Areta membasuh wajahnya dengan air. Ia masih tidak menyangka akan bertemu Bella di sini. Bukankah dia di Surabaya? batin Areta. Kenapa sekarang dia di sini? Satu sekolah dengannya lagi.
Pintu kamar mandi terbuka dari luar. Dari kaca didepannya Areta bisa melihat siapa yang datang.
"Akhirnya kita ketemu lagi ya," ujar orang itu. Dia ikut menyalakan kran disamping Areta dan membasuh kedua tangannya.
"Lo nggak kangen sama gue?," tanya orang itu.
"Gue masih jadi sahabat terbaik lo kan?," tanyanya lagi walau Areta tak merespon.
"Lo sendiri loh yang bilang kalau gue itu sahabat terbaik lo," ucap orang itu.
Areta diam. Tak ingin meladeni. Ia segera mematikan kran air dan bersiap keluar. Namun pertanyaan orang itu menghentikan langkahnya.
"Gimana ceritanya lo bisa sekolah disini? Ibu lo jual diri buat bisa nyekolahin lo di sini?," tanya orang itu. Areta mengepalkan tangannya kuat mendengar pertanyaan orang itu.
"Oh, atau ayah lo udah mau tanggung jawab dan mau ngurusin elo?,"
"Maksud lo apa?!," marah Areta.
"Santai santai," kekeh orang itu.
"Gue cuma nanya loh," lanjutnya.
"Lo nggak tau apa-apa soal ibu gue. Jadi jangan sok tau!,"
"Gue tau kok. Ibu lo kan jal-,"
"Eh apa ya namanya kalau orang nggak punya suami tapi bisa punya anak?," tanya orang itu sambil pura-pura berpikir.
Areta menahan diri untuk tidak menonjok manusia didepannya ini. Ia berusaha menahan emosinya agar tidak meledak. Tolong ingatkan Areta jika ini masih dilingkungan sekolah. Jangan sampai ia kena skors lagi.
"Kenapa?," tanya orang itu saat sadar Areta menatapnya tajam. "Gue bener kan?," tanyanya.
"Ibu lo nggak punya suami tapi bisa punya elo. Berarti lo anak haram dong. Ups," ujar orang itu sambil menutup mulut menahan tawa.
"Kalau satu sekolah tau masalah ini gimana ya," gumam orang itu.
Areta tak merasa takut dengan ucapan orang itu. Apa yang dikatakan orang itu sama sekali tidak benar. Jadi Areta tak perlu merasa khawatir.
"Gue sih bisa aja tutup mulut asalkan...," Areta menaikkan sebelah alis menunggu orang itu melanjutkan ucapannya.
"Lo jauhin Raka," lanjutnya membuat Areta terkekeh.
"Gue nggak takut sama sekali kalau lo mau ngadu ke seluruh sekolah Bell. Karena semua yang lo omongin itu sampah," ujar Areta tenang.
"Dan asal lo tau, gue juga megang rahasia lo,"
"Ayah lo masuk rumah sakit jiwa karena perusahaannya bangkrut. Sedangkan ibu lo jadi pelakor, yang ngrusak rumah tangga orang," ujar Areta membuat Bella murka. Gadis itu melayangkan tangannya hendak menampar Areta namun Areta langsung mencekal kuat tangannya.
"Gue bukan Areta yang lemah kayak dulu. Jadi jangan main-main sama gue," desis Areta. Ia menghempaskan tangan Bella kuat kemudian pergi dari sana. Meninggalkan Bella yang sudah meluapkan emosinya dengan menendang tempat sampah yang ada di kamar mandi.
"Awas lo!," ujar Bella marah. Ia menatap benci ke arah kepergian Areta. Tak sadar, sedari tadi di salah satu bilik kamar mandi seseorang mendengar semua pembicaraannya dengan Areta membuat orang itu tersenyum licik.
***
Areta memasuki rumahnya dengan lesu. Hari ini benar-benar melelahkan. Pertemuannya dengan Bella membuat Areta ingat kejadian beberapa tahun lalu yang membuatnya trauma. Jika Bella satu sekolah dengannya, berarti wanita itu juga pasti ada didekatnya. Kapan saja mereka bisa bertemu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Novela JuvenilAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
