9

2.2K 108 1
                                        

Kini sebuah markas menjadi latar belakang nya. Anak-anak yang lain menatap bingung ketua mereka. Dari awal datang sampai detik ini, ketua mereka senyum-senyum ga jelas. Bukannya senang, malah mereka terlihat ketakutan. Senyum dan tawa Fajri adalah ancaman bagi semuanya.

"Kesambet apaan dah," lirih salah seorang dari mereka.

"Kalian bantuin gua ya,"

"Bantuin apa bos?"

"Ngamanin acara pernikahan gua," ucap Fajri dengan tatapan fokus pada ponselnya, senyuman nya belum luntur juga. Dia sedang menghubungi seseorang.

"Beneran mau damai sama Ganapati?"

"Cuma buat hentiin Dymasius dan jagain Raya. Sisanya ga, balapan ya balapan aja,"

Ganapati dan Rexsan sudah berkumpul di markas Ganapati. Fajri mengambil tempat didepan Fenly. Ia penasaran apa yang akan Fenly katakan hingga harus kumpul di markas Ganapati.

"Gua mau sementara kita damai bu- "

"Damai? Kesambet apaan?" potong Fajri.

"Jangan potong ucapan gua, kita damai buat bantu Cemal dan Raya. Lo udah mulai suka adik gua kan?" ucap Fenly diikuti senyuman miring nya. Fajri nampak terkejut, namun ia segera mengubah ekspresi nya.

"Suka sama Raya? Ga!"

"Munafik, lo lupa kalau Cemal punya mata-mata yang ga bisa diremehin. Gua tau dari mereka, kalau lo suka sama adik gua,"

"Percaya sama Cemal!"

"Oh gitu, terus kenapa lo tiba-tiba chat gue kalau ada Dymasius didepan rumah gua kalau bukan karna lo khawatir sama Raya. Ga mungkin kan lo khawatir sama gua?" kata-kata Fenly kian memojokkan Fajri. Ah ia bodoh sekali.

"Ngaku aja kenapa sih, ga dilarang juga, iya kan Fen?" Gilang ikut bersuara yang dijawab dengan anggukan oleh Fenly.

"Iya gua suka adik lo, bahkan jauh sebelum perjodohan ini ada," lirih Fajri. Ia tak tau mau mengelak bagaimana lagi.

"Tapi jangan sampe Raya ta," lanjut nya.

"It's okay, damai?"

"Damai,"

"Jadi beneran lo suka Raya Ji?"

"Ga tau, udah jangan bahas itu. Latihan yuk,"

Malam ini akan menjadi malam yang panas. Lagi-lagi Ganapati dan Rexsan akan bertemu diarea balapan. Namun kali ini, Fajri akan membiarkan anggotanya yang maju kearea. Ia akan menjaga tubuhnya untuk acara minggu depan. Ia juga harus menyiapkan sesempurna mungkin untuk menjaga Raya. Rupanya dia sudah terlalu bucin dengan Raya. Buktinya sekarang ia mengutus salah satu anggota nya untuk mengawasi Raya.

"Raya, lo buat gua gila" lirih nya.

*:..。o○ ○o。..:*

Pagi menyapa. Lagi, lagi, dan lagi Raya harus mengomel dipagi hari. Sang kakak baru saja pulang dengan luka di lengannya. Ayolah, Raya cape kalau begini. Kakaknya yang satu ini memang sulit diatur, sangat keras kepala. Namun, seketika ia berhenti memarahi kakaknya itu. Bagaimana nanti kalau ia harus ikut suaminya? Siapa yang akan mengobati luka-luka yang kakaknya bawa?

"Kenapa?"

"Bang, kalau udah nikah boleh tinggal di sini ga?"

"Why?"

"Ya gua khawatir aja sama lo. Siapa yang bakal obatin lo saat kayak gini?" Fenly tersenyum. Ia juga tak mau jauh dari adiknya. Namun mau bagaimana lagi? Takdir ia dan adiknya harus begini. Mau dilawan pun akan sia-sia.

"Ga usah khawatirin abang. Khawatirin suami kamu aja, dia juga bakal gini,"

"Ih bodo amat dia mah,"

"Fajri suka kamu," 3 kata membuat Raya menghentikan aktivitas nya dan menatap Fenly meminta kepastian. Fenly mengangguk sebagai tanda kalau berita ini benar.

"Tau dari mana?"

"Aban,"

"Ohh," Raya kembali mengobati luka Fenly. Ia tau itu, tapi yang menjadi pertanyaan, kapan dan momen apa yang membuat seorang Maulana Fajri jatuh hati padanya? Dan apa alasan Fajri menyukainya? Good looking? Jauh banget dari kata itu, good attitude? Dia anak motor. Apa coba?

"Makasih Ray, Bang Iky masih disini?"

"Masih, sampe nikahan gua," gaya bicara keduanya bisa berubah sewaktu-waktu. Tergantung kondisi. Ntahlah, mereka pun tak tau, asal nyeplos aja.

Setelah mengobati luka Fenly, Raya bergegas menuju kamarnya. Ia ingin meluapkan emosinya disana. Ia tak mau menangis didepan kakaknya. Akhir-akhir ini ia terlihat lemah, cengeng. Ia tak mau lepas dari Fenly. Ia tak mau berpisah lagi dengan Fenly. Dan sepertinya ini akan selamanya. Apalagi, nanti Fenly akan menikah dan punya kehidupan masing-masing.

"Raya ga mau pergi dari abang,"














Ikhlas ya Ray, semua ini yang terbaik buat kamu. Cepat atau lambat kamu sama kakak kamu tetap berpisah dan punya kesibukan masing-masing. Keep strong Ray.

Kehidupan akan berputar, ada pertemuan pasti ada perpisahan bukan? Jangan menyesali sebuah pertemuan, karena setiap pertemuan pasti ada maknanya.

See you

Nb : Jangan jadi silent readers ya. Hargai penulis/author dengan memberi votmen dan jika tidak suka dengan alurnya bisa pergi, boleh memberi masukan asal tidak menghina, paham?

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang