43

1.5K 98 8
                                        

Sinar mentari memasuki sebuah ruangan, membuat seseorang didalamnya terusik. Setelah sholat subuh tadi, ia memilih tidur kembali karena kelelahan. Eits pikiran jangan travelling dulu, kelelahan karena bujuk Raya. Kayak ga tau aja Raya gimana, dia kan lumayan susah buat dibujuk, ditambah lagi hormon kehamilannya mendukung.

"Kak Fajri bangun, udah siang."

"Jam berapa sih?"

"Jam 8, bangun yuk, anterin aku," ucap Raya sambil membuka tirai jendela.

"Kemana?"

"Ngampus lah, ngapain lagi coba," ketus Raya.

"Ya udah sana tunggu dibawah, atau mau mandi bareng?"

"Dih, aku udah mandi kali sebelum matahari nongol," bukannya kekamar mandi, Fajri malah memeluk Raya dari belakang.

"Udah sono mandi," ucap Raya, ia berusaha untuk melepaskan pelukan Fajri.

"Iya," sebelum melepaskan pelukannya, Fajri mengecup pipi Raya. Yang dicium cuma bisa matung, ya walaupun udah sering, tapi rasanya kayak baru ini.

"Siapin sarapan Ray, bukan bengong!" teriak Fajri dari dalam kamar mandi.

"Ya Allah sabar banget jadi bininya Maulana Fajri," gumam Raya. Padahal dia ga tau, kesabaran Fajri kerap hilang saat menghadapi dirinya.

Sarapan sudah siap, tinggal menunggu suaminya. Lumayan bosan, karena Fajri mandinya seabad. Fajri masuk kamar mandi pukul 07:58 dan sekarang sudah  pukul 08:45, selama itu seorang Maulana Fajri membersihkan diri.

"Lah Ray, belum berangkat?"

"Lah abang udah pulang? Cepet banget," ucap Raya heran.

"Cepet apaan, dari jam tujuh abang berangkat. Lah kamu kenapa belum berangkat? Sekelas sama Shafa kan, dia nyari kamu tadi," jelas Fenly.

"Tuh baru selesai mandi," ucap Raya sambil menunjuk Fajri yang baru saja duduk dimeja makan.

"Emang jam berapa masuknya?" tanya Fajri sambil memakan sandwich.

"Sepuluh," Fajri mengecek jam yang ada ditangannya, baru pukul sembilan kurang. Artinya masih satu jam lagi.

"Raya ada quiz jadi harus belajar dulu," ucap Raya seakan-akan tau apa yang ada dipikirkan oleh Fajri.

"Bukannya satu bulan kedepan ga ada kelas?" tanya Fajri. Masih ingatkan kalau Fajri ketua UKM Basket, ya walaupun udah lengser, tapi tetep aja dia tau segala sesuatu tentang kampusnya.

"A-anu ga-ga tau gurunya," ucap Raya gugup, ya memang sih, cuma kampus hanya alibinya saja agar bertemu Cemal.

"Dosen," koreksi Fenly.

"I-iya itu maksudnya," Raya harus memutar otaknya agar bisa keluar rumah. Sejak ia hamil, Fajri begitu overprotective terhadap dirinya. Melakukan ini itu harus seijin Fajri.

"Kan udah dibilang Ray, anak perempuan cukup dirumah aja, tenang ada Ganapati sama Rexsan," ucap Fajri. Dia sudah tau tujuan Raya keluar rumah, maka dari itu ia amat menjaga Raya, terutama calon anak mereka. Dymasius masih berkeliaran dan kita sama-sama tau seperti apa Dymasius itu. Mereka tak segan-segan menghabisi lawan mereka, bisa jadi Saga melakukan hal seperti itu, karena ia masih berkomunikasi dengan ayahnya yang sedang berada didalam bui.

"Tapi kak, aku ga bisa tenang kalau kayak gini," ucap Raya.

"Lo ngeraguin kemampuan kita? Kayaknya lo tau banyak tentang kita," ucap Fenly sambil sesekali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

"Tenang ya, mereka aman kok, kamu dirumah aja, demi calon anak kita," Fajri tersenyum sambil mengelus perut Raya yang semakin buncit.

Raya menghela napas, benar juga yang suaminya katakan. Ia harus menjaga dirinya demi calon anaknya. Namun, ia juga harus memikirkan teman-temannya.

"Ji, arahin anak buah lo buat ketitik yang gua share, sekarang!" Fajri hanya mengangguk, karena ia tau Raya pasti akan meminta diantar ke lokasi tersebut jika ia banyak tanya.

"Cepetan! Disana bakal ada Ganapati," ucap Fajri pada seseorang disebrang sana.

"Udah Fen, lo?"

"Gua ikut jagain Raya aja," ucap Fenly dengan mata yang masih fokus pada ponselnya.

"Ada apa sih?"

"Kucing bunuh diri," ceplos Fajri.

"Gitu aja heboh, kenapa bisa bunuh diri?" sebenarnya Raya tak sebodoh itu bisa dibohongi, ia hanya ingin mengerjai kakak dan suaminya.

"Diputusin pacarnya," jawab Fajri santai.

"Astaghfirullah, Cumi bukan kak?" Fajri menatap Raya bingung.

"Soalnya, kemarin Bang Fen baru aja mutusin Cumi," Fenly memberikan tatapan horor. Kenapa dia dibawa-bawa? Padahal dari tadi diem aja. Ini lagi, Fajri malah ketawa ga jelas.

"Cinta terhalang jendela jangan sok keras," ledek Fenly. Fajri auto menghentikan tawanya, apa yang Fenly maksud?

"Terhalang jendela?"

"Yang waktu itu loh, lupa?"

"Oh, yang waktu itu dihukum?" ucap Raya memastikan. Fenly hanya mengangguk.

"Ga papa kali, daripada lo, kaga nikah nikah, Kaila diambil orang nangis," sepertinya akan ada perang dunia.

"Sayangnya gue lagi sabar, jadi lo aman," Fenly hanya malas menanggapi adik iparnya. Cape juga tiap hari ribut mulu, jarang ketemu, sekali nya ketemu malah ribut, ga asik.

"Mana ada seorang Fenly Christovel sabar," lanjut Fajri.

"Ada, dari ditinggal Kaila sampai sekarang belum pernah tuh ganti cewe, nunggu Kaila katanya," timpal Raya. Ingin rasanya menenggelamkan kedua makhluk yang ada didepannya saat ini, tapi ia masih punya rasa kemanusiaan.

"Lah kemaren sempet tuh pacaran sama Hanum, tapi ditikung, kasian ya."

"Iya, GGKT," ucap Raya.

"GGKT apaan Ray?" Fenly masih tak menanggapi keduanya, ia hanya memandang malas, tunggu aja, ntar juga diem.

"Ganteng-ganteng kena tikung," ucap Raya diikuti gelak tawa.

"Asalkan kau bahagia," ucap Fenly sambil meninggalkan keduanya yang asik tertawa.












Sabar ya, orang sabar makin ganteng

Berarti gue juga dong ~ Gilang

Lah?

Lapak gue apa kabar? ~ Gilang

🏃🏃

Badboy My Husband : End✅ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang