Dirga tak pernah menyesal mengeluarkan uang untuk memenuhi permintaan anak-anaknya. Ia akan senang jika bisa membuat anaknya gembira dengan memenuhi apa yang mereka minta. Namun untuk kali ini ia menyesal sudah mengeluarkan uang untuk membelikan Areta sepeda motor.
Awalnya Dirga sengaja membelikan Areta motor sport agar anaknya tidak bisa memakainya sendiri. Namun diluar dugaannya, ternyata anak gadisnya itu bisa mengendarainya.
“Nggak usah pake motor sendiri kenapa sih?” tanya Dirga pagi itu. Mereka sedang sarapan bersama.
“Ada Papa, abang kamu, sama pak Jun yang bisa nganter.” lanjutnya.
Areta yang tengah melahap sarapannya menggeleng. “Papa udah janji loh bolehin Areta bawa motor sendiri.”
“Iya. Kalau udah punya SIM.”
Areta tersenyum. “Sekarang udah punya kok. Nih,” Areta mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan SIM miliknya yang baru jadi kemarin.
“Kapan buatnya?” heran Dirga. Hilang sudah alasannya untuk mencegah Areta mengendarai sepeda motor. “Kok Papa nggak tau?”
“Om Dion yang bantuin.” jawab Areta membuat Dirga menghela napas panjang.
“Kamu sekolah pake rok. Masa berangkat pake motor sport gitu.” nampaknya Dirga belum menyerah untuk menggagalkan rencana Areta membawa motor sendiri ke sekolah. Bukan apa-apa, Dirga hanya tidak tenang membiarkan anak gadisnya membawa motor sendiri. Tidak ada yang tahu hal apa yang akan terjadi di jalan raya yang selalu penuh dengan kendaraan itu.
Areta berdiri dari duduknya. Memperlihatkan celana jeans hitam panjang yang sudah dipakainya. “Nggak ada masalah lagi kan?” tanya Areta menahan senyum. Merasa menang karena Dirga tidak akan bisa mencari alasan lagi untuk melarangnya.
“Udah Pa, kasih izin aja,” ujar Sandra tak tega melihat anak gadisnya setiap hari meminta hal yang sama. Diizinkan membawa motor sendiri.
Raka yang duduk disebelah Areta juga ikut mengangguk setuju.
Sang kepala keluarga akhirnya menghela napas pasrah. “Ya udah sana.”
Wajah Areta langsung sumringah. Gadis itu menadahkan tangannya ke arah Dirga.
“Apa?" alis Dirga terangkat sebelah. "Uang sakunya kurang?”
Areta menggeleng. “Kunci motor,” ujarnya masih menadahkan tangannya.
“Kok minta papa? Kan kamu yang punya motor.”
“Kunci motornya sama papa kan?”
“Enggak.”
“Bohong dosa loh Pa.”
“Papa nggak bawa. Nih tangan papa nggak bawa apa-apa.” ujar Dirga mengangkat kedua tangannya sebatas dada.
“Enggak papa bawa. Tapi Papa taruh di saku celana.” celetuk Areta membuat Dirga melotot. Heran juga kenapa anaknya bisa tahu. Padahal tadi Dirga sudah diam-diam mengambil kuncinya.
Ditempatnya duduk, Sandra dan Raka sudah menahan tawa. Dirga akan selalu kalah jika berdebat dengan Areta.
“Areta bukan anak kecil Pa. Nggak bisa papa bohongin,” ujar Areta tertawa.
“Di mata Papa kamu tuh tetep kayak anak kecil,” kata Dirga mengacak rambut putrinya kemudian mengeluarkan kunci motor dari saku celanya.
“Hati-hati bawa motornya.” lanjutnya sambil menyerahkan kunci itu kepada Areta.
Areta menerimanya dengan senang hati. “Makasih Pa. Love youu,” ujar Areta mencium pipi Dirga. Kemudian pamit untuk pergi ke sekolah. Diikuti Raka setelahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Teen FictionAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
