"Dek," panggil Raka untuk kesekian kalinya. Areta pura-pura tidak dengar. Ia fokus menatap layar televisi didepannya.
"Adek sayang," panggil Raka lagi sambil menusuk-nusuk lengan Areta. Areta diam tak menanggapi. Ia masih kesal dengan Raka. Jadi dia sedang mode on ngambek dan tidak mau berbicara dengan abangnya.
"Udah dong marahnya," bujuk Raka.
"Maafin Abang ya," ujar Raka mencium pipi Areta berulang kali.
"Awas ihh!!," kesal Areta sambil mendorong tubuh Raka.
"Maafin dulu,"
"Nggak!! Areta masih kesel sama abang!,"
"Bujukin papa dong biar nggak nyita motor sama mobil abang," pinta Raka dengan wajah memelas.
"Bujukin aja sendiri!," ketus Areta.
"Mana luluh papa kalau sama abang,"
"Abang beliin es krim deh ya," rayu Raka.
"Bantuin ya, ya,"
"Nggak!!,"
"Mau dibeliin apa?,"
"Nggak ada!,"
"Martabak? Pizza? Cokelat?," tanya Raka menyebutkan makanan kesukaan Areta. berharap Areta akan luluh.
"Nggak!,"
"Abang ajarin naik motor," ujar Raka membuat Areta seketika meliriknya. "Deal!," katanya dengan sumringah. Beberapa hari ini Areta meminta Raka untuk mengajarinya naik sepeda motor. Namun Raka menolak karena Dirga sudah melarangnya.
"Eh nggak jadi deh,"
"Kok gitu?,"
"Ntar kalau ketahuan papa bisa kena omel lagi abang. Papa tuh serem kalau lagi marah,"
"Ya jangan sampe ketahuan,"
"Mau keluar rumah aja harus izin. Gimana caranya biar nggak ketahuan?,"
Areta berpikir sejenak. Memang susah kalau mau keluar rumah. Harus izin dan menjelaskan keperluanya kepada Dirga sedetail mungkin.
"Bilang aja mau ke minimarket,"
"Bohong dosa Dek,"
"Ya kita beneran ke minimarket dulu. Habis itu baru ke lapangan buat belajar naik motor,"
"Mau beli sesuatu?,"
"Enggak,"
"Terus ngapain ke minimarket?,"
"Ya biar nggak bohong," ujar Areta membuat Raka geleng-geleng kepala tak habis pikir.
"Udah ayok," ajak Areta menarik tangan Raka.
"Izin dulu sama papa,"
"Papa lagi sibuk kayaknya. Langsung pergi aja deh,"
"Ntar kalau dimarahin gimana?,"
"Areta yang tanggung jawab,"
"Oke,"
Mereka keluar diam-diam setelah Raka mengambil kunci motor matic lamanya. Belum sempat membuka pintu, suara tegas papanya langsung menyapa indera pendengaran mereka.
"Mau kemana?,"
Raka dan Areta saling melirik sebelum berbalik. "Mau ke minimarket pa," jawab Areta.
"Ngapain?,"
"Mau beli sesuatu,"
"Iya, beli apa?,"
KAMU SEDANG MEMBACA
ARETA
Fiksi RemajaAreta Zevania Putri. Tak ada yang lebih membuatnya hancur selain harus berpisah dengan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Perpisahan yang membuatnya tidak akan bisa bertemu dengan orang itu lagi. Dalam setiap pertemuan memang akan ada p...
