12 - Bella

2.1K 129 0
                                        

Areta sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia melihat penampilannya di cermin sekali lagi. Setelah memastikan semuanya rapi, ia segera mengambil tasnya lalu turun ke bawah.

"Pagi, sayang," sapa Sandra yang sudah sibuk menyiapkan sarapan.

"Pagi, Ma," sapa balik Areta. Ia mendudukkan dirinya di sisi kanan meja.

Tak lama Dirga juga bergabung di meja makan. Kemeja warna putih sudah melekat ditubuhnya dengan jas yang ia tenteng dengan tangan kirinya.

"Morning, sayang," sapa Dirga mencium kepala Areta. "Morning, Pa,"

"Raka belum bangun juga Pa?," tanya Sandra sambil meletakkan mangkuk berisi nasi goreng.

"Belum kayaknya," jawab Dirga. Tadi setelah salat subuh, Raka kembali melanjutkan tidur dikamarnya.

"Papa bangunin sana. Udah jam setengah tujuh loh. Ntar telat lagi," ujar Sandra. Dirga mengangguk. Hendak berdiri untuk membangunkan Raka namun Areta langsung mencegahnya. "Biar Areta aja Pa," ujarnya.

Areta berjalan menuju kamar Raka. Pintu kamarnya tidak dikunci, jadi Areta langsung masuk saja karena sedari tadi mengetuk pintu tidak ada sahutan dari sang pemilik kamar.

"Abang bangun," ujar Areta sambil menggoyangkan lengan Raka. Raka tak bergerak sama sekali. Ia masih asyik bergelung dengan selimut putihnya.

"Abang bangun. Udah jam setengah tujuh lebih loh," ujar Areta lagi dengan suara lebih keras. Raka hanya menggeliat kecil kemudian menutup wajahnya dengan selimut.

Areta berdecak melihatnya. Susah sekali membangunkan abangnya ini. Sebuah ide terlintas diotaknya membuat Areta tersenyum kecil. Ia bergerak menuju kamar mandi sambil membawa gelas kosong yang ada diatas nakas. Setelah mengisi gelas tersebut dengan air, Areta kembali mendekati Raka.

"Abang bangun,"ujarnya sambil menarik selimut yang menutupi wajah Raka. Raka bergumam tidak jelas dengan mata yang masih terpejam.

"BANJIR!," teriak Areta sambil menumpahkan air di dalam gelas tadi tepat diwajah Raka. Salahkan Raka karena tidak mau dibangunkan dengan cara baik-baik.

Raka langsung terlonjak kaget. Dengan muka bantalnya, ia gelagapan karena tiba-tiba tersiram air. "Banjir! Banjir!," hebohnya.

Areta tergelak melihat wajah Raka. Mendengar suara tawa Areta, Raka langsung sadar jika ia tengah dikerjai. Raka menatap tajam Areta. Bukannya takut, Areta malah semakin terbahak. Ia segera kabur dari kamar Raka.

"Sini kamu!," teriak Raka mengejar Areta.

Areta berlari menuruni tangga sambil tertawa. Dibelakangnya Raka mengejar Areta dengan wajah basah karena tadi di siram air oleh adik tersayangnya itu.

"Aduh sayang, jangan lari-larian di tangga gitu!," seru Sandra dengan muka paniknya. Areta hanya cengengesan sambil terus menghindar dari Raka.

"Sini nggak kamu?," ujar Raka. Areta terus saja menghindar dari Raka dengan bersembunyi dibalik punggung papanya.

"Kenapa sih?," heran Dirga.

"Masa Raka di siram air," adu Raka.

"Abis Abang susah dibangunin," ujar Areta tak mau disalahkan.

"Berani ya kamu nyiram Abang," ujar Raka memiting leher Areta saat berhasil menangkapnya.

"Ihh Abang lepas," ujar Areta menggeliat berusaha melepaskan diri.

"Nggak. Minta ampun dulu,"

"Nggak mau," ujar Areta tertawa.

"Nggak Abang lepas nih,"

ARETATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang