2 tahun kemudian
.
.
.
.
Dua tahun telah berlalu. Bulan lalu adalah hal yang amat membahagiakan bagi Raya, karena ia baru saja melahirkan putra pertama, maaf ralat, putra kedua, ya kalian taulah. Selain itu, ia juga baru saja menjadi lulusan terbaik dikampus nya. Hadiah terindah bukan?
"Kak Fajri, bangun," ucap Raya sambil membuka tirai jendela.
"Iya," Fajri merubah posisinya menjadi duduk, ia tersenyum sambil memandang baby box yang berada tak jauh dari tempat tidurnya.
"Arkan udah bangun?"
"Udahlah, emang bapaknya, ngebo," ucap Raya dengan tangan yang sibuk memilih baju untuk Fajri.
Ahmad Arkanza Davendra, lahir dengan wajah yang tampan dan amat menggemaskan. Ahmad artinya laki-laki yang mulia, Arkanza artinya harta mulia yang tersembunyi, sedangkan Davendra mempunyai arti penguasa alam. Menurut Fajri, ketiga nama tersebut amat cocok dengan putranya. Andai saja, kehamilan Raya yang pertama baik-baik saja, mungkin rumah ini akan begitu ramai. Terutama anak Fenly yang begitu cerewet, seperti ibunya. Anis telah mempunyai seorang adik, walaupun usia belum genap satu tahun, namun tingkat kecerewetannya melebihi emak-emak pasar. Rahelya Meylieza Alfenzo, putri pertama Fenly dan Kaila. Ia baru saja belajar berjalan, ia senang sekali bolak-balik kekamar Raya dan Fajri hanya untuk menjahili Arkan.
"An an," ucap Alya yang berada di gendongan Fenly.
"Berisik," ketus Fajri.
"Icik icik," jawab Alya dengan muka gemasnya.
"Iya bapak lo licik,"
"Ji, gua timpuk beneran," ketus Fenly.
"Puk puk," Alya mencoba mengikuti ucapan Fajri.
"Alya mau main sama Arkan ya? Sini sama aunty," ucap Raya, ia mencoba menghentikan perdebatan diantara ketiganya. Ia juga mengisyaratkan Fenly untuk keluar, biar ga riweh aja sih.
"Kakak mandi," ucap Raya.
"Ndi ndi," celoteh Alya.
"Iya bawel," Fajri berjalan menuju kamar mandinya. Walaupun hari ini ia weekend, tetapi ia harus bangun pagi untuk membantu istrinya menjaga buah hati mereka. Sejak satu tahun yang lalu, Fajri dan Fenly resmi mengundurkan diri sebagai ketua dan anggota digeng mereka masing-masing. Mereka hanya ingin Fokus pada keluarga, terutama anak-anak mereka.
"Alya duduk sini ya, aunty mau gendong Arkan dulu," ucap Raya pada Alya.
"Ya ya," Alya menepuk tangan tanda ia gembira. Ia amat senang jika berada di dekat adik sepupunya itu.
"An an cini," terlihat begitu gemas. Ingin rasanya mencubit pipi chubby nya.
"Aunty," ucap seorang anak perempuan.
"Eh Anis, sini main bareng," gadis tersebut tersenyum dan mengangguk. Anis sudah mulai memasuki bangku SD kelas 2. Ia tergolong anak yang berprestasi. Dan asal kalian tau, di akta kelahiran, nama ayah yang tertulis bukanlah Gryan, melainkan nama Fenly. Ini permintaan Fenly sendiri, menurutnya Anis adalah anaknya bukan anak Gryan, ia juga tak pernah membedakan antara Anis dan Alya, mereka adalah anak kandung nya, selamanya akan begitu.
"Uncle lagi mandi ya?" tanya Anis saat mendengar gemericik air
"Iya, Anis udah mandi belum?"
"Lum, kak lum ndi," jawab Alya. Raya dan Anis terkekeh mendengar celotehan Alya, gemesin.
"Kenapa belum mandi?"
"Hehehe kan weekend aunty," kekeh Anis.
"Turunan," lirih Raya.
Setelah selesai sarapan, keluarga Fajri dan Fenly pergi ketempat wisata yang berbeda. Fajri dan Raya beserta buah hatinya pergi ke sebuah pantai, sebenarnya diusia Arkan yang belum mencapai 40 hari, dilarang keluar rumah dulu. Tapi kata Fajri,nunggu 40 hari itu lama dan mitos.
"Ji!" teriak seorang pemuda dengan perempuan disampingnya.
"Eh lo Fik, siapa nih?" tanya Fajri.
"Kenalin, calon gue Siska, Yang, ini Fajri temen lama aku dan itu istrinya, Raya," ucap Fiki memperkenalkan keduanya.
"Kamu anak Fakultas Ekonomi bukan?" tanya Raya memastikan.
"Iya, kamu anak Cemal kan? Ya ampun udah jadi ibu aja," kekeh Siska. Fiki dan Siska memang satu kampus, mereka bertemu tanpa sengaja saat hari graduate Fiki.
"Makan yuk, laper," sifat Fiki tak berubah rupanya.
Saat diwarung makan, tanpa sengaja mereka bertemu teman lama mereka, siapa lagi kalau bukan Zweitson, ia sedang bersama tunangannya. Alhamdulillah ya, udah punya pasangan.
"Apa kabar?"
"Baik, oh ya nih, tadinya habis ini mau kerumah lo, tapi ketemu disini," jelas Zweitson sambil menyerahkan dua buah undangan.
"Sama Fenly?" Zweitson mengangguk.
"Semoga langgeng ya, Son," ucap Raya.
"Aminnn, makasih, Ray," Raya tersenyum sambil mengangguk.
Raya bersyukur bisa bertemu orang-orang seperti mereka. Sejak kecil, berbagai cobaan ia hadapi. Dari sikap kakak pertama nya, kenyataan pahit kalau ia memang anak pembawa sial, penyerangan dirumahnya disertai kasus penembakan Fenly, terakhir ia dijodohkan disaat mentalnya baru saja pulih dan sikap Fajri yang membuat mentalnya sedikit down. Tapi, tak lama sikap Fajri berubah 180 derajat, Fajri menjadi orang yang romantis dan amat menyayanginya, kebahagiaan kembali datang dengan kehadiran calon anak mereka, namun lagi-lagi harus kehilangan, namun sekarang ia amat bahagia, ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan, ia berharap apa yang ia dan suaminya alami tak terulang pada Arkan.
.
.
.
.
Bersambung....
Alhamdulillah akhirnya selesai juga cerita ini😇
Kenapa bersambung? Karena akan ada season kedua, kelucuan Arkan tentunya,
👤kapan up-nya?
Kapan-kapan, hehehe, tenang masih ada ekstra part kok, tunggu ya.
See you👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Badboy My Husband : End✅
FanfictionMenikah diusia muda bukanlah keinginan Fajri, apalagi melalui jalur perjodohan. Menjengkelkan memang. Namun, ia tak ada pilihan lain selain menerimanya. Tapi siapa sangka, gadis yang dijodohkan dengannya merupakan gadis yang dari dulu ia klaim sebag...
