Dua motor mulai meninggalkan area perumahan. Mereka kearah yang berbeda. Selama diperjalanan, Raya tersenyum simpul dan mengeratkan pelukannya. Ingin rasanya berteriak kalau ia sangat bahagia. Bahagia dengan semua yang ia alami beberapa bulan ini.
"Kenapa pengen ke markas Rexsan?"
"Pengen jalan-jalan malem sama kamu,"
"Pegangan yang kenceng, mau ngebut," Raya semakin mengeratkan pelukannya. Sekian detik kemudian laju motor Fajri bertambah. Hingga tak lama kemudian mereka telah sampai disebuah bangunan yang mempunyai halaman sangat luas.
"FAJrii, dia siapa Ji?" tanya seorang wanita yang sedari tadi menunggu kedatangan ketua Rexsan ini.
"Lo cewe yang sama Fenly kan? Ji pasti dia mata-matanya Ganapati. Apaan sih jangan pegangan tangan," ucap perempuan tersebut. Ia berusaha melepaskan tautan tangan Raya dan Fajri, namun dengan sigap Fajri menepis tangan wanita tersebut, yang tak lain adalah Silvi.
"Dua anak beli minum sama cemilan sono. Pake uang kalian dulu ntar gua ganti," perintah Fajri.
"Siap bos," dua anak mulai meninggalkan area markas. Lumayan kan, ada uang ganti yang pastinya lebih.
"Yuk," Fajri menarik lembut tangan Raya untuk masuk kedalam markas.
"Fajri! Kok aku ditinggal sih."
Fiki dan Zweitson membulatkan mata saat melihat Raya. Si Fajri lagi nyari gara-gara sama Fenly atau gimana sih? Bisa di sleding sama Fenly kalau Raya kenapa-napa.
"Ji, kok ada Raya sih? Nyari gara-gara aja," bisik Zweitson yang masih bisa didengar Raya.
"Kalo Bang Fen macem-macem, ngomong sama gua,"
"Alhamdulillah ada ibu negara yang bakal ngelindungin kita dari amukan kerajaan tetangga," celetuk Fiki.
"Ibu negara? Ibu negara Rexsan tuh gua, iya kan Ji?" Silvi berusaha merangkul tangan Fajri, namun Fajri langsung bertukar tempat dengan Raya.
"Ibu negara Rexsan cuma Rayana Archifa, ga ada yang lain," ucap Fajri. Hati nya sepenuhnya milik Raya, ia sudah sangat mencintai istrinya ini. Berapa lama ia menunggu momen manis ini? Momen memiliki seorang Rayana Archifa.
"Ih, kok gitu sih Ji, palingan dia bakal nyusahin. Dari tampangnya sih dia ga bisa apa-apa," ucap Silvi meremehkan. Belum aja liat Raya dilapangan, kalau udah liat, pasti dia akan menarik semua kata-kata nya tadi.
"Bos, a-ada yang nyari Raya," ucap salah satu anggota Rexsan yang sempat Fajri suruh beli minum.
"Siapa? Fenly?"
"Bukan, gua ga pernah liat,"
Fajri langsung keluar diikuti beberapa anak buahnya, termasuk Raya dan Silvi. Mata Raya membulat kala melihat siapa yang datang. Kenapa pemuda itu tau Raya ada disini?
"Siapa lo? Kenapa lo kemari?"
"Saga?" ceplos Raya ditengah keterkejutan nya.
"Masih inget ternyata, pengecut lo, sembunyi dibalik Rexsan,"
"Kamu kenal?"
"Dia anak pendiri padepokan Dymasius,"
"Mau lo apa hah?! Kita lagi ga nerima tamu," ucap Fajri. Ia berusaha melindungi Raya.
"Mau gua, Raya ikut gua buat nge bebasin bokap gua dan harus mempertanggungjawabkan atas semua kekacauan di Padepokan Dymasius,"
"Kalau gua ga mau?" kini Raya satu langkah di depan Rexsan. Ia hanya tak mau mereka terlibat. Ini masalahnya, jadi dia tak akan membiarkan orang lain terlibat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Badboy My Husband : End✅
Fiksi PenggemarMenikah diusia muda bukanlah keinginan Fajri, apalagi melalui jalur perjodohan. Menjengkelkan memang. Namun, ia tak ada pilihan lain selain menerimanya. Tapi siapa sangka, gadis yang dijodohkan dengannya merupakan gadis yang dari dulu ia klaim sebag...
