Areta sedikit telambat memasuki kelas. suasana luar kelas agak sepi karena semua murid sudah kembali ke kelas masing-masing. setelah sampai didepan kelasnya, Areta segera mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat itu.
"Permisi Bu," ujarnya setelah membuka pintu kelas. Setelah sang guru mempersilakan Areta masuk, Areta segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Tak lupa menutup pintu. Belum sempat pintu tertutup rapat, seseorang membukanya dari luar.
"Dari mana kalian?," tanya sang guru langsung. Seingat Areta, guru ini yang tadi pagi membantu mengobati tangannya.
"Saya habis ganti perban di UKS, Bu," jawab Areta. Guru itu yang tak lain Bu Friska mengangguk kemudian mempersilahkan Areta duduk. Cowok yang tadi masuk bersama Areta mengikuti langkah Areta untuk duduk. Namun suara Bu Friska membuatnya menghentikan langkah.
"Siapa yang nyuruh kamu duduk?," tanya Bu Friska.
"Kan ibu tadi yang bilang," balas cowok itu.
"Saya menyuruh Areta. Bukan kamu, Rendi,"ujar Bu Friska membuat cowok bernama Rendi itu cengengesan.
"Darimana aja kamu sampe telat?," tanya Bu Friska.
"Dari kamar mandi, Bu," jawab Rendi. Bu Friska memicingkan mata tanda tak percaya.
"Beneran,Bu. Tadi perut saya sakit, makanya lama," ujar Rendi berusaha meyakinkan.
Bu Friska akhirnya percaya dan mempersilahkan Rendi duduk.
"Dari mana aja lo?," tanya Niko, teman sebangku Rendi.
"Ada urusan tadi,"
"Urusan apa?," tanya Niko ingin tahu.
"Rendi, Niko, jangan ngobrol sendiri," tegur Bu Friska. Telinganya sensitif sekali. Padahal tempat duduk Rendi dan Niko ada di baris paling belakang, namun Bu Friska masih bisa mendengarnya. Rendi dan Niko langsung diam. Bu Friska itu termasuk guru killer di sini. Jika ada yang melanggar aturan, siap-siap saja menerima hukuman.
"Buka buku kalian halaman dua puluh satu," perintah Bu Friska.
Semua siswa langsung menuruti perintah Bu Friska. Kecuali Rendi. Ia malah sibuk mengobrak-abrik isi tasnya. Mencari buku yang sebenarnya tak ia bawa karena Rendi tak pernah belajar di rumah. Katanya, di sekolah sudah belajar berjam-jam. Masa di rumah harus belajar lagi. Kapan mainnya?
"Mana buku kamu?," tanya Bu Friska. Rendi gelapan, kemudian menggaruk pelipisnya yang tak gatal sambil cengengesan. "ketinggalan, Bu," dustanya.
"Uang saku bawa?," tanya Bu Friska membuat Rendi bingung. Namun ia tetap menjawab. "Kalau itu nggak pernah ketinggalan, Bu," jawab Rendi sambil senyum tanpa dosa.
"Mulai besok, masukin uang saku kamu ke dalam buku. Tempel pake selotip kalau perlu. Biar bukunya nggak ketinggalan-ketinggalan lagi," celetuk Bu Friska membuat Rendi melongo sedangkan yang lain sudah menahan tawa.
"Sekarang push up dua puluh kali!," titah Bu Friska.
"Masa cuma nggak bawa buku disuruh push up sih, Bu,"
"Empat puluh kali!,"
"Kok malah nambah, Bu" protes Rendi.
"Semakin kamu protes, semakin banyak hukuman yang Ibu kasih," ujar Bu Friska santai. Dengan terpaksa Rendi melaksanakan hukuman yang diberikan Bu Friska.
Untung cantik. Batin Rendi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 dan itu artinya kegiatan belajar mengajar berakhir. Areta dan Sarah berjalan bersama menuju halte bus. Sesekali mereka bersendau gurau.
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Ficção AdolescenteAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
