Tinggal menghitung jam lagi status Raya akan berubah menjadi seorang istri. Ia harus mengabdikan hidupnya pada Fajri, suaminya nanti. Kalau boleh jujur, ia tak ingin menikah sekarang. Ia ingin menikmati masa lajang nya lebih lama.
Tapi ya sudah lah. Sebelum ia diciptakan, Tuhan sudah mengatur takdirnya sedemikian rupa. Dan ini yang digariskan untuknya, ini yang terbaik untuknya. Ia kembali menatap heina yang ada ditangannya.
"Liatin aja terus sampe gue lamar Han- " Raya menatap Fenly penuh selidik. Ia menunggu Fenly melanjutkan kalimatnya.
"Suka sama Hanum ya?"
"Ga, ma-maksud gue tuh..."
"Ngaku aja bang, Raya udah dapet info loh tentang Hanum,"
"Ga kok gue ga suka Hanum,"
"Hanum udah punya anak bang, tapi itu bukan anak kandungnya. Tenang dia masih perawan, usianya beda setahun sama Raya, tuaan Hanum daripada Raya,"
"Terus kenapa bisa ada anak itu?"
"Cari tau sendiri, cinta butuh perjuangan brother," Fenly terdiam. Benar juga, cinta itu membutuhkan perjuangan.
"Nih alamat rumahnya, dia tinggal sama ibunya," Raya memberikan secarik kertas kepada Fenly. Ia mendapatkan informasi ini dari Aban. Temannya itu memang bisa diandalkan.
"Eits, mau kemana?"
"Kesini," Fenly menunjukan kertas pemberian adiknya itu.
"Pulangnya bawa martabak manis,"
"Oke,"
*:..。o○ ○o。..:*
Sebuah rumah yang sederhana menjadi tempat tujuan Fenly. Ia membawa beberapa bingkisan berisi makanan. Langkah awal menjadi calon menantu yang baik.
"Permisi,"
"Siapa ya?" ucapan seorang wanita parubaya. Fenly mengerutkan keningnya, sepertinya ia tak asing dengan wanita di depannya.
"Sa-saya Fenly tante,"
"Feni? Kok laki-laki?"
"Fenly tante," dalam hatinya ia mengumpat.
"Ada perlu apa dan nak Fenly ini siapa?"
"Te-temennya Hanum tante,"
"Kalau gitu kamu tunggu diluar ya, ga enak sama tetangga," Fenly hanya tersenyum dan mengangguk. Beberapa saat kemudian datang seorang wanita yang lebih muda lagi, dia Hanum.
"Silahkan diminum,"
"Makasih,"
"Maaf kakak siapa ya?"
"Gua Fenly,"
"Yang waktu itu di resto mall ya? Ada apa kak?"
"Pengen kenal aja, oh iya ini buat kamu sama ibu kamu."
"Mama...Eh maaf," ucap seorang gadis kecil usianya sekitar 4 tahun yang membawa sebuah buku gambar.
"Hai cantik, bawa apa itu?" tanya Fenly basa basi.
"Ini gambar Anis sama Mama sama nenek," balas gadis itu.
"Anis yang gambar?" gadis tersebut mengangguk.
"Bagus gambar nya, sini deh om..., eh kok om, tua banget gua,"
"Kenapa om?"
"Jangan panggil om, kakak aja ya. Nih tadi kakak beliin susu buat kamu, pilih yang mana? Coklat, vanila, atau strawberry?"
"Ma?" Hanum tersenyum sebagai jawaban.
"Coklat kak,"
"Ya udah ambil semuanya buat nemenin gambar lagi,"
"Terima kasih ka..., kakak siapa?"
"Fenly,"
"Feni?"
"Fenly sayang,"
"Kakak ganteng aja. Makasih kak,"
*:..。o○ ○o。..:*
Pagi pun menyapa. Raya sudah siap dengan riasan nya, tinggal menunggu calon mempelai pria. Sedangkan Fenly dan Ricky mengawasi keadaan sekitar, ya jaga-jaga aja siapa tau musuh Rexsan dateng dan merusak acara penting ini.
"Rexsan punya musuh ga sih?"
"Punya lah, Dymasius, Luck Grey, Freckles, dan paling ngeselin, paling pengen gue habisin, Ganapati," ucap Fiki. Dia mengucapkan itu secara sadar.
"Dymasius ga usah dibahas lagi, btw berani lo sama Ganapati?" tanya Reno sambil menatap Fiki dan Fenly bergantian.
"Fenly doang mah kecil,"
"Yang lo sebut Ganapati bukan gua,"
"Hehehe, sabar Fen bercanda gua,"
"Fen, beberapa anak Ganapati udah gue sebar ke penjuru gedung dan sekitar. Keadaan masih aman," ucap Gilang melaporkan.
"Oke sip, awasin terus,"
"Kak ganteng!!" teriak seorang gadis yang digandeng oleh ibunya. Anak-anak yang sedang berkumpul merasa bingung, siapa yang gadis tersebut maksud?
"Hai Anis, selamat datang, Num,"
"Terima kasih kak,"
"Kak ganteng, ini acara nikahannya siapa? Kok Anis sama Mama diundang?"
"Acaranya adik kakak. Anis sama Mama Anis kan temen kakak, jadi ga masalah kalau ngundang kalian,"
"Oh gitu, boleh liat pengantin perempuan nya ga? Pasti cantik,"
"Gas Fen,"
"Pepet jangan sampe lepas,"
"Undangan selanjutnya akan keluar nih,"
"Bakal dapet ipar lagi kayaknya,"
Suara-suara menjengkelkan mulai bermunculan. Fenly tak menggubris nya, ia membawa Hanum dan Anis ke meja yang sudah disediakan.
"Ngebet banget adik lo, Rick,"
"Do'ain aja,"
Kakak ganteng ngebet banget 😅 diundang ga kalau nikahan?
Ya, sebagai tukang cuci piring ~ Fenly
Gue depak dari lapak ini mampusss lo
🙈🏃~ Fenly
Nb : Jangan jadi silent readers ya. Hargai penulis/author dengan memberi votmen dan jika tidak suka dengan alurnya bisa pergi, boleh memberi masukan asal tidak menghina, paham?
KAMU SEDANG MEMBACA
Badboy My Husband : End✅
FanfictionMenikah diusia muda bukanlah keinginan Fajri, apalagi melalui jalur perjodohan. Menjengkelkan memang. Namun, ia tak ada pilihan lain selain menerimanya. Tapi siapa sangka, gadis yang dijodohkan dengannya merupakan gadis yang dari dulu ia klaim sebag...
