sesuai jadwalnya.
Gadis itu menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Langkahnya terhenti saat melihat orang itu sudah duduk di meja makan. Tanpa pikir panjang, Areta memutar tubuhnya, mengurungkan niatnya untuk sarapan. Ya, selama beberapa hari ini Areta sudah mulai ikut sarapan bersama kedua orang tuanya, tanpa orang itu. Dan sekarang, orang itu ikut bergabung di meja makan membuat Areta enggan ikut sarapan.
"Sayang," panggil Sandra saat sadar Areta sudah berdiri di dekat pintu ruang makan. Dirga dan seorang pemuda yang duduk membelakangi Areta ikut menoleh, menatap Areta yang kini hanya berdiri kaku di depan pintu.
"Sini sarapan dulu," ajak Sandra.
Areta sedikit menoleh ke belakang dan menggeleng. "Areta sarapan di luar aja," tolaknya kemudian langsung pergi dari sana. Meninggalkan kedua orang tua dan seorang pemuda yang menatap sendu kearahnya.
Pemuda itu menghela napas panjang. Nafsu makannya menghilang. Ia sangat ingin makan bersama adiknya, namun Areta akan selalu pergi jika melihatnya berada di satu ruangan yang sama dengannya. Sejak Areta tinggal di sana, pemuda itu jarang bertemu Areta. Ia akan pergi sebelum Areta keluar kamar dan pulang setelah Areta terlelap. Dan hari ini, ia mencoba untuk bertemu Areta dengan makan bersama. Namun sepertinya kekecewaan yang harus ia dapat karena Areta tak sudi makan bersamanya. Areta akan lebih memilih menahan lapar daripada harus makan satu meja dengannya.
"Kamu yang sabar ya," ujar Dirga menepuk bahu putra sulungnya.
***
Areta berjalan menuju taman, tempat biasa ia menghabiskan waktu selama jam belajar mengajar berlangsung. Tentunya dengan seragamnya yang sudah di ganti dengan pakaian biasa. Areta tidak mulai bekerja dari pagi karena ia takut Pak Bagas marah jika dia malah bekerja, bukannya sekolah. Jadi, Areta memutuskan untuk menunggu jam pelajaran habis dan setelahnya baru berangkat bekerja.
Areta mendudukkan dirinya di kursi taman. Memperhatikan seorang gadis kecil yang sedang bermain di sini dengan riangnya. Sibuk memperhatikan anak itu, Areta tak sadar seorang pemuda berjalan mendekatinya.
"Kenapa nggak bilang kalau diskors?," tanya pemuda itu mendudukkan dirinya di kursi samping Areta.
"Bukan urusan lo!," ketus Areta saat tahu siapa pemuda itu.
"Lukanya udah diobatin?," tanya pemuda itu lagi, tak peduli jika Areta bersikap ketus.
Areta berdecak sebal. "Lo ngapain sih ke sini? Nggak usah sok peduli sama gue!," sarkas Areta.
"Aku emang peduli sama kamu, Ta. Kamu adikku dan aku akan selalu peduli sama kamu," ujar pemuda itu.
"Mending lo pergi!," usir Areta tanpa menatap pemuda itu.
"Ta, tolong jangan benci aku kayak gini," ujar pemuda itu lirih. "Apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku?,"
"Nggak ada,"
"Apapun akan aku lakuin Ta. Tapi tolong maafin aku," pinta pemuda itu.
Areta menghela napas panjang. "Jangan pernah muncul lagi dihadapan gue," ujarnya menatap manik mata pemuda disampingnya.
Pemuda itu tercekat. Terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. "Oke,"
"Aku nggak akan pernah temuin kamu lagi. Yang penting kamu maafin aku," ujarnya dengan senyum tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Teen FictionAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
