28 - UKS

1.4K 76 5
                                        


Halo, lama banget ya nggak update:(

Ada yang masih inget cerita inikah?




Selamat membaca💚

"Tante lepasin!" Areta memberontak ketika tubuhnya ditarik paksa oleh seseorang.

"Diam kamu!"

"Tante sakiitt." rintih Areta karena tangannya dicekal erat hingga memerah.

Wanita yang Areta panggil 'Tante' itu tak menghiraukan rintihan Areta. Ia terus menarik tubuh kecil Areta menuju bagian belakang rumah.

"Masuk!"

"Areta nggak mau Tante. Di dalam gelap." ujar Areta menahan tubuhnya agar tidak dibawa masuk ke dalam gudang.

"Masuk!" paksa wanita itu mendorong tubuh Areta dengan kasar.

"Ini hukuman buat kamu." ujarnya sambil mengunci pintu gudang.

"Tante buka!" teriak Areta sambil menggedor-gedor pintu gudang.

"Areta takut. Tante bukain!!"

Wanita itu mengabaikan Areta kemudian pergi meninggalkan Areta sendirian di gudang.

"Tante hiks hiks,"

"Bukain." ujar Areta sesenggukan. Tangannya berusaha menarik-narik handle pintu walaupun tak ada gunanya karena pintu tetap tertutup rapat.

Setelah beberapa menit akhirnya Areta menyerah. Gadis itu berbalik badan dan menatap gudang yang lumayan gelap.

Areta terduduk dengan tubuh bersandar di pintu. Kedua tangannya memeluk erat tubuh mungilnya.

Suara gemuruh mulai terdengar di luar sana. Disusul rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi. Areta mengeratkan pelukan di tubuhnya karena udara terasa semakin dingin. Matanya menjelajah isi gudang, berharap menemukan sesuatu untuk membantunya menghangatkan tubuh.

"Aaaa!!" teriak Areta tiba-tiba ketika melihat seekor tikus berlarian di sudut ruangan. Gadis itu segera berdiri dan berusaha kembali membuka pintu.

"Tante bukain!!"

"Disini ada tikus. Areta takuutt!!"

"Aaaaa Tante tolongin!!" Areta berteriak histeris saat ada seekor tikus berlari di dekat kakinya.

"Tante tolongg!!"

"Disini banyak tikus. Areta takuuut!!" teriak Areta. Ia meloncat-loncat ketakutan melihat banyak tikus berkeliaran di gudang itu.

"Tantee!!"

"Tante Andira tolongg!!"

"Tante!..Aaaaaaaaa!!" teriak Areta bangun dari tidurnya. Napas gadis itu terdengar tidak beraturan. Jantungnya berdetak kencang dan keringat membasahi wajahnya.

Areta meraup wajahnya dengan kedua tangan kemudian meneguk segelas air putih yang ada di atas nakas. Diliriknya jam digital dikamarnya yang menunjukkan pukul dua pagi.

Gadis itu kemudian beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya ia menuju pintu yang menghubungkannya dengan balkon. Gadis itu memilih keluar kamar untuk mencari udara segar karena ia tidak akan bisa melanjutkan tidurnya setelah terbangun gara-gara mimpi tadi.

Areta merapatkan kardigan yang dikenakannya kala semilir angin berembus menerpa kulitnya. Sesekali merapikan rambutnya yang berterbangan diterpa angin.

ARETATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang